2022, 20 Januari
Share berita:

Jakarta, Mediaperkebunan.id

Asosiasi perusahaan yang bergerak di bidang kelapa sawit yaitu GIMNI (Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia), AIMMI (Asosiasi industri Minyak Makan Indonesia) dan GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) mendukung program pemerintah dengan menjual minyak goreng seharga Rp14.000/kg . Demikian salah satu yang terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi VI DPR-RI dengan tiga asosiasi ini ditambah KPBN Inacom.

Menurut Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif GIMNI pihaknya mendukung kebijakan ini dengan menjual dengan harga RP14.000 di daerah masing-masing perusahaan anggota. Juga akan melakukan operasi pasar di areal sekitarnya disaksikan oleh Disperindag setempat untuk memperlancar penyampaian migor berharga special ke masyarakat luas.

Terjadi perubahan kebijakan pemerintah dari semula migor curah/kemasan sederhana segmen pasar tradisional dengan target masyarakat berpendapatan rendah menjadi untuk semua migor kemasan termasuk premium.

Dengan kebijakan baru ini maka konsumen akan membeli minyak goreng kemasan premium yang dijual di minimarket dan supermarket. Sedang minyak goreng kemasan sederhana yang dijual di warung-warung dan pasar tradisional tidak akan dilirik konsumen lagi.

Adi Wisoko, Ketua Umum AIMMI menyatakan ketika subsidi masih untuk kemasan sederhana untuk Natal dan Tahun Baru target subsidi tidak tercapai. Sekarang dengan subsidi untuk semua jenis minyak goreng dengan dana BPDPKS , yang bisa cepat merespon adalah minimarket dan supermarket.

Selisih harga oleh BPDPKS harus berdasarkan dokumen yang lengkap. Dokumen dari produsen ke supermarket dan minimarket tercatat dengan jelas berapa volumenya sehingga nanti penyelesian administrasinya oleh BPDPKS lebih mudah.

Menjadi masalah bagi toko dan warung sebab mereka mendapat minyak goreng dari distributor dan pedagang besar. Apalagi stok lama sebelum kebijakan ini berlaku bagaimana menghitungnya, karena catatan mereka tidak terdata rapi seperti supermarket dan minimarket. ‘

Masalah lainnya bagaimana menjaga supaya harga di warung dan pasar tradisional bisa Rp14.000/liter karena mereka mendapat pasokan lewat rantai yang agak panjang mulai dari produsen, distributor, pedagang grosis baru ke warung.

Penyebab kenaikan minyak goreng adalah masalah suply dan demand. Subsidi ini berlaku selama 6 bulan. Bulan Mei merupakan Hari Raya Idul Fitri sehingga permintaan minyak goreng pasti akan meningkat. Hal ini harus diantisipasi sekarang apakah alokasi dana subsidi cukup kalau ada permintaan melonjak selama periode ini.

Selain pasar dalam negeri, permintaan ekspor minyak goreng dan CPO dari negara-negara berpenduduk Muslim besar juga akan meningkat. Mereka juga minta tambahan pasokan. Hal ini harus diantipasi sejak sekarang.

Joko Supriono, Ketua Umum GAPKI menyatakan ketersediaan CPO sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi minyak goreng nasional. Anggota GAPKI sebagai produsen CPO mendukung pelaksanaan program minyak goreng nasional yang dipimpin oleh Kemendag bersama BPDPKS, GIMNI dan AIMMI.

Rahmanto Amin Jatmiko, Direktur PT KPBN menyatakan saat ini harga CPO lelang KPBN mencapai rekor tertinggi yaitu Rp15.000/kg. Sepanjang tahun 2021 harga CPO mengalami penguatan 34,65% secara year to date, sedang secara tahunan yang yoy mengalami penguatan 36,3%.

Penyebabnya ada 4 faktor utama, diantaranya shortage produksi di negara produsen akibat Covid-19 dan gangguan cuaca; kebijakan India yang memotong pajak impornya, lalu dampak spekulasi commodity supercycle dan akibat solidnya pergerakan harga minyak mentah dan minyak nabati lainnya. Tahun 2022 masih akan berada di posisi tertingginya setidaknya Q1 jelang Ramadhan sebelum mulai recovery di pertengahan Q2 2022.