Jakarta, mediaperkebunan.id – Permintaan minyak sawit dunia kembali meningkat seiring pemulihan ekonomi global. Namun, agar peluang ini dapat dimanfaatkan secara optimal, industri sawit dituntut bertransformasi menjadi lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pesan ini disampaikan oleh Dr. Musdhalifah Machmud, Deputy Secretary General Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), dalam diskusi 2nd International Palm Oil Research and Innovation Conference (IPORICE) 2025 di Jakarta.
“Permintaan sawit dunia melonjak kembali. Ini peluang besar, tetapi hanya bisa berkelanjutan melalui transformasi sawit ramah lingkungan,” ujar Dr. Musdhalifah.
Menurutnya, negara produsen kelapa sawit masih mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian hutan. Data terbaru menunjukkan Indonesia masih memiliki 63% tutupan hutan, Malaysia 62%, Kolombia 68%, Kongo 69%, dan Nigeria 23%. Angka ini membuktikan bahwa perkebunan sawit tidak serta-merta identik dengan deforestasi.
“Tidak terbukti sawit merusak hutan, justru membantu ekonomi masyarakat sekitar,” jelasnya.
Isu keberlanjutan juga ditegaskan melalui keunggulan siklus produksi kelapa sawit. Dengan masa produktif hingga 25 tahun hanya dari satu kali penanaman, sawit dinilai lebih efisien dibanding tanaman minyak nabati lain. Selain itu, perkembangan teknologi telah memungkinkan pemanfaatan limbah cair maupun padat menjadi produk bernilai tambah.
“Kalau kita bicara green economy, maka palm oil merupakan produk green economy,” katanya.
Menanggapi tudingan hilangnya keanekaragaman hayati akibat perkebunan sawit, ia menepis klaim tersebut dengan menekankan bahwa populasi satwa endemik seperti gajah di Indonesia relatif stabil meskipun perkebunan berkembang. Sejak 2014, Indonesia juga telah mengembangkan skema sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) untuk memastikan praktik perkebunan memenuhi standar keberlanjutan.
Dr. Musdhalifah juga menyoroti tantangan baru dari kawasan Amerika Latin yang mulai melirik kelapa sawit sebagai komoditas unggulan. Karena itu, penting bagi negara-negara produsen untuk menunjukkan bahwa minyak sawit dapat dikembangkan tanpa mengganggu lingkungan.
“Kalau ada pihak yang menyebarkan isu deforestasi, kita tunjukkan datanya,” tegasnya.
Ia menutup paparannya dengan ajakan kolaborasi lintas sektor, termasuk dukungan lembaga penelitian nasional. “Mari kita buktikan bahwa sawit bukan bagian dari masalah, melainkan bagian dari solusi global menuju ekonomi hijau dan masa depan berkelanjutan. Kita ingin kelapa sawit kita jaya dan menurut kami CPOPC, BRIN harus hadir bersama kejayaan sawit Indonesia,” pungkasnya.