Hari Perkebunan : Pemberi Kontribusi Terbesar PDB dan Ekspor Pertanian

Hari Perkebunan : Pemberi Kontribusi Terbesar PDB dan Ekspor Pertanian

Jakarta, mediaperkebunan.id – PDB sampai triwulan II 2025 Rp11.612,9 triliun , kontribusi Pertanian, Peternakan, Perburuan dan Jasa Pertanian 10,31% atau Rp1.195,7 triliun, kontribusi perkebunan Rp513,9 triliun atau 42,91%. Hadi Dafenta, Ketua Kelompok Kerja Hukum, Perizinan dan Humas Sekretariat Ditjenbun menyatakan hal ini dalam webinar Perkebunan dari Masa ke Masa, Merawat Warisan, Menjawab Tantangan, Meraih Kejayaan, memperingati Hari Perkebunan yang diadakan Dinas Perkebunan Jawa Barat.

Nilai ekspor sampai September 2025 Rp3.442,8 trilliun , 16,38% berasal dari sektor pertanian yaitu Rp563,8 triliun. Ekspor pertanian 94,25% kontribusi dari perkebunan yaitu Rp531,4 triliun yang berasal dari kelapa sawit 65,42%, kakao 8,72%, karet 7,83%, kopi 5,79%, kelapa 5,74%, lainnya 6,43%. Ada 29 juta ha luas areal perkebunan dengan 24 juta KK pekebun.

Target produksi perkebunan tahun 2026 adalah kelapa sawit 243,2 juta ton TBS, kelapa 2,89 juta ton, sagu 413,3 ribu ton, kopi 786,1 ribu ton, kakao 633,2 ribu ton, jambu mete 161,9 ribu ton, karet 2,47 juta ton, teh 116,5 ribu ton, tebu 39,5juta ton, vanilla 1,5 ribu ton, lada 64,4 ribu ton, pala 41,5 ribu ton, cengkeh 133,7 ribu ton.

Kegiatan hilirisasi perkebunan adalah peningkatan produktivitas dan produksi (pasar domestik dan ekspor) melalui penyediaan benih perkebunan bermutu. Produksi benih dikerjasamakan dengan produsen benih. Pengembangan Kawasan yang bersumber dari benih yang dihasilkan (perluasan, peremajaan, rehabilitasi). Pemenuhan pasar dan bahan baku industri (nilai tambah) untuk pemenuhan pasar domestik, bahan baku industri dan peningkatan komoditas ekspor.

Saat ini konsentrasi Ditjenbun adalah pengembangan Kawasan tebu seluas 200.000 ha yang tahun ini target 100.453 ha dan tahun 2026 99.457 ha. Pengembangan Kawasan kakao seluas 248.500 ha, tahun ini 4.226 ha, 2026 175.500 ha , tahun 2027 68.457 ha.

Kawasan kelapa 221.890 ha , tahun ini 3.615 ha, 2026 154.000 ha, 2027 64.275 ha. Kawasan kopi 99.500 ha , tahun ini 13.500 ha, 2026 86.000 ha. Kawasan lada 6.000 ha , tahun ini 200 ha, tahun 2026 3.438 ha, tahun 2027 2.362 ha. Kawasan pala 45.000 ha, tahun ini 8.000 ha, tahun 2026 14.800 ha, tahun 2027 22.200 ha. Kawasan jambu mete 50.000 ha, tahun ini 1.800 ha, 2026 48.200 ha.

Tahun ini yang sedang berjalan di Jawa Barat tebu seluas 4.000 ha, masing-masing 1.000 ha di Cirebon, Indramayu, Majalengka, Subang. Kopi 2.095 ha di Kabupateb Bandung 615 ha, Bandung Barat 500 ha, Garut 580 ha, Subang 200 ha, Tasikmalaya 200 ha.

Rencana tahun 2026 tebu 6.200 ha, di Kabupaten Cirebon 1.700 ha, Indramayu 1.500 ha, Majalengka 1.500 ha, Subang 1.500 ha. Kelapa 3.500 ha di Kabupaten Pangandaran 1.500 ha dan Tasikmalaya 2.000 ha. Kopi 6.450 ha masing-masing di Kabupaten Bandung 950 ha, Bandung Barat 1.400 ha, Garut 900 ha, Subang 850 ha, Tasikmalaya 800 ha, Cianjur 700 ha, Sukabumi 850 ha. Tahun 2027 kelapa 2.000 ha masing-masing 1.000 ha di Pangandaran dan Tasikmalaya.

Pada peringatan hari perkebunan tahun ini, tantangan perkebunan masih disebabkan oleh adanya perubahan iklim dan lingkungan, sumber daya manusia, teknologi dan inovasi, akses pasar dan regulasi, pembiayaan dan infrastruktur. Walaupun banyak tantangan, peluangnya juga besar yaitu hilrisasi, komoditas strategis bernilai tinggi, keberlanjutan dan inovasi teknologi.

Kepala Dinas Perkebunan Jabar, Ganjar Yudniarsa dalam acara peringatan hari perkebunan ini menyatakan Jabar punya warisan perkebunan yang harus dijaga. Meskipun warisan colonial yaitu preanger stelsel menghasilkan kopi preanger yang terkenal, ada sisi kelamnya tetapi merupakan infrastruktrur dasar perkebunan Jabar selanjutnya. Teh di Puncak dan Kabupaten Bandung merupakan warisan yang harus dijaga, bukan dari sisi ekonomi saja tetapi ekologi.

Luas perkebunan baik perusahaan besar swasta dan PTPN semakin menurun. Sedang perkebunan rakyat semakin meningkat. Meraih kejayaan tidak sederhana, butuh inovasi dan kolaborasi. Tanah Jawa Barat diharapkan memberi kontribusi terbaik bagi Indonesia emas 2025 melaui perkebunan.