2nd T-POMI
2024, 16 Februari
Share berita:

Jakarta, Mediaperkebunan.id

Berdasarkan Surat Persetujuan  Penyaluran Benih Kelapa Sawit (SP2BKS) , tahun 2023 benih kelapa sawit yang sudah disalurkan mencapai 170 juta butir kecambah. Berasal dari 19 produsen benih dengan kapasitas terpasang 240 juta ,  sudah bagus karena mencapai 70%. Gunawan, Direktur Perbenihan Perkebunan, Ditjen Perkebunan, menyatakan hal ini pada Media Perkebunan.

Peruntukannya adalah 34% untuk pekebun atau 57,8 juta, untuk riset 0,02% atau 340.000  , 15,6% untuk  penangkar (produsen pembesaran) atau 26,52 juta,  17,2% untuk peremajaan perusahaan perkebunan lahan milik sendiri 29,24 juta, 22% peremajaan inti atau 37,4 juta dan 1,5% untuk peremajaan plasma 2,55 juta.

“Dengan penyaluran sebesar itu maka bila harga kecambah Rp8000/butir saja nilainya sudah mencapai Rp15 triliun, bila Rp10.000 saja nilainya sudah Rp17 triliun. Bisnis kecambah sawit ini luar biasa besar,” kata Gunawan.

Jika dengan asumsi kebutuhan benih 140-150 butir/ha maka setara dengan perluasan atau peremajaan seluas 1 juta ha. Ini belum termasuk kecambah benih kelapa sawit yang diekspor sebanyak 16 juta butir.  

Ekspor kecambah benih kelapa sawit menandakan bahwa negara-negara pengimpor sudah mempersiapkan mengembangkan perkebunan kelapa sawit dan berpotensi menjadi negara produsen minyak sawit, yang ke depannya menjadi kompetitor bagi industri sawit Indonesia. Kalau tidak menjadi kompetitor minimal impor minyak sawit negara tersebut akan berkurang di masa mendatang. Ini juga harus menjadi perhatian industri sawit  Indonesia, sehingga perlu dipikirkan ekspansi pasar baru.

 Namun demikian, ke depan setidaknya perlu diupayakan agar pemasaran kecambah benih kelapa sawit, harus dibarengi dengan arah masuknya jaringan bisnis kelapa sawit nasional ke luar negeri, seperti akses pemasaran CPO, produk turunan, serta kepemilikan saham pada perusahaan di negara ketiga yang kurang mendapatkan hambatan dari negara Eropa.

Baca Juga:  Harga Sawit Sumut Melandai