2nd T-POMI
2023, 21 Oktober
Share berita:

SYDNEY, mediaperkebunan.id – Penggunaan teknologi satelit dan citra penginderaan jauh memiliki kemampuan untuk memberikan estimasi produksi maupun hasil panen komoditas perkebunan. Teknologi satelit juga dapat mengatasi tantangan geografis dan beberapa wilayah perkebunan yang sulit terjangkau atau diakses, sehingga dapat lebih efektif dan efisien.

Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan berkolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan University of Sydney gelar Fokus Grup Diskusi (FGD) membahas teknologi satelit dan citra penginderaan jauh untuk sub sektor perkebunan.

Tim Ditjen Perkebunan dan UGM pada FGD ini menyampaikan Proses Perencanaan Direktorat Jenderal Perkebunan telah mengembangkan aplikasi Sicantik yang merupakan perpaduan antara sistem geospasial dengan penginderaan jauh.

Langkah ini diambil sebagai upaya pemenuhan data-data komoditi perkebunan berbasis spasial, untuk mendapatkan CPCL yang tepat sasaran dan akurat. Tim Sydney University pada FGD tersebut mengatakan kesediaannya meminjamkan alat untuk menganalisis tanah perkebunan untuk dilakukan dicoba dikolaborasikan dengan aplikasi siCantik.

Sekretaris Ditjen Perkebunan Heru Tri Widarto mengatakan, FGD perlu dilaksanakan karena mayoritas komoditas perkebunan memiliki hamparan yang luas dan lingkungan yang sulit dijangkau.

“Penginderaan jauh ini sangat penting dalam pengelolaan perkebunan, dimana pemantauan yang berkelanjutan diperlukan untuk mengidentifikasi perubahan kondisi lahan dan tanaman dari waktu ke waktu,” papar Heru.

Kedepan, Heru berharap, melalui hasil FGD ini aplikasi SiCanTik dapat berkolaborasi dengan beberapa metode yang telah dikembangkan oleh peneliti Sydney University untuk menganalisa via satelit guna mendukung pembangunan perkebunan berbasis data spasial.

Heru menjelaskan, Ditjen Perkebunan memerlukan teknologi yang dapat mengumpulkan data dan informasi tentang kondisi terkini tanaman perkebunan, dengan bantuan sensor dan kamera sensitive yang terdapat pada satelit.

Baca Juga:  Laba Astra Agro Turun 26 Persen Akibat Turunnya Harga CPO

Nantinya data yang diperoleh dari teknologi satelit ini kemudian diubah menjadi citra penginderaan jauh yang memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi lahan, perkebunan, dan lingkungan lainnya.

“Salah satu keunggulan utama teknologi satelit dan citra penginderaan jauh ini yaitu kemampuannya untuk melakukan pemantauan di skala besar dan berulang secara periodik. Berbeda dengan survei lapangan konvensional yang terbatas pada area kecil, teknologi ini dapat mencakup luas wilayah yang luas dan memberikan data secara berkala,” jelas Haru.

Lebih lanjut Heru mengatakan, teknologi satelit dan citra penginderaan jauh memiliki kemampuan untuk mengatasi kendala geografis dan lingkungan yang sulit dijangkau dan inilah saatnya teknologi ini menjadi sangat perlu dikembangkan.

Dengan bantuan satelit, kata Heru, para ahli pertanian dan pengelola perkebunan dapat memperoleh informasi yang diperlukan tanpa harus berada di lapangan secara fisik, menghemat waktu dan biaya.

Menurut Heru, penggunaan teknologi satelit dan citra penginderaan jauh dalam pengelolaan perkebunan juga memungkinkan analisis yang mendalam tentang berbagai parameter penting, seperti kelembapan tanah, suhu udara,  tingkat vegetasi, hingga perhitungan karbon dan bahan organik dalam tanah.

“Data ini memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kondisi pertumbuhan tanaman, memungkinkan para petani dan pengelola untuk mengidentifikasi masalah dengan cepat, seperti kekurangan air atau serangan hama, sehingga mereka dapat mengambil tindakan yang tepat dalam upaya meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen,” jelas Heru.

Heru menekankan, dalam konteks global, teknologi satelit dan citra penginderaan jauh juga berperan penting dalam mengatasi isu-isu lingkungan dan perubahan iklim. Data yang dikumpulkan oleh satelit dapat digunakan untuk memantau deforestasi, kebakaran hutan, dan perubahan tutupan lahan secara lebih akurat.

Baca Juga:  Produksi CPO Oktober Melorot

Pada kesempatan yang sama, Tim Direktorat Jenderal Perkebunan dalam kunjungan ke Sydney University ini turut mempelajari hasil penelitian para pakar antara lain Prof. Budiman Minasny PhD dan tim antara lain Wartini Ng, Ho Jun Jang, Nicolas Francos dan Jose Padarian.

Tim juga mengunjungi laboratorium tanah Sydney University untuk melihat berbagai alat serta hasil penelitian yang diharapkan dapat dikolaborasikan dengan progam Ditjen Perkebunan.

Pada kesempatan yang berbeda, Direktur Jenderal Perkebunan Andi Nur Alam Syah mengatakan, pentingnya pendataan dan pemetaan perkebunan yang terintegrasi dan selalu terupdate.

Pemutakhiran data akan memberikan kondisi perkembangan perkebunan seperti pembukaan lahan baru maupun alih fungsi lahan perkebunan. Diharapkan dengan adanya inovasi ini kedepannya pendataan dan pemetaan perkebunan dapat semakin terintegrasi dan selalu terupdate. (*)