Jakarta, mediaperkebunan.id - Permintaan kopra putih terutama dari Bangladesh dan Pakistan cukup besar. Kelapa yang dibutuhkan ukurannya lebih kecil dari kelapa standar yang biasa dijual di pasar. Kelapa ini juga sering ditolak pasar. Soeriadi, pengusaha kelapa menyatakan hal ini.
Salah satu bisnis Soeriadi adalah membeli kelapa dari petani dan diolah jadi kopra putih atau edible kopra. Kopra putih di Pakistan dan Bangladesh menurut pembeli dimakan langsung dan diolah jadi minyak kelapa. Harganya lebih tinggi dibanding kopra asalan.
Kopra putih dijemur dengan menggunakan green house atau dioven. “Sebenarnya ini peluang bagi petani. Mereka bisa menjemur kelapa dengan ditutup terpal untuk menghasilkan kopra putih. Selain memproduksi sendiri, saya juga menampung kopra putih dari petani binaan yang dibeli dengan harga wajar,” katanya.
“Masalahnya petani kekurangan modal untuk mengolah kelapanya. KUR seharusnya bisa menjadi sumber pembiayaan bagi petani. Perlu ada intervensi dari pemerintah supaya petani mampu mengolah kelapanya," kata Soeriadi.
Bagi Soeriadi, saat ini yang dibutuhkan pelaku usaha kelapa adalah regulasi harga seperti pada sawit. Harga kelapa bisa stabil sehingga memberi kepastian usaha baik bagi petani maupun industri. Saat ini penentuan harga ditentukan sepenuhnya oleh pasar, campur tangan pemerintah sama sekali tidak ada.
Harga kelapa sempat tinggi tahun lalu karena saat itu permintaan ekspor sangat tinggi sedang produksi agak turun. Sekarang harga tiba-tiba turun. Penyebabnya produksi meningkat tetapi permintaan ekspor menurun.
“Penuturan buyer kenapa sekarang permintaan menurun karena mereka kecewa dengan kualitas kelapa yang dikirim ketika harga sedang tinggi kemarin. Saat itu karena permintaan tinggi banyak kelapa yang belum waktunya dipanen ikut diekspor. Akibatnya di negara tujuan, terutama China, banyak yang tidak bisa diolah. Sekarang mereka beralih ke negara lain,” katanya.
Kelapa yang belum waktunya dipanen akan cepat busuk. Kelapa yang dipanen tepat pada waktunya akan bertahan 2 minggu bila disimpan dengan baik. Proses ekspor adalah pengumpulan untuk mencapai satu kontainer lebih dari seminggu. Ekspor sampai tiba di China dua minggu. Dengan kondisi demikian rata-rata kelapa yang rusak 10-20%. Ketika banyak kelapa yang dipanen sebelum waktunya jumlah yang rusak lebih banyak.
Dari negara-negara produsen kelapa utama dunia, hanya di Indonesa yang harga kelapanya dibiarkan ikut mekanisme pasar, tanpa intervensi negara. Ibaratnya kelapa ini tidak begitu diurus. Negara lain yaitu Filipina, Thailand, India dan Srilanka sangat serius mengurus kelapa, seperti Indonesia mengurus sawit.
Karena harga kelapa benar-benar mengikuti mekanisme pasar, Soeriadi sebagai eksportir, pengusaha kopra dan arang harus jeli dalam mengatur pembelian kelapa. “Ini petani kelapa menjerit karena harga Rp1.800/kg sedang saya di Gorontalo masih membeli dengan harga diatas Rp3000. Tidak ada regulasi nasional membuat harga di daerah berbeda-beda. Pembelian saya yang tergolong UMKM sama dengan pembelian perusahaan besar produsen CNO dan bayar tunai,” katanya.
Regulasi penentuan harga penting juga menjaga keseimbangan supply dan demand. Peremajaan dibutuhkan karena pohon sudah tua dan tinggi. Peremajaan sendiri terkendala harga benih yang mahal, meskipun sebenarnya mengambil buah dari pohon yang bagus dan dibenihkan sendiri terus tanaman yang produktif.
Pohon kelapa yang tinggi perlu pemanjat/pemanen. Saat ini profesi ini semakin langka karena anak muda tidak tertarik. Petani juga harus memastikan bahwa produksi buahnya banyak sebelum dipanen. “Saat ini upah pemanjat Rp10.000/pohon. Kalau produksi hanya 10 butir maka biaya panen Rp1000/butir, kalau 20 butir biaya panen Rp500/butir, semakin banyak biaya panen semakin rendah. Kedepan peremajan sebaiknya menggunakan kelapa genjah yang batangnya lebih pendek sebab tenaga pemanjat belum tentu ada,” katanya.