Field Trip 5th IPOSC 2025: Peserta Antusias Belajar Inovasi Perkebunan di Kebun Koperasi JUS

Field Trip 5th IPOSC 2025: Peserta Antusias Belajar Inovasi Perkebunan di Kebun Koperasi JUS

Kubu Raya, mediaperkebunan.id – Hari ketiga pelaksanaan 5th Indonesian Palm Oil Smallholders Conference & Expo (IPOSC) 2025 ditutup dengan agenda field trip ke kebun milik Koperasi Produsen Jaya Usaha Sempurna (JUS). Koperasi ini merupakan koperasi mandiri yang terbentuk dari kelompok petani sawit, yang sejak tahun 2021 mendapatkan dukungan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Dalam kesempatan ini, peserta field trip 5th IPOSC 2025 mendapat pengalaman langsung menyaksikan sejumlah demo teknologi modern perkebunan. Mulai dari penggunaan feromon agregasi Polimesh dari PT Bio Sarana Indonesia, performa ATV dari PT BRIC, hingga demonstrasi drone DJI Agras T50 dari Jalatani.

Demo pertama dilakukan di blok kebun TBM 1 dengan penjelasan dari Nelwan, PT Bio Sarana Indonesia mengenai penggunaan Polimesh. Produk ini merupakan feromon agregasi untuk meningkatkan aktivitas kumbang penyerbuk Elaeidobius kamerunicus.

Secara alami, bunga jantan kelapa sawit tidak bisa langsung menyerbuki bunga betina. Proses penyerbukan hanya terjadi jika ada “mak comblang” yaitu kumbang Elaeidobius kamerunicus. Namun, populasi kumbang ini cenderung menurun agresivitasnya karena hanya berkembang biak dengan sesamanya sehingga aktivitas penyerbukan menjadi kurang optimal.

Di sinilah feromon agregasi berperan. Produk ini mengandung aroma khas bunga jantan sawit yang dilepaskan secara perlahan sehingga mampu mengundang lebih banyak kumbang untuk berkumpul (efek agregasi). 

Dengan cara ini, tingkat kunjungan kumbang meningkat 15–60 kali lipat. Peluang terbentuknya fruit set bertambah minimal 30% dan pada akhirnya berdampak pada peningkatan bobot tandan panen hingga 2–3 kali lipat.

“Polimesh dipasang empat botol per hektar, dengan satu botol ditempatkan di bunga jantan dan tiga lainnya di bunga betina dalam radius sekitar 50 meter. Daya tahan satu botol bisa mencapai tiga bulan,” jelas Nelwan saat memperagakan cara pemasangan.

Masih di blok TBM 1, peserta kemudian menyaksikan demo ATV dari PT BRIC. Kendaraan ini didesain khusus untuk operasional kebun, dilengkapi dengan four wheel drive dan double power sehingga mampu membawa muatan berat baik di tanah gambut maupun tanah liat.

Kemudian rangkaian demo berlanjut ke blok TBM 3 dengan penjelasan dari Nico Gunawan, SPV Training & Demo Jalatani mengenai penggunaan drone DJI Agras T50. Drone ini memiliki kapasitas tangki 40 liter untuk cairan (pestisida, herbisida, atau pupuk cair) dan 50 kg untuk granul seperti pupuk padat. 

“Kalau manual, satu hektar bisa memakan waktu seharian. Dengan drone ini, hanya kurang lebih 7–10 menit,” ujar Nico.

Sebelum terbang, operator wajib memastikan area sekitar radius 3 meter benar-benar clear. Prosedur pengecekan ganda (double check) dilakukan untuk memastikan semua lengan (arm) terkunci. Jika ada yang belum terkunci, sistem remote akan memberi peringatan.

Operator dapat merancang jalur terbang langsung dari remote control, menyesuaikan dengan blok kebun yang akan diaplikasikan. Setelah jalur ditentukan, drone akan melakukan spraying atau spreading secara otomatis.

Dalam penutupan field trip 5th IPOSC 2025, Agus Sutrisno, Sekretaris Koperasi JUS menyampaikan terima kasih atas terselenggaranya IPOSC 2025. “Kami bersyukur bisa menjadi bagian dari kegiatan ini. Perjalanan kami mendirikan koperasi sejak 2018 penuh tantangan, namun dengan program PSR dari BPDP pada tahun 2021 kami bisa berkembang,” ungkap Agus.

Jang Bustami selaku Manager Koperasi JUS dalam penutupan menegaskan pentingnya komitmen yang kuat dalam membangun sebuah koperasi. “Selama 20 tahun di koperasi induk kami tidak mendapat sertifikat. Setelah mendirikan koperasi baru, kini 99% anggota sudah mengantongi 411 SHM. Ini adalah wujud komitmen kami untuk sukses bersama,” ujarnya.