Kubu Raya, mediaperkebunan.id – Data tahun 2023 dari luas kebun sawit petani sebesar 6.940.000 ha yang bermitra hanya 485.800 ha atau 7%. Studi yang dilakukan Erdi dari FISIP Universitas Tanjungpura di Kalbar dan Riau, kemitraan hanya dilakukan 118.000 petani sedang sisanya 2.511.000 orang. Hal ini dinyatakan dalam 5th IPOSC di Kubu Raya yang diselenggakan POPSI dan Media Perkebunan.
Semestinya petani bermitra dengan perusahaan sehingga posisinya kuat karena mendapat dukungan perusahaan dan pemerintah. Petani mandiri yang bekerja tanpa mitra jangan lagi dianggap sebagai pekebun liar. Sekitar 30% kebun rakyat sudah tua perlu peremajaan dan pendampingan.
Kemitraan sawit perlu karena terjadi ketimpangan antara PBN dan PBS dengan PSR; slogan tumbuh bersama mitra mesti nyata; agar terwujudnya sinergi antara perkebunan besar dan rakyat untuk menumbuhkan kekuatan bersama dalam menghadapi hambatan struktural dalam tataran global.
Kemitraan juga penting untuk menangkal kampanye negatif sawit; program kemitraan untuk mendistribusikan kesejahteraan bersama perusahaan, petani, pemerintah, termasuk pemda; sejak tahun 2000 terakhir 2020 sawit menjadi komoditi unggulan Kalbar, karena telah nyata memberi kontribusi pada kesejahteraan dan membuka keterisolasian daerah.
“Tata kelola bangsat yang dilakukan 1-2 perusahaan agar tidak digeneralisasi pada seluruh perusahaan. Manajemen buruk perusahaan bangsat kita gulingkan. Pemda dan masyarakat hanya mendorong manajemen dan perusahaan yang baik untuk sama-sama berperan membangun Kalbar,” katanya.
Strategi peningkatan produktivitas di perkebunan sawit rakyat yaitu penyuluh atau petani dari unsur pemerintah diaktifkan; perusahaan diberi tanggung jawab membina petani dalam bentuk bagian kemitraan; pemda dan korporasi mendorong petani untuk bersertifikat ISPO, RSPO, ISCC; segera lakukan peremajaan pada tanaman tua; mencacah kebun sawit yang terlanjur ditanam di lahan tidak cocok untuk diganti dengan tanaman lain selain sawit.
Luas kelapa sawit tua di Kalbar tahun 2022 PTPN 9.777 ha tahun 2023 naik 11.311 ha (terlambat meremajakan), perusahaan perkebunan swasta 2022 57.443 ha , tahun 2023 turun 56.967 ha karena melakukan peremajaan; perkebunan rakyat 2022 46.141 ha dan adanya PSR tahun 2023 turun jadi 37.609 ha.
Dengan dana hibah BPDP Rp60 juta ha sedang bila petani bermitra dengan pola satu atap biayanya Rp83 juta/ha membuat petani menolak sistim ini, mereka lebih memilih swakelola. Karena itu petani harus didampingi terutama saat memilih benih, mengatur jarak tanam dan GAP lainnya. Orang sukses di tingkat lokal harus diberdayakan mendampingi petani.
Tahun 2023 luas kebun PTPN keseluruhan 577.937 ha dengan 27.488 ha (4,82%) berada di Kalbar. Perkebunan besar swasta nasional total luasnya 8.614.259 ha , sedang Kalbar 1.448.019 ha atau 16,81%. Perkebunan rakyat total nasional 6.736.516 ha, di Kalbar ada 657.545 ha atau 13,39%.
Produksi CPO PTPN tahun 2023 2.310.612 ha dengan 44.719 (4,85%) dari Kalbar. Produksi PBSN nasional 27.935.807 ton, dari Kalbar 4.269.327 ha (17,46%). Produksi perkebunan sawit rakyat tahun 2023 15.495.427 ton CPO dan kontribusi petani Kalbar 1.428.859 ton CPO (11,41%).
Ketika produktivitas. perkebunan rakyat sudah mampu menyaingi PTPN, artinya sudah menguasai GAP. Perlu dievaluasi agar bisa mengejar produktivitas PTPN. Isu PTPN di Kalbar adalah tidak transparan dan mis manajemen. Tahun 2023 produktivitas PTPN 3,8 ton CPO/ha sedang di Kalbar 1,53 ton CPO; perkebunan besar swasta nasional 3,3 ton CPO/ha di Kalbar 2,76 ton/ha; perkebunan rakyat nasional 2,41 ton/ha sedang di Kalbar 1,77 ton/ha.
Hal yang harus dibenahi adalah kemitraan harus berlanjut; stabilitas harga pembelian TBS petani; standarisasi PKS agar rendemen pabrik berada pada 21 sampai 24%; mengatur CSR untuk masyarakat sekitar perkebunan; mengatur kontribusi kepada pemda untuk mengisi PAD dengan mengurangkan profit perusahaan.
Kurangkan profit perusahaan 5-7,5% untuk diberikan pada kabupaten dan provinsi penghasil sawit. Dana ini digunakan pemda untuk membangun jalan dan jembatan dan sarana publik di sekitar perusahaan.