14 November, 2019

Potensi penyerapan karet untuk aspal karet di dalam negeri sebenarnya tidak terlalu besar. Kebutuhan aspal nasional tahun 2016 adalah 1,6 juta ton/tahun. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sudah menetapkan penggunaan aspal karet untuk Indonesia bagian Barat yaitu Jawa, Sumatera dan Kalimantan Barat. Sedang Indonesia Timur menggunakan aspal Buton.

“Kandungan karet pada aspal hanya 7%. Kalau kebutuhan 1,6 juta ton berarti kebutuhan karet 112.000 ton. Karena hanya digunakan di Indonesia bagian barat saja maka angka yang paling mungkin adalah 60.000 ton karet/tahun. Lebih dari itu mungkin sulit,” kata Muchammad Yusuf, praktisi aspal.

“Tetapi jangan kuatir kalau digunakan secara meluas maka akan terjadi efek psikologis karena ada permintaan baru yang lumayan besar. Harga karet petani akan terdongkrak naik,” katanya.

Hal penting lainnya adalah bukan Indonesia saja yang butuh jalan berkualitas baik dan murah. Semua negara membutuhkan hal yang sama. Uji coba aspal karet di Indonesia yang sedang berlangsung harus bisa membuktikan hal ini. Kalau ini terjadi maka permintaan banyak negara ingin memanfaatkan aspal karet dan permintaan karet akan naik.

“Buktikan pada khalayak bahwa aspal karet lebih bagus. Data implementasinya saat ini masih terbatas perlu terus dilengkapi. Jalan di Indonesia adalah laboratorium besar bagi implementasi aspal karet dan kalau datanya bagus bisa dijual ke negara lain,” katanya.

Kebutuhan aspal dunia mencapai 240 juta ton/tahun sedang polimer sintetik pencampurnya mencampai 120 juta ton. Kalau terjadi perpindahan dari polimer sintetik ke karet alam maka akan terjadi lonjakan permintaan karet. “Tentu tidak mudah mencapai hal ini. Polimer sintetis perlu 15 tahun sampai pada posisi sekarang,” katanya.

(Visited 82 times, 1 visits today)