Ibu Kota Nusantara (IKN) - Keberlangsungan usaha petani sawit swadaya nasional kini menghadapi tantangan global yang makin kompleks, mulai dari penerapan kebijakan B50 hingga ketatnya standar deforestasi Eropa (EUDR). Merespons hal tersebut, organisasi nirlaba global Solidaridad menekankan pentingnya pelibatan perempuan dan generasi muda sebagai strategi utama menjaga ketahanan ekonomi serta keberlanjutan 6,94 juta hektare kebun sawit rakyat di Indonesia.
Pesan mendesak ini disampaikan dalam International Oil Palm Smallholders (IOPS) Forum 2026 yang berlangsung pada 27–28 Agustus 2026 di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Country Manager Solidaridad Indonesia, Yeni Fitriyanti, menyatakan bahwa ketangguhan industri kelapa sawit sejatinya bermula dari tingkat rumah tangga petani. Saat ini, sebanyak 93% perkebunan rakyat dikelola oleh petani swadaya yang kerap rentan terhadap fluktuasi harga, krisis penuaan petani (aging smallholders), serta keterbatasan akses modal dan teknologi.
"Syarat ketat dari pasar global seperti ISPO dan EUDR memaksa kebun-kebun sawit rakyat untuk segera naik kelas. Di sinilah anak muda memiliki peran vital untuk membawa teknologi masuk ke kebun, seperti pemetaan digital dan inovasi bisnis desa," ujar Yeni Fitriyanti di IKN.
Yeni menambahkan bahwa perempuan memegang peran sentral dalam menjaga stabilitas finansial keluarga. Lewat kelompok simpan pinjam desa, kaum perempuan terbukti mampu menghindarkan keluarga petani dari beban bunga pinjaman lokal yang tinggi.
Menjawab krisis regenerasi petani, Solidaridad mendorong lahirnya Digital & Technology Champions dari kalangan muda. Anak-anak muda pedesaan didorong untuk memetakan poligon kebun berbasis GPS guna memenuhi keterlacakan produk (traceability) sesuai standar EUDR, sekaligus membangun ekosistem bisnis baru di pedesaan.
Langkah inklusif yang melibatkan perempuan dan pemuda terbukti memberikan dampak signifikan pada produktivitas dan kesejahteraan:
- Peningkatan Hasil Panen: Program pendampingan berbasis kesetaraan gender di Afrika Barat (Ghana) berhasil meningkatkan hasil panen sawit lebih dari 50%.
- Kenaikan Pendapatan: Pendapatan rata-rata petani tercatat melonjak hingga 22%.
- Kemandirian Finansial: Kelompok keuangan perempuan sukses memangkas ketergantungan pada peminjaman uang lokal berbiaya tinggi (bunga 15%–25%).
Sebagai penutup forum, dibentuk World Coalition of Oil Palm Smallholders (WCOPS). Melalui Joint Statement, WCOPS menegaskan bahwa keberlanjutan tidak boleh dijadikan alat untuk membebani petani kecil dengan biaya sertifikasi yang tinggi, melainkan harus memberikan pelindungan ekonomi yang adil.
Melalui partisipasi aktif di IOPS Forum 2026, Solidaridad berharap lahir regulasi global yang berpihak pada petani swadaya, menghapus praktik perdagangan tidak adil, serta mempercepat transisi Indonesia menuju Ekonomi Hijau yang inklusif.