Ekspor Kelapa Sawit Indonesia Naik 10,95%, Penyumbang Terbesar Surplus Perdagangan 2025

Ekspor Kelapa Sawit Indonesia Naik 10,95%, Penyumbang Terbesar Surplus Perdagangan 2025

Jakarta, mediaperkebunan – Ekspor kelapa sawit Indonesia terus memperlihatkan performa yang semakin solid sepanjang Januari hingga Juli 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor crude palm oil (CPO) beserta produk turunannya meningkat dari 12,29 juta ton menjadi 13,64 juta ton, atau naik 10,95 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan tersebut bukan hanya dari sisi volume, tetapi juga nilai ekspor kelapa sawit indonesia yang tumbuh 20,68 persen, dari US$864,07 juta pada Januari–Juli 2024 menjadi US$1,042,72 juta pada periode sama tahun 2025. Rata-rata harga unit value juga terkerek 32,92 persen, menunjukkan tingginya daya tarik komoditas sawit di pasar global.

Dilihat dari sektornya, industri pengolahan mencatatkan kinerja paling dominan dengan peningkatan ekspor sebesar 17,40 persen dibanding Januari–Juli 2024. Pendorong utama lonjakan tersebut adalah ekspor minyak kelapa sawit yang menjadi pilar utama industri pengolahan. Bahkan secara bulanan, ekspor industri pengolahan pada Juli 2025 naik 21,98 persen dibanding Juli 2024, dengan kontribusi terbesar berasal dari sawit.

Peranan sawit juga terlihat jelas dalam struktur ekspor unggulan. Komoditas lemak serta minyak hewani/nabati (HS 15), yang sebagian besar adalah kelapa sawit, mencapai nilai ekspor US$19,41 miliar sepanjang Januari–Juli 2025.

Nilai tersebut naik 37,76 persen dibanding periode yang sama pada 2024. Dari sisi pertumbuhan tahunan, HS 15 mencatatkan kenaikan tertinggi dibanding kelompok komoditas utama lain, melampaui besi baja, mesin listrik, dan nikel.

Peningkatan ekspor sawit juga menyumbang besar pada surplus perdagangan Indonesia. Sepanjang Januari–Juli 2025, BPS mencatat sektor nonmigas memberikan surplus sebesar US$34,06 miliar, dengan kelompok lemak dan minyak nabati sebagai penyumbang terbesar, lebih dari US$19,24 miliar. Surplus ini menjadi penopang utama di tengah masih adanya defisit pada sektor migas.

Harga sawit di pasar dunia pun menunjukkan tren positif. Pada Juli 2025, harga minyak sawit naik 4,23 persen secara bulanan (m-to-m) dan 8,80 persen secara tahunan (y-on-y). Kenaikan harga ini berlawanan dengan pelemahan harga sejumlah komoditas pertanian lain, sehingga memperlihatkan posisi sawit yang tetap stabil dan kuat menghadapi dinamika global.

Secara keseluruhan, kinerja ekspor sawit di 2025 menegaskan peranannya yang vital dalam mendukung perdagangan Indonesia. Pertumbuhan nilai dan volume ekspor, disertai kontribusi besar terhadap surplus perdagangan, membuktikan bahwa kelapa sawit masih menjadi komoditas strategis nasional.

Ke depan, tantangan utama ada pada menjaga keberlanjutan, memperluas pasar ekspor, serta memastikan komoditas ini tetap memiliki daya saing tinggi di tengah isu lingkungan dan perdagangan internasional.