Jakarta, mediaperkebunan.id - Perkebunan kelapa sawit saat ini menghadapi berbagai tantangan. Permintaan meningkat baik untuk B50 maupun ekspor sedang produktivitas stagnan. Perusahaan dengan upaya sendiri meskipun banyak kendala bisa meningkatkan produktivitas sedang petani harus diintervensi. Hendra J Purba, Sekjen POPSI (Perkumpulan Forum Petani Kelapa Sawit Jaya Indonesia) menyatakan hal ini.
Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia, tidak terlepas dari peran petani. Ada 41% dari luas lahan 16,8 juta ha yang dimiliki petani dengan kondisi yang beragam. Peran petani sangat signifikan.
Kajian CIRAD menunjukkan Indonesia punya 30 juta orang petani kelapa sawit, dengan 21 juta orang diantaranya punya lahan dibawah 1 ha. Ada 95-130 juta anggota keluarga yang hidupnya tergantung pada lahan yang kurang dari 1 ha itu. Indonesia harus memberi mereka kemampuan dan bekal untuk bertarung dalam kompetisi global.
Saat ini ada fenomena Pabrik Kelapa Sawit yang selama ini mengandalalkan pasokan TBS dari kebun inti mengalami penurunan kapasitas karena sedang replanting, terlambat replanting atau belum replanting. Perebutan TBS antar PKS semakin ketat. Perusahaan tidak bermitra sejak awal sehingga mengalami kondisi ini.
Kemitraan merupakan roh bisnis perkebunan termasuk kelapa sawit. Petani kedepan akan memegang peranan penting. Sawit banyak diserang karena salah satu penyebabnya dominasi perusahaan masih sangat besar. Pertumbuhan lahan petani lebih tinggi dibanding perusahaan.
Ekspansi petani jangan dibiarkan liar seperti pada masa lalu yang tanpa bimbingan. Semua pihak harus turun tangan untuk membawa petani menjadi kebun yang kualitasnya hampir sama dengan perusahaan. Mengerek produktivitas kebun petani akan meningkatkan produksi sawit nasional. Indonesia tidak perlu mengorbankan ekspor untuk memasok B50.
Permintaan minyak nabati dunia meningkat dengan pertambahan penduduk. Permintaan minyak sawit juga meningkat. Kebun-kebun petani yang kualitas TBSnya kurang bisa diarahkan pada PKS pemasok pabrik biodiesel. Kebun petani yang kualitas TBSnya bagus untuk memasok oleofood dan oleokimia.
Salah satu prioritas Presiden Prabowo adalah hilirisasi termasuk sawit. B50 yang dimulai Juli memperketat pasokan. Hilirisasi terkait dengan hulu. Hilirisasi tidak akan berjalan tanpa hulu yang kuat. Bicara hilirisasi adalah berbicara hulu yang 42% sudah dikuasai petani.
Program hilirisasi dengan tujuan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Peran petani perlu diperjelas dalam hilirisasi termasuk B50. Perlu ada aturan tegas supaya produsen biodiesel mendapat CPO dari PKS yang pasokan TBSnya didominasi petani.
EUDR mulai berlaku Desember 2026. Petani jangan sampai keluar dari rantai pasok untuk ekspor ke Eropa gara-gara tidak terdata. Pemerintah harus segera memperbanyak STDB sebagai bagian dari traceability . Kemudian infrastruktur pendukungnya.
Sehubungan dengan hal ini, diadakan Medbun Expo dan 6th IPOSC 2026 yang akan dilaksanakan tanggal 22-23 September di Kubu Raya, Kalbar. Conference membahas bagaimana petani bisa menjadi pemasok hilirisasi berkelanjutan dan tidak keluar dari rantai pasok EUDR.
Sedang Medbun Expo menampilkan berbagai produk teknologi dan inovasi terbaru untuk mendukung produktivitas sawit mulai dari benih unggul, pupuk, alat panen, pestisida, tractor sampai teknologi digital.
Acara ini bukan saja penting bagi petani tetapi perusahaan perkebunan. Peningkatan produktivitas merupakan tugas semua pemangku kepentingan dan kemitraan perusahaan dengan petani akan mempercepat upaya ini.