Ir. Edward Silalahi, MM: POME Jadi Sumber Bioenergi Potensial, Indonesia Hadapi Tantangan Pengembangan Instalasi Biogas

Ir. Edward Silalahi, MM: POME Jadi Sumber Bioenergi Potensial, Indonesia Hadapi Tantangan Pengembangan Instalasi Biogas

Jakarta, mediaperkebunan.id – Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan bioenergi dari Palm Oil Mill Effluent (POME) atau limbah cair pabrik kelapa sawit. Dengan volume produksi yang diperkirakan mencapai hampir 100 juta ton per tahun, POME menjadi salah satu sumber bahan baku energi terbarukan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Konversinya menjadi biogas tidak hanya berpotensi menghasilkan energi listrik dan panas, tetapi juga membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dari industri kelapa sawit.

Potensi dan tantangan tersebut dipaparkan Dewan Pakar Media Perkebunan & Praktisi P3PI, Ir. Edward Silalahi, MM, melalui materi berjudul “Potentials and Challenges in Converting Palm Oil Mill Effluent (POME) into Sustainable Bioenergy” dalam acara Biomass, Biochar, Biogas & SAF Asia Summit 2026, Kamis (29/10/2026).

Edward yang telah berkecimpung dalam teknologi biogas sejak 2012 menjelaskan bahwa Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan kontribusi sekitar 61% terhadap produksi Crude Palm Oil (CPO) global. Berdasarkan data yang disampaikan dalam presentasinya, luas perkebunan kelapa sawit Indonesia mencapai sekitar 16,4 juta hektare, dengan produksi minyak sawit sebesar 47,1 juta ton. Aktivitas pengolahan tersebut menghasilkan aliran limbah cair dalam jumlah besar yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi.

“POME merupakan salah satu aliran limbah terbesar dari industri kelapa sawit sekaligus sumber energi yang masih belum banyak dimanfaatkan. Sebagian besar potensi energi tersebut masih terlepas ke atmosfer dalam bentuk gas metana apabila tidak ditangkap,” jelas Edward.

Dalam presentasinya, ia menyebutkan bahwa sekitar 32 dari lebih 1.200 PKS di Indonesia telah memanfaatkan biogas secara langsung berdasarkan data 2025. Angka tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan biogas dari POME masih memiliki ruang pengembangan yang luas.

POME, Limbah Cair dengan Potensi Energi Besar

Edward menjelaskan bahwa POME merupakan gabungan aliran limbah cair dari beberapa tahapan pengolahan kelapa sawit, bukan hanya berasal dari satu titik proses. Dalam proses pengolahan TBS menjadi CPO, terdapat enam tahapan utama, yaitu fruit reception, sterilisation, threshing, digestion and pressing, clarification, serta kernel recovery.

POME terbentuk dari beberapa aliran, antara lain kondensat proses sterilisasi, lumpur dan air pencucian dari proses klarifikasi, serta air limbah dari hydrocyclone. Dari setiap ton TBS yang diolah, PKS umumnya menghasilkan sekitar 0,5–0,7 meter kubik POME. Sementara itu, berdasarkan salah satu basis perhitungan yang banyak digunakan, jumlahnya mencapai sekitar 2,5 ton POME untuk setiap ton CPO.

Besarnya volume POME tersebut menjadikannya aliran produk samping yang memiliki potensi energi belum tergarap. Berbeda dengan tandan kosong, serat mesokarp, dan cangkang yang telah banyak dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler atau pembenah tanah, POME masih menyimpan kandungan bahan organik yang dapat dikonversi menjadi metana.

Dari sisi karakteristik, POME memiliki tingkat keasaman dengan pH sekitar 3,5–6, kandungan air 93–95%, total padatan 3–4%, serta kandungan minyak dan lemak sekitar 0,5–2%. Kandungan bahan organiknya juga tinggi, tercermin dari nilai Biochemical Oxygen Demand (BOD) sekitar 20.000–60.000 mg/L dan Chemical Oxygen Demand (COD) sekitar 40.000–120.000 mg/L.

Menurut Edward, karakteristik POME tidak selalu sama antara satu PKS dengan PKS lainnya. Kualitas dan musim panen TBS, desain proses pengolahan, efisiensi klarifikasi, penggunaan air, hingga jenis decanter dapat memengaruhi volume dan kandungan organik limbah cair. Bahkan, perubahan parameter COD, BOD, dan total padatan dapat terjadi dalam operasional harian.

Kandungan organik yang tinggi membuat POME sangat potensial untuk pengolahan anaerobik. Namun, apabila dibuang tanpa pengolahan yang memadai, limbah ini dapat menimbulkan sejumlah dampak lingkungan, seperti penurunan kadar oksigen di badan air, eutrofikasi, pengasaman perairan, dan pelepasan gas rumah kaca dari kolam pengolahan terbuka.

Edward menekankan bahwa pengolahan POME seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kewajiban pengelolaan lingkungan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memulihkan energi yang terkandung di dalamnya.

Teknologi Anaerobik Mengubah POME Menjadi Biogas

Konversi POME menjadi biogas dilakukan melalui proses pencernaan anaerobik, yaitu penguraian bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi tanpa oksigen. Proses ini berlangsung melalui empat tahapan biologis.

Tahap pertama adalah hidrolisis (hydrolysis), ketika lemak, serat, dan protein diuraikan menjadi senyawa yang lebih sederhana. Tahap kedua, asidogenesis (acidogenesis), mengubah gula dan asam amino menjadi asam lemak volatil. Selanjutnya, pada tahap asetogenesis (acetogenesis), asam lemak dikonversi menjadi asetat, hidrogen, dan karbon dioksida. Tahap terakhir adalah metanogenesis (methanogenesis), ketika mikroorganisme kelompok Archaea mengubah asetat serta hidrogen dan karbon dioksida menjadi metana.

Keberhasilan proses tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor operasional, antara lain waktu tinggal hidraulik, tingkat pembebanan bahan organik, temperatur, dan pH. Pengendalian kondisi proses diperlukan agar pembentukan metana berlangsung stabil.

Dalam materi presentasinya, Edward menjelaskan bahwa satu meter kubik POME secara klasik dapat menghasilkan sekitar 28 meter kubik biogas dengan kandungan metana sekitar 65%. Sementara itu, data dari salah satu pabrik di Malaysia menunjukkan hasil hingga 34 Nm³ biogas per meter kubik POME dengan kandungan metana sekitar 54,4%. Angka produksi biogas tersebut dapat berbeda bergantung pada karakteristik bahan baku dan kondisi pengoperasian digester.

Sebagai gambaran potensi energi, setiap meter kubik biogas dapat menghasilkan sekitar 1,8 kWh listrik. Edward memberikan ilustrasi perhitungan untuk PKS berkapasitas 60 ton TBS per jam. Dengan asumsi produksi POME sebesar 0,7 meter kubik per ton TBS, pabrik tersebut menghasilkan sekitar 42 meter kubik POME per jam. Jika menggunakan faktor produksi 28 meter kubik biogas per meter kubik POME, potensi biogasnya mencapai sekitar 1.180 meter kubik per jam atau setara dengan kapasitas listrik bruto sekitar 2,1 MW.

Perhitungan tersebut merupakan ilustrasi potensi dengan asumsi operasi kontinu dan seluruh biogas dapat ditangkap. Produksi listrik bersih pada kondisi nyata dapat lebih rendah karena adanya kebutuhan energi untuk operasional instalasi.

Untuk mengolah POME, tersedia beberapa pilihan teknologi reaktor anaerobik. Teknologi Covered Lagoon memanfaatkan kolam anaerobik yang ditutup untuk menangkap gas. Sistem ini relatif matang, dapat memanfaatkan infrastruktur kolam yang sudah tersedia, dan mampu menangani bahan baku dengan kandungan padatan serta fluktuasi tertentu. Namun, teknologi ini membutuhkan lahan luas dan waktu tinggal yang relatif panjang.

Pilihan lainnya adalah Continuous Stirred-Tank Reactor (CSTR), yaitu reaktor tangki dengan sistem pengadukan. Teknologi ini menawarkan pencampuran yang lebih baik dan pengendalian proses yang lebih terukur, tetapi membutuhkan energi untuk pengadukan dan pemanasan serta biaya investasi yang lebih tinggi dibandingkan modifikasi kolam yang sudah ada.

Edward juga menjelaskan teknologi Upflow Anaerobic Sludge Blanket (UASB) dan Expanded Granular Sludge Bed (EGSB) yang memiliki ukuran reaktor lebih kompak dan mampu menangani pembebanan organik tinggi. Namun, keduanya lebih sensitif terhadap kandungan padatan dan minyak dalam bahan baku. Selain itu, terdapat teknologi hibrida dan Anaerobic Membrane Bioreactor (AnMBR) yang menawarkan peningkatan kinerja pengolahan, tetapi masih menghadapi tantangan biaya dan pembuktian keekonomian pada skala pabrik.

Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil biogas adalah mengurangi kandungan minyak atau melakukan de-oiling sebelum proses anaerobik. Pemisahan minyak dapat meningkatkan hasil metana sekaligus mengurangi risiko gangguan pada reaktor. Dalam studi yang dipaparkan, penghilangan minyak dan serat yang sulit terurai mampu meningkatkan hasil metana sekitar 20–40% pada beberapa sistem pengujian.

Empat Jalur Pemanfaatan Biogas

Biogas mentah dari POME umumnya mengandung sekitar 55–65% metana, disertai karbon dioksida, hidrogen sulfida (H₂S), dan kelembapan. Agar dapat dimanfaatkan secara optimal, biogas perlu melalui proses clean-up, terutama untuk mengurangi kandungan H₂S dan menghilangkan kelembapan serta kondensat.

Edward memaparkan empat jalur pemanfaatan biogas, yaitu sebagai bahan bakar boiler atau sumber panas, pembangkit listrik menggunakan gas engine, sistem gabungan panas dan listrik atau combined heat and power (CHP), serta pemurnian menjadi biometana.

Pertama, biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar boiler untuk menghasilkan uap atau udara panas yang dibutuhkan dalam operasional pabrik maupun proses pengeringan. Pemanfaatan ini dapat menggantikan sebagian kebutuhan bahan bakar konvensional, termasuk cangkang sawit.

Kedua, biogas dapat digunakan untuk menggerakkan generator melalui gas engine sehingga menghasilkan listrik. Listrik tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan internal PKS atau disalurkan ke jaringan apabila tersedia koneksi dan skema penjualan yang memungkinkan. Bagi pabrik di wilayah terpencil, pemanfaatan listrik juga berpotensi memenuhi kebutuhan energi di sekitar lokasi dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar diesel.

Ketiga, sistem CHP menggabungkan produksi listrik dan pemanfaatan panas buangan dari mesin. Dengan demikian, energi yang dihasilkan dari biogas dapat dimanfaatkan secara lebih menyeluruh.

Keempat, biogas dapat dimurnikan menjadi biometana untuk digunakan sebagai Bio-CNG atau gas dengan kualitas yang sesuai untuk kebutuhan jaringan pipa. Teknologi pemurnian menggunakan membran maupun metode kriogenik dapat meningkatkan konsentrasi metana hingga lebih dari 90%.

Namun, pemanfaatan biometana masih menghadapi sejumlah hambatan, seperti belum tersedianya standar teknis yang memadai, kebutuhan investasi yang lebih tinggi, serta persaingan dengan gas alam yang memperoleh subsidi. Karena itu, pemilihan jalur pemanfaatan perlu mempertimbangkan kebutuhan energi dan kepastian pembeli atau offtaker.

Selain biogas, hasil pengolahan POME juga menghasilkan digestate dan limbah cair terolah yang masih mengandung nutrisi. Keduanya berpotensi dimanfaatkan kembali dalam kegiatan perkebunan melalui aplikasi lahan, dengan tetap memenuhi ketentuan lingkungan dan pemantauan yang diperlukan. Pemanfaatan ini dapat mendukung daur ulang nutrisi dan membantu mengurangi kebutuhan pupuk.

Peluang Pengurangan Emisi dan Nilai Tambah Ekonomi

Dari sisi lingkungan, penangkapan metana menjadi salah satu manfaat utama pengembangan biogas POME. Berdasarkan materi yang disampaikan Edward, metana memiliki potensi pemanasan global sekitar 28–36 kali dibandingkan CO₂ dalam rentang waktu 100 tahun.

Pada sistem kolam terbuka, gas metana dapat terlepas ke atmosfer. Sebaliknya, melalui penangkapan dan pemanfaatan biogas untuk panas maupun listrik, emisi gas rumah kaca dari pengolahan POME berpotensi berkurang hingga 80% dibandingkan sistem kolam konvensional, berdasarkan estimasi dalam kajian yang dipaparkan.

Dari sisi ekonomi, proyek biogas dapat menghasilkan manfaat melalui beberapa jalur sekaligus, yaitu penghematan bahan bakar, pemanfaatan atau penjualan listrik, nilai karbon dari pengurangan emisi, serta pemanfaatan kembali nutrisi dari hasil pengolahan limbah.

Edward juga menyoroti perkembangan kebijakan yang dapat mendukung pemanfaatan energi terbarukan. Dalam presentasinya, ia menyebut Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022 yang mengatur harga pembelian tenaga listrik dari energi terbarukan oleh PLN, termasuk biogas. Selain itu, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 mencantumkan tambahan kapasitas bioenergi sebesar 0,9 GW.

Tekanan pasar terhadap produk yang lebih berkelanjutan, termasuk tuntutan pengurangan emisi dan ketertelusuran rantai pasok, juga dapat menjadi pendorong bagi perusahaan untuk mengembangkan pemanfaatan biogas.

Investasi, Ketersediaan Bahan Baku, dan Kebijakan Jadi Tantangan

Dalam wawancara bersama Media Perkebunan di sela-sela acara, Edward menjelaskan bahwa meskipun potensi POME sangat besar, pengembangan instalasi biogas masih menghadapi tantangan keekonomian. Salah satunya adalah besarnya biaya investasi awal atau capital expenditure (CAPEX).

“Pembangunan instalasi biogas membutuhkan investasi yang relatif besar. Sementara itu, bisnis utama perusahaan kelapa sawit adalah mengolah TBS menjadi CPO. Energi terbarukan belum tentu menjadi fokus utama kegiatan komersial perusahaan,” ungkapnya.

Menurut Edward, skala pabrik menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kelayakan investasi. Dalam materi presentasinya, ia mencontohkan kebutuhan pasokan sekitar 180.000 meter kubik POME per tahun untuk ukuran instalasi biogas tertentu. Pasokan dari PKS berkapasitas 30 ton TBS per jam, dengan asumsi produksi 0,75 meter kubik POME per ton TBS, masih belum mencukupi kebutuhan tersebut.

Karena itu, pembangunan instalasi perlu disesuaikan dengan volume POME yang benar-benar tersedia. Untuk PKS berkapasitas lebih kecil, salah satu alternatif yang dapat dikaji adalah pengembangan klaster atau pusat pengolahan bersama (shared hubs) dengan menggabungkan pasokan POME dari beberapa pabrik.

Tantangan lainnya adalah lokasi PKS yang umumnya berada di daerah terpencil. Kondisi ini dapat meningkatkan kebutuhan investasi infrastruktur, terutama apabila biogas akan dimanfaatkan untuk pembangkitan listrik dan disalurkan ke jaringan. Keterbatasan kapasitas jaringan listrik, kuota ekspor listrik, serta ketidakpastian tarif juga dapat memengaruhi minat investor.

Dari sisi teknis, kualitas bahan baku yang berubah-ubah dapat menyebabkan proses pencernaan anaerobik tidak stabil. Penumpukan asam lemak volatil dan perubahan pH dapat menghambat aktivitas mikroorganisme penghasil metana. Kandungan minyak dan padatan juga berpotensi menimbulkan masalah seperti pembentukan scum, penyumbatan, serta gangguan pada reaktor. Sementara itu, kandungan H₂S yang berubah-ubah membutuhkan pengendalian agar tidak merusak mesin dan peralatan.

Edward juga menyoroti belum meratanya pengetahuan dan pengalaman industri dalam mengelola teknologi penangkapan metana. Kompleksitas perizinan, keterbatasan akses jaringan listrik, serta belum tersedianya standar teknis biometana turut menjadi tantangan pengembangan proyek.

Dalam wawancara tersebut, ia menambahkan bahwa dukungan kebijakan pemerintah diperlukan agar biogas dapat bersaing dengan sumber energi lain.

“Gas alam sudah mendapatkan subsidi dari pemerintah, sementara biogas belum memperoleh dukungan serupa. Agar pemanfaatan biogas lebih menarik bagi perusahaan, diperlukan dukungan regulasi dan kebijakan, baik berupa subsidi harga maupun insentif untuk pengurangan emisi karbon,” ujarnya.

Pengembangan Biogas Perlu Dimulai dari Data dan Kepastian Pemanfaatan

Sebagai langkah pengembangan, Edward menyarankan perusahaan memulai perencanaan proyek dengan mengukur volume POME yang dihasilkan, menguji kandungan COD dan minyak, serta mengidentifikasi perubahan kualitas bahan baku berdasarkan musim dan kondisi operasional pabrik.

Selanjutnya, perusahaan perlu membandingkan pilihan teknologi berdasarkan karakteristik POME dan kondisi lokasi. Pilihan antara modifikasi Covered Lagoon, penggunaan CSTR, maupun reaktor berkapasitas tinggi perlu mempertimbangkan kebutuhan lahan, kualitas bahan baku, biaya investasi, dan kemampuan operasional.

Penentuan jalur pemanfaatan juga harus dilakukan sejak awal. Perusahaan perlu memastikan apakah biogas akan digunakan untuk bahan bakar boiler, pembangkitan listrik, CHP, atau diolah menjadi biometana. Kepastian kebutuhan energi dan pembeli menjadi faktor penting dalam menyusun perhitungan keekonomian.

Selain itu, operasional instalasi harus didukung pemantauan kualitas gas, pengendalian H₂S, pengelolaan lumpur dan scum, serta pengendalian parameter proses seperti pH dan asam lemak volatil. Penggunaan sensor, pemodelan digital, dan teknologi pemantauan juga dapat membantu menjaga stabilitas produksi biogas.

“Keputusan investasi perlu didasarkan pada data aktual pabrik. Volume POME, kualitas limbah, pilihan teknologi, hingga kepastian pemanfaatan gas harus dihitung sejak awal agar proyek yang dibangun benar-benar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pabrik,” jelas Edward.

Edward menegaskan bahwa POME merupakan sumber daya yang memiliki nilai energi, lingkungan, dan ekonomi bagi industri kelapa sawit. Pemanfaatannya dapat memberikan manfaat lebih luas apabila perusahaan mampu mengintegrasikan pengolahan limbah, pemulihan energi, pengurangan emisi, serta pemanfaatan kembali nutrisi.

Dengan volume POME yang besar dan jumlah instalasi penangkap biogas yang masih terbatas, Indonesia memiliki peluang untuk mempercepat pengembangan bioenergi berbasis limbah kelapa sawit. Namun, realisasi peluang tersebut membutuhkan perencanaan berbasis data, teknologi yang sesuai, kepastian pasar, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta dukungan kebijakan yang mendorong investasi energi terbarukan.