1 July, 2016
Bagikan Berita

Indonesia pernah berjaya menjadi salah satu produsen kopi terbaik di dunia. Bahkan pada zaman Belanda menjadi penghasil kopi terbesar di dunia. Hanya saja posisi Indonesia terus melorot dan bahkan hingga hanya menjadi produsen kopi terbesar ketiga yang digeser oleh Vietnam yang belakangan mengembangkan kopi.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bener Meriah, Ahmad Ready mengatakan saat ini menjadi terjadi tren penurunan produktivitas kopi rakyat. Hal ini karena sebagian besar kopi di Aceh sudah tua dan melewati umur produktifnya. Padahal kopi asal Bener Meriah dikenal sebagai daerah penghasil kopi terbaik di dunia.

Terbukti saat ini tercatat luas kopi di Bener Meriah mencapai 46 ribu dimana 50 persen diantaranya merupakan tanaman tua “Selain itu hama bubuk buah menjadi momok buat petani dan juga jamur akar putih,” kata Ahmad.

Bahkan, lanjut Ahmad, hal ini sudah mulai dirasakan oleh eksportir kopi yang selama ini mengantungkan supply dari wilayah Aceh dan Sumatera Utara. “Saat ini ekspotir kesulitan untuk bisa memenuhi kontraknya sekitar 100 kontainer, sekitar 2000 ton,” tambah Ahmad.

Hal senada disampaikan petani kopi asal Bener Meriah, Suhatsyah, Ketua Kelompok Tani Kejora Bersatu asal Kampung Suku Weh Ilang bahwa petani membutuhkan dukungan pemerintah untuk meningkatkan produksinya. Petani sangat berharap bantuan pupuk khususnya pupuk organik serta penangan hama penyakit non kimiawi. Pasalnya kopi di wilayahnya dikelola secara organik.

“Kami membutuhkan bantuan bibit, karena tanaman sekarang sudah mulai menurun produksinya. Tentunya kami ingin bibit yang tahan terhadap nematode dan punya cita rasa yang baik”, kata Suhatsyah.

Selain pupuk dan pestisida organic juga diharapkan pendampingan kepada petani. tujuannya tidak hanya untuk membina budidaya secara good agriculture practices (GAP) juga membina untuk pembentukan koperasi petani. “Tujuannya agar ada peningkatan mutu dan pemasaran,” tambah Sirwan anggota Kelompok Tani Bukit Bersatu, asal Desa Bukit Weh Ilah, Kabupaten Bener Meria.

Baca Juga  UNTUK BANTU PETANI, ISPO TIDAK PERLU PERPRES

Pendapat senada disampaikan Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno bahwa saat ini di Sumatera Barat mayoritas tanaman kopi telah berumur di atas 15 tahun dan beberapa diantaranya tidak terawat dengan baik. Sehingga produktivitasnya kurang dari 600 kg/ha/tahun. Selain itu kondisi lahan juga semakin berkurang kesuburannya karena dieksplotasi tarus menerus tanpa adanya upaya konservasi lahan.

“Saya mengkhawatirkan bahwa produksi ini akan terus mengalami penurunan jika tidak adanya upaya penyelamatan kopi rakyat,” risau Irwan.

Sementara itu, Gubenur NTT, Frans Lebu Raya, mengeluhkan kondisi yang sama. Produksi perkebunan kopi rakyat di NTT cenderung menurun setiap tahunnya karena sudah berumur tua. “Jika tidak diselamatnya maka produksi kopi kita akan menurun dan posisi Indonesia sebagai produsen kopi terbesar ketiga bukan tidak mungkin merosot terus, seperti yang terjadi pada berbagai komoditas perkebunan lainnya,” papar Frans.

Perlunya Dukungan Program Kopi Pemerintah
Begitu juga dengan Gubenur Papua, Lukas Enembe, mengharapkan adanya dukungan pemerintah untuk penyelamatan kopi nasional. Sebab kopi telah menjadi komoditas unggulan bagi masyarkat papua khususnya di daerah gunung. Bahkan tidak ada cara yang paling tepat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pegunungan kalau tidak dengan perbaikan kopi.

“Sayangnya, perhatian pemerintah Presiden Jokowi untuk kopi tidak seperti kakao,” keluh Lukas.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Sumatera Barat, Fajarudin, mengharapkan adanya kebijakan dan program untuk kopi khususnya berupa kegiatan peremajaan untuk tanaman di atas 15 tahun atau intensifikasi untuk tanaman yang masih produktif namun produksinya masih relatif rendah.

Melihat hal ini maka seebaiknya program tersebut berkesinambungan selama 5 tahun. Disertai dengan program pengembangan kopi berbasis kawasan, diserta pelatihan serta penyediaan fasilitas agar petani bisa menghasilkan kopi premium.

Baca Juga  Perluas Mandatori Biodiesel,Hemat Devisa dan Emisi

“Misalnya kopi arabika sebaiknya tidak saja diarahkan untuk perbaikan produksi namun hingga bisa meraih predikat spesialty”, kata Farajuddin.

Wisman Djaya, Direktur Supply Chain di PT Nestle Indonesia mengakui bahwa jika tidak ada peremajaan kopi maka kopi Indonesia akan tinggal cerita. Contohnya bagaimana Vietnam yang baru tanam kopi 20 tahun yang lalu sudah melaksanakan program peremajan 30 peren dari pohon kopi uang ada.

“Saya mengharapkan bahwa bantuan yang diberikan tidak hanya bersifat fisik namun juga pendampingan petani. Kita perlu menghidupkan pola lama dimana petugas penyuluh mendamping petani dalam wilayah tertentu secara terus menerus,” pungkas Wisman. YIN

(Visited 86 times, 1 visits today)