Medan, mediaperkebunan.id – Industri kelapa sawit Indonesia kini resmi memasuki babak baru. Tidak lagi sekadar mengandalkan produksi Minyak Sawit Mentah (Crude Palm Oil/CPO), sektor ini bertransformasi menuju konsep circular bioeconomy (ekonomi bio-sirkular) dengan memanfaatkan limbah sebagai sumber energi terbarukan dan material bernilai tinggi.
Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kerjasama Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Dr. Eng. Himsar Ambarita, S.T., M.T., saat menjadi pembicara dalam konferensi Technology and Policy in Palm Oil Industry (TPOMI) 2026 di Medan, Rabu (9/7/2026).
Dalam pemaparannya, Prof. Himsar mengungkapkan bahwa dari total hasil pengolahan Tandan Buah Segar (TBS), minyak sawit sebenarnya hanya menyumbang sekitar 10 persen. Sementara itu, 90 persen sisanya merupakan biomassa dan limbah yang memiliki potensi ekonomi luar biasa besar.
"Industri sawit tidak lagi memandang limbah sebagai residu produksi yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya (feedstock) bernilai tambah untuk energi terbarukan, material maju, hingga produk berteknologi tinggi," ujar Prof. Himsar.
Ia menambahkan, transformasi ini sejalan dengan dinamika regulasi nasional dan tuntutan pasar global. Sejak era nasionalisasi perkebunan pada tahun 1957 hingga penguatan skema sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), industri sawit dituntut untuk menyeimbangkan ketahanan pangan, kebutuhan energi terbarukan, dan kelestarian lingkungan.
Apalagi dengan skala industri Indonesia yang amat besar—mencapai luas lahan sekitar 16,8 k yang terintegrasi menjadi kunci keberlanjutan.
Inovasi Teknologi Pengolahan Limbah Padat dan Cair
Pengolahan limbah kelapa sawit terbagi ke dalam dua kelompok utama, yaitu limbah padat (solid waste) dan limbah cair (Palm Oil Mill Effluent/POME).
1. Pemanfaatan Limbah Padat (Biorefinery)
Limbah padat seperti Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS/EFB), cangkang (PKS), pelepah (OPF), dan batang sawit (OPT) kini diolah menggunakan teknologi pembakaran (combustion), pirolisis (pyrolysis), serta gasifikasi (gasification).
- Energi Terbarukan: Menghasilkan listrik, panas, bio-oil, biochar, syngas, hingga hidrogen.
- Material Maju: EFB dan OPF diolah menjadi nanocellulose untuk penguat kertas, kemasan ramah lingkungan, dan bioplastik.
- Material Konstruksi: Batang dan pelepah dimanfaatkan untuk particle board, kayu lapis (plywood), dan bahan bangunan rendah karbon.
2. Pemanfaatan Limbah Cair (POME)
POME yang kaya akan bahan organik dan nutrisi diolah melalui sistem pencernaan anaerob (anaerobic digestion), covered lagoon, dan Continuous Stirred Tank Reactor (CSTR) untuk memproduksi biogas, Combined Heat and Power (CHP), hingga Bio-CNG yang sudah diterapkan secara komersial.
Prof. Himsar juga memetakan tingkat kematangan teknologi (Technology Readiness Level) riset energi terbarukan sawit di Indonesia:
- Sangat Matang (Komersial): Pengolahan POME menjadi biogas dan Bio-CNG.
- Tahap Transisi/Uji Coba: Pengolahan biofuel/syngas dari biomassa padat serta komersialisasi nanocellulose.
- Tahap Pengembangan: Penggunaan biomassa untuk material bangunan dan teknologi multi-recovery POME (biohidrogen, pemulihan nutrisi, dan pemanfaatan mikroalga).
Menutup pemaparannya, Wakil Rektor USU tersebut menekankan pentingnya adopsi teknologi digital untuk mendukung industri sawit masa depan.
"Arah riset ke depan akan semakin diperkuat oleh integrasi Internet of Things (IoT), Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI), sensor real-time, dan predictive control. Ini akan menjadi fondasi utama dalam menciptakan industri kelapa sawit yang lebih cerdas, efisien, dan berkelanjutan," pungkasnya.