Mengubah Keterbatasan Menjadi Produktivitas: Kisah Sukses Peremajaan Sungai Bahaur Estate (SBHE), Regional 4 BGA Group Kalimantan Tengah

Mengubah Keterbatasan Menjadi Produktivitas: Kisah Sukses Peremajaan Sungai Bahaur Estate (SBHE), Regional 4 BGA Group Kalimantan Tengah

Kalimantan Tengah, mediaperkebunan.id - Di hamparan yang secara agronomis tergolong lahan marginal, kebun peremajaan Sungai Bahaur Estate (SBHE) mencatat panen perdana yang jauh melampaui target.

Berlokasi di Desa Selucing, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, SBHE sebagai salah satu kebun di Regional 4 milik Bumitama Gunajaya Agro (BGA Group) mengelola hampir 4.000 hektar yang terbagi dalam enam divisi, terdiri atas kebun inti dan kebun plasma milik masyarakat.

Yang membedakan SBHE adalah karakteristik lahannya. Sebagian besar arealnya berdiri di atas tanah Dystrudepth, jenis tanah yang dalam klasifikasi agronomi tergolong sebagai lahan marginal. Karakteristik tersebut membuat lahan membutuhkan pengelolaan yang lebih intensif agar mampu menghasilkan produktivitas optimal. Di banyak tempat, lahan seperti ini kerap dianggap sebagai batas kemampuan tanaman sawit. Di SBHE, ia justru menjadi titik awal sebuah pembuktian.

Ketika Peremajaan Menjadi Keharusan

Seperti tanaman perkebunan pada umumnya, kelapa sawit memiliki siklus produktivitas yang perlu diperbaharui ketika memasuki usia tertentu. Setelah berusia lebih dari dua dekade, tanaman di SBHE mulai menunjukkan tanda-tanda yang tak lagi bisa diabaikan: produktivitas yang terus menurun, dan pohon yang menjulang hingga belasan meter. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa peremajaan perlu dilakukan untuk menjaga produktivitas kebun dalam jangka panjang.

Atas dasar tersebut, SBHE mulai menjalankan program peremajaan (replanting) secara bertahap sejak 2022. Peremajaan merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan waktu sebelum tanaman kembali secara optimal. Hingga 2026, program tersebut telah mencakup ribuan hektar areal, termasuk puluhan blok yang diselesaikan sepanjang tahun ini di beberapa divisi.

Yang menarik, semangat ini tidak berhenti di kebun inti. Melalui kemitraan dengan koperasi, kebun plasma juga menjalani program peremajaan, dimana sebagian didukung melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Peremajaan di SBHE, dengan demikian, bukan hanya urusan korporasi, ia adalah kerja bersama yang menautkan perusahaan dan pekebun dalam satu tujuan kesejahteraan.

Budidaya Tepat, Konservasi Kuat

Produktivitas di lahan marginal tidak diperoleh secara instan. Di SBHE, capaian tersebut dibangun melalui penerapan praktik budidaya yang konsisten sejak tahap persiapan lahan hingga tanaman memasuki masa menghasilkan. Bagi Perusahaan, peremajaan bukan sekedar mengganti tanaman tua, tetapi membangun kembali fondasi produktivitas kebun untuk satu siklus tanam berikutnya.

Sejak tahap persiapan lahan, konservasi tanah dan air menjadi bagian penting dalam proses peremajaan. Biomassa tanaman lama tidak dibuang begitu saja, melainkan dikembalikan ke lahan sebagai sumber bahan organik untuk membantu memperbaiki struktur tanah serta meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air. Di atas fondasi tersebut, SBHE menanam varietas unggul berpotensi tinggi, yang dipelihara sesuai fase pertumbuhan tanaman, mulai dari Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) hingga memasuki Tanaman Menghasilkan (TM).

SBHE memadukan pemupukan anorganik dan bahan organik secara berimbang, serta menjaga keberadaan serangga penyerbuk alami sebagai bagian dari pengelolaan ekosistem kebun. Rangkaian praktik budidaya tersebut diterapkan secara konsisten sejak tahap persiapan lahan hingga tanaman memasuki masa menghasilkan.

"Keberhasilan peremajaan bukan diukur dari seberapa cepat tanaman kembali menghasilkan, melainkan dari kemampuan membangun produktivitas yang berkelanjutan sejak hari pertama tanaman ditanam," ujar Ponsius Wiro, Estate Manager SBHE

Hasil yang Melampaui HarapanJanjang buah pada tanaman fase TM 2 — vitalitas kebun peremajaan di lahan marginal

Kerja keras itu berbuah manis dan angkanya berbicara. Pada fase panen awal (scout harvesting), SBHE menargetkan produksi di atas 9 ton per hektar. Realisasinya menembus 12,71 ton per hektar, lebih dari empat puluh persen di atas sasaran. Momentum itu berlanjut ketika tanaman memasuki fase Tanaman Menghasilkan pertama (TM 1). Dengan target di atas 18 ton per hektar, SBHE membukukan 24,68 ton per hektar, sekitar sepertiga lebih tinggi dari yang diharapkan.

Capaian ini terasa semakin bermakna mengingat sebagian besar areal SBHE berada di atas tanah Dystrudepts yang tergolong lahan marginal. Hasil ini menunjukkan bahwa melalui peremajaan yang terencana, praktik agronomi yang konsisten, serta pengelolaan kebun yang berkelanjutan, lahan marginal tetap mampu menghasilkan produktivitas yang kompetitif.

Lebih dari Sekadar AngkaKunjungan ke Koperasi Istana Pawan Mandiri—peremajaan yang tumbuh berdampingan dengan pekebun rakyat

Keberhasilan SBHE menyimpan pelajaran yang melampaui deretan angka produksi. Ia menunjukkan bahwa peremajaan yang direncanakan dengan matang mampu meremajakan tiga hal sekaligus: produktivitas kebun, keselamatan pekerja, dan keberlanjutan lahan. Tanaman muda yang lebih pendek jauh lebih aman dan mudah dipanen; tanah yang dirawat dengan prinsip konservasi menjadi warisan yang lestari bagi generasi berikutnya.

Yang tak kalah penting, model ini tumbuh berdampingan dengan masyarakat. Melalui koperasi-koperasi plasma yang turut diremajakan, kemakmuran tidak berhenti di gerbang kebun inti, tetapi mengalir hingga ke pekebun rakyat di sekitarnya.

Kisah Sungai Bahaur Estate adalah pengingat yang menyegarkan bagi industri sawit: bahwa dengan strategi budidaya yang terpadu, komitmen pada konservasi, dan konsistensi di lapangan, keterbatasan lahan dapat diubah menjadi keunggulan yang nyata. Di lahan yang dulu dianggap "sekadar cukup", kini tumbuh harapan yang jauh lebih besar.