Jakarta, mediaperkebunan.id – Kelapa sawit bukan hanya komoditas strategis bagi perekonomian nasional, tetapi juga menjadi pilar penting dalam mewujudkan ekonomi hijau (green economy) yang berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan oleh Tungkot Sipayung, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) dalam sesi diskusi 2nd Indonesia Palm Oil Research and Innovation Conference (IPORICE) 2025.
Menurut Tungkot, konsep ekonomi hijau dan keberlanjutan memiliki perbedaan tipis namun keduanya saling melengkapi. Dalam praktiknya, produksi perkebunan sawit tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi tetapi juga pada kelestarian lingkungan.
“Paradigma baru green economy sebenarnya lahir dari sektor pertanian termasuk perkebunan. Sawit yang kita kenal hari ini bukan hanya soal minyak, tetapi juga biomass dengan produktivitas mencapai 16 ton per hektare per tahun. Selama ini kita baru memanfaatkan minyaknya saja dan itu sudah menjadikan Indonesia sebagai raja sawit dunia. Bayangkan jika biomass ini kita kelola optimal,” jelasnya.
Sejak 1980-an FAO telah memperkenalkan konsep multifunctionality dalam sawit. Artinya sawit tidak hanya memberikan manfaat ekonomi tetapi juga mencakup aspek sosial, lingkungan, dan keanekaragaman hayati.
Dari sisi sosial, perkebunan sawit telah menciptakan jutaan lapangan kerja baik di tingkat nasional maupun internasional. Kehadiran sawit juga terbukti menurunkan tingkat kemiskinan di daerah sentra produksi dan membentuk pusat-pusat pertumbuhan baru di pedesaan.
Sementara dari aspek lingkungan sawit justru memiliki kemampuan penyerapan karbon dioksida lebih baik dibanding hutan serta tingkat kehilangan biodiversitas yang lebih rendah dibandingkan minyak nabati lain.
Tungkot menegaskan, tantangan ke depan adalah memperbesar peran sawit dalam ekonomi hijau melalui inovasi dan teknologi. Penurunan emisi, peningkatan produktivitas, serta model ekspansi yang lebih ramah lingkungan menjadi kunci.
“Ke depan ekspansi sawit masih ada tetapi tidak dengan cara lama. Kita menambah sawit sekaligus menambah hutan melalui konsep reforestasi. Inilah wajah baru green economy Indonesia,” ujarnya.
Selain itu, hilirisasi juga menjadi langkah strategis dalam memperluas peran sawit. Substitusi energi fosil dan material berbasis sawit dinilai dapat menjadi motor penggerak baru bagi green economy lintas sektor.
Dengan potensi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang dimiliki, Tungkot optimistis kelapa sawit akan terus menjadi komoditas unggulan sekaligus solusi global dalam transisi menuju ekonomi hijau.
“Tugas kita ke depan adalah memperkuat green economy berbasis sawit agar manfaatnya tidak hanya dirasakan Indonesia, tetapi juga dunia,” pungkasnya.