Jakarta, mediaperkebunan.id - Indonesia merupakan salah satu produsen utama kopi dunia. Tetapi ekspansi kebun kopi menghadapi berbagai masalah yaitu risiko konversi hutan lindung dan konservasi lahan; perubahan iklim yang dapat menurunkan produktivitas dalam jangka panjang; tuntutan pasar berupa sertifikasi ramah lingkungan. Budy Zet Moy, Widyaiswara Ahli Utama Pusdiklat Kehutanan, Kemenhut, menyatakan hal ini.
GAP (Good Agricultural Practises) kopi menerapkan sistem pertanian berkelanjutan. Penting diterapkan supaya produktivitas usaha tani stabil, lingkungan hidup lestari dan manfaat ekonomi berkelanjutan.
Tantangan utama kopi dari sisi lingkungan adalah pembukaan lahan liar dalam kawasan lindung memicu erosi hebat, bencana longsor dan rusaknya kualitas DAS; secara ekonomi rendahnya produktivitas rata-rata nasional akibat dominasi pohon tua yang kurang produktif dan standar kualitas ceri kopi yang tidak standar; aspek pasar yang semakin gencar mensyaratkan jaminan rantai pasok, bebas deforestasi (EUDR) ketelusuran penuh, dan berkelanjutan.
GAP kopi mensyaratkan penggunaan benih unggul, konservasi tanah, nutrisi berimbang, pasca panen baik. Esensinya bukan sekedar meningkatkan produksi tetapi berdaya saing tinggi dan berumur panjang secara ekologis.
Kopi pada umumnya dibudidayakan di dekat kawasan hutan sehingga harus tegas dibagi menjadi tiga zona. Zona itu adalah zona lindung alami, sama sekali dilarang dibuka untuk kebun kopi, bertindak sebagai kawasan inti resapan. Fokus diarahkan sepenuhnya pada perlindungan keanekaragaman hayati dan pengamanan fungsi jasa lingkungan secara kolaboratif.
Zona penyangga menerapkan konsep agroforestry untuk menjaga konservasi air sekaligus batas pelindung alami. Zona budidaya berfokus pada upaya intensifikasi pemeliharaan kopi untuk mencapai produktivitas optimal.
Agroforestry adalah sistem usaha tani yang memadukan pohon berkayu dengan tanaman kopi. Menjembatani kebun kopi produktif dengan tata fungsi ekosistem hutan. Merupakan sistem usaha tani yang memadukan pohon berkayu dengan tanaman kopi. Fungsinya meningkatkan kesuburan dan kelembaban tanah, meredam erosi pada lahan miring, menyerap karbon, diversifikasi panen (kayu, alpukat dan lain-lain).
Pelaksanaan dimulai dengan pemetaan kawasan secara detail, berdasarkan tingkat kemiringan dan fungsi ekologis. Adopsi GAP pada kawasan budidaya dengan pelatihan teknis, pangkas bentuk dan peremajaan pohon tua. Agroforestry dengan penanaman pohon pelindung bernilai ekonomi tinggi di lahan penyangga. Kelompok tani hutan diperkuat dengan akses langsung ke industri hilir.
Dengan cara ini maka kopi bermanfaat secara ekologis, sosial, ekonomi yaitu tutupan hutan sekunder terus terjaga secara alami; mengamankan ketersediaan air tanah DAS hulu; menurunkan emisi GRK; produktivitas dan harga jual kopi meningkat; mengurangi konflik lahan kawasan hutan; pendapatan stabil karena ada alternatif dari kawasan penyangga.
Christian Natalie, Manager Program Kehutanan Yayasan Kehati menyatakan program Tropical Forest Conservation Action (TFCA) yang dikelola Kehati meyakini keberhasilan dan keberlanjutan konservasi hanya dapat terjadi jika terintegrasi dengan pengembangan ekonomi bagi masyarakat. Kopi adalah salah komoditas yang karateristiknya strategis dalam menghubungkan konservasi dengan penguatan ekonomi masyarakat. Kopi Sumatera memiliki kekayaan cita rasa dan keragaman varietas.
Agroforestry kopi mengubah konflik jadi koeksistensi. Petani tidak dipaksa secara represif dari suatu area untuk tidak bertani, tetapi diarahkan menanam pohon naungan yang secara ekologis menyerupai struktur hutan alam. Pohon naungan yang produktif (alpukat, durian, jengkol, petai, lamtoro, gamal, dadap, nangka) menciptakan kanopi berlapis yang meniru ekosistem hutan, menyediakan habitat, menjaga kelembaban, menahan erosi tanah.
Pohon-pohon pelindung dan tanaman pendamping menyediakan struktur tajuk berlapis yang memungkinkan satwa liar bergerak aman. Harimau, orangutan, gajah, badak sangat tergantung pada konektivitas habitat untuk mencari makan dan pasangan guna mencegah kepunahan. Burung, primata, serangga penyerbuk yang bermigrasi melalui kanopi kebun kopi agroforestry membantu mempertahankan keanekaragaman hayati di luar hutan inti serta mencegah isolasi genetik.
TFCA membentuk aliansi kopi konservasi dengan penerapan GAP dan berkelanjutan menghasilkan panen berkualitas; koperasi dan poktan dikuatkan dengan tata kelola bisnis berorientasi keuntungan; akses langsung ke pasar specialty coffee domestik dan ekspor yang menghargai konservasi; keuntungan hilir dialirkan kembali ke hulu sebagai insentif finansial langsung bagi petani yang menjaga hutan.