Jakarta, mediaperkebunan.id – Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai pionir dalam pengembangan biodiesel berbasis sawit. Hal ini disampaikan oleh Dr. Ir. Soni Solistia Wirawan, M.Eng, peneliti dari Pusat Riset Teknologi Bahan Bakar, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam sesi diskusi 2nd Indonesia Palm Oil Research and Innovation Conference and Expo (IPORICE) 2025.
Soni menegaskan bahwa biodiesel memiliki sejumlah keunggulan seperti energi terbarukan, emisi lebih rendah, meningkatkan pelumasan serta kandungan sulfur yang jauh lebih rendah dibanding bahan bakar fosil. Meski demikian, ada sejumlah sifat biodiesel yang masih perlu diperhatikan melalui riset antara lain solvency, higroskopis, biodegradable, energy content, oxidation stability, dan kemampuan solidifikasi pada suhu rendah.
“Produk inovasi harus lebih baik dari yang sudah ada. Bukan hanya kualitas, tapi juga ketersediaan dan keekonomiannya. Kita sudah punya B40 dan roadmap agar biodiesel semakin bagus. Semakin tinggi levelnya, semakin banyak pula perbaikan yang perlu dilakukan,” jelas Soni.
Sejak 2020, Indonesia telah melangkah jauh dengan penerapan B40, level campuran biodiesel yang belum dimiliki negara lain. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai pusat pembelajaran bagi dunia. Selain memproduksi, BRIN juga rutin melakukan road test untuk menguji performa biodiesel di lapangan.
Soni menekankan ada tiga faktor kunci dalam pengembangan biodiesel yaitu harga bahan baku, proses produksi, dan transportasi distribusi. Ketiga hal ini perlu efisiensi agar biodiesel dapat terus bersaing. Oleh karena itu riset diarahkan untuk menekan biaya produksi, menyesuaikan teknologi mesin, serta menemukan parameter teknis yang tepat.
Menurut Soni, setiap kenaikan level biodiesel membutuhkan tahapan riset yang komprehensif. Misalnya dari B40 menuju B50 diperlukan uji campuran baru yang tidak hanya stabil secara teknis tetapi juga efisien secara ekonomi.
Pengujian dilakukan tidak hanya di laboratorium, tetapi juga melalui road test hingga 500 km per hari. Setelah itu mesin kendaraan diperiksa secara detail untuk melihat potensi munculnya kerak atau permasalahan lain.
“Yang perlu dijaga adalah kualitas bahan bakar agar sesuai standar. Material harus kompatibel, pencampuran akurat dan homogen serta pengujian laboratorium dilakukan dengan metode tersertifikasi. Penyimpanan dan monitoring kualitas juga harus diperhatikan,” ujarnya.
Dengan capaian B40, Indonesia terbukti mampu menjadi pemimpin global dalam biodiesel. Soni optimistis bahwa Indonesia siap melangkah bahkan lebih tinggi seiring riset dan inovasi BRIN yang terus berjalan untuk meningkatkan level biodiesel.
“Kesiapan kita untuk meningkatkan level biodiesel sudah ada. Kita sudah membuktikan mampu dengan B40 dan kita bisa naik lebih jauh,” pungkasnya.