7 December, 2016

Memang benar meski ekonomi nasional mengalami pelemahan tapi hal tersebut masih bisa diselamatkan oleh ekspor crude pal oil (CPO) dan turunannnya.

“Sebab dalam hal ini ada dua hal yang bisa menyelamatkan defisit Indonesia. Pertama yaitu mengurangi impor. Kedua meningkatkan ekspor,” jelas Joko Supriyono, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

Tapi, menurut Joko, untuk mengurangi sangatlah sulit. Sebab yang diimpor rata-rata adalah bahan pangan dan kebutuhan untuk menunjang pembangunan infrastruktur. Artinya jika mengurangi impor bahan pangan maka akan berpengaruh terhadap harga pangan didalam negeri.

Sedangkan cara kedua yaitu meningkatkan ekspor. Saat ini ekspor terbesar masih dikuasai oleh CPO dan turunannya. Bahkan nilai ekspor CPO dan turunannya telah melebihi ekspor minyak dan gas (migas).

“Artinya jika ada pembatasan terhadap ekspor CPO dan turunannya maka sama saja mengarahkan kepada defisit nasional. Sebab untuk meningkatkan ekspor CPO dan turunannya yaitu dengan meningkatkan produksinya,” terang Joko.

Lebih lanjut, Joko mengakui bahwa saat ini permintaan akan minyak nabati dunia terus meningkat. Maka jika Indonesia tidak dengan segera meningkatkan produksi minyak nabati, bukan tidak mungkin pasar minyak nabati Indonesia yang dihasilkan dari kelapa sawit akan diisi oleh negara lain.

“Kita tidak ingin nasib kelapa sawit sama seperti komoditas lainnya, seperti gula dan tembakau. Pernah menjadi produksi terbesar kemudian lambat laun tergeser hanya karena terhambat oleh beberapa peraturan,” jelas Joko.

Bahkan, Joko menerangkan, bahwa minyak nabati yang dihasilkan oleh kelapa sawit paling efisien jika dibandingkan dari minyak nabati dari komoditas lainnya. Sebabkelapa sawit hanya memanfaatkan 5 persen dari lahan. Kedelai 41,2 persen, rapeseed dan cottonseed sama-sama 12,7 persen. Sunflower dan Ground nuts, 9,8 dan 9,2 persen.

’’Kami hanya 5 persen dari 243,4 juta ha? Kenapa terus diributkan?’’ tutur Joko.

Artinya, Joko menjelaskan, bahwa belum lama ini minyak nabati dari soybean melakukan ekspansi seluas 3 juta ha di Amerika Latin. Rapeseed menambah luas lahan 4 juta ha. Rapeseed dan sunflower seed di Eropa terus dikembangkan.

“Pertanyannya mengapa kelapa sawit yang hanya ada di Indonesia dan Malaysia, sudah direcoki dari luar, masih ditambah regulasi yang dipersulit di dalam negeri,” risau Joko.

Melihat fakta-fakta ini, Joko menilai bahwa ada kepentingan asing didalam peraturan yang menghambat perkembangan kelapa sawit. Hal ini karena minyak nabati yang dihasilkan oleh kelapa sawit lebih efisien jika dibandingan dengan minyak nabati yang dihasilkan oleh komoditas lain.

Lalu dengan fakta ini apakah pemerintah masih setengah hati untuk mengatakan bahwa kelapa sawit adalah komoditas strategis. Sementara itu di negara luar, komoditas lain terus berkespansi untuk bisa memenuhi pasar.

“Artinya jika kita tidak meningkatkan produksi, maka bukan tidak mungkin pasar minyak nabati yang sudah ada akan diisi oleh komoditas lain. Sebab permintaan akan minyak nabati terus meningkat setiap tahunnya,” pungkas Joko. YIN

(Visited 66 times, 1 visits today)