Wakil Bupati Luwu Utara Optimis Pelatihan AKPY, BPDP, dan Ditjenbun Tingkatkan Produktivitas Sawit Rakyat

Wakil Bupati Luwu Utara Optimis Pelatihan AKPY, BPDP, dan Ditjenbun Tingkatkan Produktivitas Sawit Rakyat

Makassar, mediaperkebunan.id – Pemerintah Kabupaten Luwu Utara optimistis pelatihan Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas kelapa sawit rakyat di daerah tersebut.

Optimisme tersebut disampaikan Wakil Bupati Luwu Utara, Jumail Mappile, yang mewakili Bupati Luwu Utara pada acara penutupan pelatihan bagi 92 petani sawit asal Kabupaten Luwu Utara, Rabu (29/7/2026).

Menurutnya, kelapa sawit telah menjadi salah satu komoditas andalan yang menopang perekonomian daerah. Luwu Utara memiliki sekitar 32.000 hektare perkebunan kelapa sawit, bahkan lebih luas dibandingkan areal persawahan yang mencapai sekitar 28.000 hektare.

"Luwu Utara memiliki potensi yang cukup besar. Kalau luasan sawit 32.000 hektar, kalau sawah 28.000 hektar. Artinya dua komoditas ini menjadi andalan di Luwu Utara. Banyak orang yang terjun ke sawit ekonominya bagus," ujar Jumail.

Ia menilai kesempatan mengikuti pelatihan seperti yang difasilitasi BPDP melalui AKPY merupakan peluang yang sangat berharga bagi petani. Pasalnya, pelatihan dengan fasilitas lengkap tersebut tidak mudah diikuti secara mandiri.

"Pada kesempatan ini untuk teman-teman yang menjadi peserta banyak keuntungan yang didapat, tidak mudah untuk ikut ini secara mandiri. Ketika ada lembaga yang menyiapkan ruang mendapatkan ilmu ini harus diapresiasi dan berterima kasih," katanya.

Wakil Bupati berharap ilmu yang diperoleh peserta selama pelatihan dapat diterapkan di kebun masing-masing sehingga produktivitas sawit rakyat meningkat. Saat ini, produktivitas kebun sawit rakyat di Luwu Utara masih berkisar 2–3 ton per hektare, sementara perkebunan yang dikelola secara optimal mampu menghasilkan sekitar 5–6 ton per hektare.

"Kita berharap ketika sekarang misalnya sawit rakyat masih menghasilkan 2–3 ton per hektar per tahun, mudah-mudahan bisa lebih lagi. Karena kalau perkebunan biasanya 5–6 ton per hektar per tahun," ungkapnya.

Dalam wawancara bersama Media Perkebunan di sela-sela kegiatan, Jumail menjelaskan bahwa masyarakat Luwu Utara telah mengenal kelapa sawit sejak sebelum tahun 1990-an. Pengalaman panjang tersebut membuat masyarakat memahami dinamika usaha sawit, mulai dari fluktuasi harga hingga teknik budidaya yang terus berkembang.

"Sawit ini memang sudah lama di Luwu Utara bahkan sebelum tahun 1990-an, jadi orang Luwu Utara sudah banyak mengenal sawit. Sejak saat itu masyarakat sudah menikmati pasang surut harga sawit," katanya.

Menurutnya, keberadaan penyuluh pertanian juga berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan petani sehingga minat masyarakat mengembangkan perkebunan sawit terus bertambah dari tahun ke tahun.

"Banyak penyuluh yang sudah punya bekal menyampaikan ilmu-ilmu tentang sawit ini sehingga dari tahun ke tahun di samping luasan lahan bertambah, masyarakat yang minat menanam sawit ini bertambah," jelasnya.

Ia menambahkan, dibandingkan komoditas perkebunan lainnya, sawit menjadi pilihan masyarakat karena memberikan hasil panen dalam waktu yang relatif lebih cepat sehingga mampu meningkatkan pendapatan keluarga petani.

"Masyarakat berbondong-bondong masuk ke industri sawit. Waktu panennya cepat, jadi pendapatan masyarakat memang jadi lebih cepat," jelasnya lebih lanjut.

Meski perkembangan sawit di Luwu Utara cukup pesat, Wakil Bupati mengakui masih terdapat beberapa persoalan yang memengaruhi kualitas dan harga tandan buah segar (TBS), salah satunya praktik panen buah yang belum sesuai tingkat kematangan.

Melalui pelatihan yang diberikan AKPY, ia berharap kebiasaan tersebut dapat berubah sehingga rendemen minyak meningkat dan harga jual TBS petani menjadi lebih baik.

"Setelah ada pelatihan ini, semoga masyarakat tidak lagi panen saat buahnya masih muda, melainkan panen ketika buahnya matang jadi rendemennya juga jadi lebih bagus," tambah Jumail.

Selain teknik panen, peserta juga dibekali materi mengenai budidaya kelapa sawit yang baik agar kualitas produksi meningkat.

"Kemudian mengetahui bagaimana cara menanam, selain kuantitas kita harapkan kualitas juga jadi lebih bagus sehingga harganya juga bagus karena memang persoalan di Sulawesi Selatan khususnya di Luwu Utara harganya masih dianggap rendah dibandingkan di Sumatera dan Kalimantan," tutupnya.

Melalui pelatihan Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit yang didukung BPDP dan Ditjenbun, diharapkan petani sawit Luwu Utara semakin mampu menerapkan praktik budidaya yang baik, meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen, serta memperkuat daya saing sawit rakyat di tengah tantangan industri kelapa sawit nasional maupun global.