5 February, 2016
Bagikan Berita

Asoasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) secara tegas menolak usulan pemerintahan Prancis untuk menaikan pajak impor crude palm oil (CPO) dan turunannya, karena hal tersebut merupakan penjajahan baru melalui pajak regresif.

Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia(Apkasindo), Anizar Simanjuntak geram mendengar adanya rencana untuk menaikan pajak impor CPO dan turunannya. Sebab hal tersebut dinilai tidak masuk akal. Sehingga bisa dikatakan a pajak tersebut dianggap bentuk neokolonialisme atau penjajahan gaya baru.

“Ini neokolonialisme berbentuk persaingan dagang, agar CPO kita lebih mahal dari minyak nabati yang diproduksi negara Prancis,” tegas Anizar dalam keterangan rilis kepada perkebunannews.

Melihat hal tersebut, menurut Anizar, pihaknya akan pemerintah Indonesia untuk melakukan negosiasi dengan pihak pemerintah Prancis untuk membatalkan aturan pungutan pajak regresif tersebut. Sebab jika pajak tersebut benar-benar dilakukan pihak yang akan terkenan dampak kerugiannya pertama kali yaitu petani bukanlah pengusaha.

“Apabila tidak ada pembatalan terkait aturan tersebut, kami para petani sawit siap turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi ke kedutaan Prancis di Indonesia,” terang Anizar.

Hal senada diungkapkan Sekjen Apkasindo Asmar Arsjad bahwa pihak Prancis sudah benar-benar kelewatan kelakuannya terhadap petani jika hal tersebut benar-benar dijalankan atau diterapkan. Apalagi jika tujuan memungut pajak regresif terhadap produk CPO tersebut dimaksudkan untuk membiayai kesehatan masyarakat dan petani di sana. “Masa kita, petani sawit disuruh memfasilitasi kesehatan masyarakat dan petani Prancis,” risau Asmar.

Melihat hal tersebut, Asmar berpendapat, maka jika hal tersbut dilakukan pihaknya akan mengusulkan agar pemerintah membuka pasar ekspor baru untuk CPO dan menyetop ekspor ke Uni Eropa. Sebab dikhawatirkan jika Perancis jadi melakukan aturan pungutan pajak regresif tersebut maka akan menular ke negara eropa lainnya. “Artinya Indonesia sudah harus bisa mencari pasar baru dan bila perlu menyetop ekspor ke Uni Eropa,” pungkas Asmar. YIN

Baca Juga  Tahun 2065 Perkebunan Teh Hanya Tinggal Sejarah

Baca juga :Stop IPOP Karena Rugikan Petani

(Visited 98 times, 1 visits today)