Surabaya, mediaperkebunan.id – Industri briket tempurung kelapa di Indonesia mengalami perkembangan pesat dalam lima tahun terakhir. Hal ini di sampaikan oleh Asep Jembar Mulyana, ketua Himpunan Pengusaha Briket Arang Kelapa Indonesia (HIPBAKI) dan CEO PT. TOM Cococha Indonesia, salah satu industri terkemuka di sektor ini.
Menurut Asep Jembar Mulyana, perkembangan industri briket tempurung kelapa sangat menggembirakan, bahkan lebih pesat di bandingkan produk turunan kelapa lainnya. “Pasar produk ini terus berkembang, terutama karena Indonesia adalah satu-satunya negara yang mampu memproduksi briket tempurung kelapa dengan abu berwarna putih, yang sangat di minati di pasar internasional,” jelasnya.
Indonesia saat ini menjadi produsen terbesar dan nomor satu di dunia untuk briket arang sisa, produk yang sangat diminati oleh konsumen di Timur Tengah serta mulai berkembang pesat di Eropa, Amerika, Rusia, dan negara-negara Latin. “Permintaan terus meningkat, bahkan saat pandemi COVID-19 ketika banyak industri lain mengalami penurunan,” tambah Asep.
Namun, industri ini juga menghadapi sejumlah tantangan. “Permasalahan utama adalah ketersediaan bahan baku yang semakin sulit di dapatkan dan harganya yang terus meningkat,” ungkap Asep. Selain itu, ekspor buah kelapa bulat beserta batoknya juga mengurangi ketersediaan bahan baku di dalam negeri.
Tantangan lainnya adalah logistik dan pelayaran. “Biaya pelayaran semakin mahal dan waktu pengiriman semakin lama, terutama karena antrian kontainer di pelabuhan Singapura dan Malaysia,” kata Asep. Ia berharap pemerintah dapat mempertimbangkan pelayaran langsung dari Indonesia ke negara tujuan untuk menghemat waktu dan biaya.
Meski begitu, industri ini terus berusaha meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat. “Saat ini, Indonesia merupakan produsen briket arang tempurung kelapa terbesar di dunia, mengungguli negara-negara lain dalam produk turunan kelapa,” tegas Asep.
Dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan, HIPBAKI juga menjalankan kampanye “Selamatkan Bumi dengan Briket Tempurung Kelapa” yang bertujuan mengurangi penggunaan briket arang dari kayu. “Briket tempurung kelapa adalah alternatif yang lebih ramah lingkungan dan kami terus mempromosikan penggunaannya di seluruh dunia,” kata Asep.
Asep juga mengapresiasi acara Cocotech yang di gagas oleh ICC setiap tahun. “Acara ini adalah kesempatan penting bagi para pelaku industri kelapa di dunia untuk berbagi informasi, program, ilmu, dan teknologi baru. Pembukaan acara oleh Presiden Jokowi menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengembalikan kejayaan industri kelapa,” tuturnya.
HIPBAKI sendiri terbentuk atas inisiatif dari pelaku industri briket arang kelapa di Indonesia. “HIPBAKI beranggotakan 21 industri besar dengan kapasitas produksi yang signifikan, dan bekerja sama dengan asosiasi PERPAKI untuk memajukan industri briket arang kelapa di Indonesia,” pungkas Asep Jembar Mulyana.
Dengan optimisme dan kerja sama, Asep yakin industri briket tempurung kelapa Indonesia akan terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional.

