https://api.whatsapp.com/send?phone=6281361509763
Petrokimia Gresik
15 April, 2021
Bagikan Berita

Jakarta, Mediaperkebunan.id

Tahun 2021 kawasan pengembangan karet yang dibiayai APBN Ditjenbun mencapai 1.100 ha terdiri dari perluasan 300 ha dan peremajaan 800 ha. Heru Tri Widarto, Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar, Ditjen Perkebunan menyatakan hal ini.

Perluasan karet 300 ha dilaksanakan di Kabupaten Kepulaian Meranti (Riau) 200 ha dan Kabupaten Sanggau (Kalbar) 100 ha.

Sedang peremajaan dilakukan di Jambi 300 ha di Kabupaten Merangin, Tebo dan Muaro Jambi masing-masing 100 ha; Sumatera Selatan 200 ha terdiri dari Kabupaten Ogan Komering Ilir 200 ha, Musi Rawas 50 ha dan Banyuasin 50 ha; Kalimantan Selatan 200 ha di Kabupaten Banjar dan Balangan masing-masing 100 ha.

Khusus untuk Musi Rawas, salah satu penangkar yang ditunjuk adalah Suparno dari CV Mutiara Bonnggol Kotamadya Lubuk Linggu. Menurut Suparno , bibitnya menggunakan klon unggul dengan entres dari Pusat Penelitian Karet Sembawa, Pusat Penelitian Karet Indonesia. Saat ini sudah tersedia benih karet siap salur 200.000 batang.

Bibit karet sebanyak ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan peremajaan karet dengan APBN di Musi Rawas saja tetapi petani yang ingin melakukan peremajaan mandiri. Beberapa daerah sudah melakukan penjajakan untuk menggunakan benih ini yaitu Kepulauan Meranti, Sumbar dan Bengkulu. Selama ini Suparno juga sudah memenuhi kebutuhan benih karet di Sumut, Riau, Jambi dan sebuah perusahaan di Kalimantan.

Buku statistik karet 2018-2020 Ditjenbun menunjukkan ada 10 provinsi dengan luas karet terbesar yaitu Sumatera Selatan (angka tetap 2018 luas 858.368 ha, produksi 1.043.003 ton), Sumatera Utara ( luas 408.258 ha, produksi 418.942 ton), Jambi (luas 389.753 ha, produksi 319.470 ton), Kalimantan Barat (luas 388.434 ha, produksi 272.329 ton), Riau (luas 328.882 ha, produksi 337.261 ton) , Kalimantan Tengah ( luas 288.886 ha, produksi 161.915 ton) , Kalimantan Selatan (luas 200.459 ha, produksi 188.375 ton) Lampung (luas 168.146 ha, produksi 174.077 ton) , Sumatera Barat (luas 130.330 ha produksi 152.424 ton) dan Aceh (luas 99.055 ha, produksi 93.662 ton).

Baca Juga  HILIRISASI KARET MUBA, UBAH PETANI DARI PENGHASIL BOKAR MENJADI LATEKS

Luas kebun karet di kabupaten yang mendapat alokasi perluasan yaitu di Kepulauan Meranti 12.480 ha, produksi 10.598 ton, produktivitas 972 kg/ha dan jumlah petani 12.636 orang. Sanggau luas 66.007 ha, produksi 54.137 ton, produktivitas 1.146 kg/ha, jumlah petani 44.144 orang.

Sedang di kabupaten yang mendapat alokasi peremajaan Merangin luas 82.245 ha dengan tanaman tua rusak 2.018 ha, produksi 68.270 ton, jumlah petani 50.034 orang; Tebo luas 66.163 ha dengan tanaman tidak menghasilkan tua rusak 1.880 ha, produksi 46.709 ton, produktivitas 822 kg/ha jumlah petani 44.471 orang; Muaro Jambi luas 33.241 ha, tanaman tidak menghasilkan tua rusak 790 ha, produksi 27.735 ton, produktivitas 978 kg/ha, jumlah petani 12.701 orang.

Ogan Komering Ilir luas 113.117 ha dengan tanaman tidak menghasilkan tua rusak 1.886 ha, produksi 126.603 ton, produktivitas 1.186 kg/ha, jumlah petani 54.002 orang; Musi Rawas luas 88.135 ha, tanaman tidak menghasilkan tua rusak 2.685 ha, produksi 112.438 ton, produktivitas 1.342 kg/ha, jumlah petani 54.470 orang; Banyuasin luas 60.249 ha, tanaman tidak menghasilkan tua rusak 1.686 ha, produksi 90.614 ton, produktivitas 1.596 kg/ha, jumlah petani 33.210 orang.

Banjar luas 20.236 ha, tanaman tidak menghasilkan tua rusak 75 ha, produksi 17.329 ton, produktivitas 891 kg/ha jumlah petani 15.888 orang; Tabalong luas 50.717 ha,tanaman tidak menghasilkan tua rusak 473 ha, produksi 59.904 ton, produtivitas 1.261 kg/ha, jumlah petani 40.201 orang.

(Visited 70 times, 1 visits today)