Tebu Manis namun Punya Banyak Musuh Alami

Tebu Manis namun Punya Banyak Musuh Alami

Cibinong, mediaperkebunan.id – Juga punya musuh, tebu adalah salah satu jenis tanaman perkebunan yang dikelola secara masif oleh para petani dan kalangan industri di Indonesia.Tanaman tebu dinilai manis karena biasanya produk utama yang dihasilkan adalah gula. Tentu saja ada produk turunan lain yang bisa dihasilkan dari tebu, seperti bioetanol yang belakangan ini digarap dengan serius oleh pemerintah.

Namun di balik manisnya tebu, ternyata ada banyak musuh alami yang selalu mengintai tanaman perkebunan yang banyak ditanam di pulau Jawa dan Pulau Sumatera ini.

“Penelitian menunjukkan ekosistem perkebunan tebu di Indonesia memiliki keanekaragaman musuh alami yang cukup tinggi,” kata Nurindah selaku peneliti ahli utama (PAU) di Pusat Riset Tanaman Perkebunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Hal itu dikemukakan Nurindah dalam diskusi EstCrops_Corner#12: “Serangga dalam Agroekosisten Tanaman Perkebunan” yang digelar BRIN belum lama ini.

Nurinda, seperti dikutip mediaperkebunan.id dari laman resmi BRIN, Minggu (30/3/2025), menyebutkan musuh alami tebu mencakup parasitoid telur yang terdiri dari Telenomus spp, Trichogramma spp., dan Tetrastichus spp.Selanjutnya, kata Nurindah, parasitoid larva-pupa yang terdiri dari Rhaconotus sp., Isotima sp., dan Stenobracon sp., serta predator umum terutama dari kelompok semut Formicidae.

Ia menjelaskan bahwa parasitoid telur Telenomus menunjukkan potensi luar biasa dengan tingkat parasitisasi mencapai 72-100 persen di beberapa lokasi. Serangga parasitoid ini berperan sangat penting sebagai agen pengendalian hayati karena menyerang hama pada tahap awal siklus hidup, mencegah terjadinya kerusakan tanaman. Parasitoid larva seperti Isotima sp. juga mampu memberikan tingkat parasitisasi hingga 50 persen. Predator umum seperti semut memiliki peran strategis dalam memangsa telur dan larva neonate sebelum hama tersebut masuk ke dalam jaringan tanaman. “Meskipun belum ada data kuantitatif mengenai daya pemangsaan semut terhadap penggerek pucuk tebu, interaksi “handling time” versus “window of vulnerability” menjadi faktor kunci efektivitas predator ini,” rinci Nurindah.

Untuk mengoptimalkan pemanfaatan musuh alami, kata Nurindah, petani dan pengelola perkebunan perlu memahami kompleksitas interaksi tritrofik antara tanaman tebu, penggerek pucuk, dan musuh alaminya. Praktek pengelolaan habitat yang baik dapat meningkatkan kinerja agen hayati, seperti menjaga vegetasi pendamping sebagai tempat berlindung dan sumber pakan alternatif bagi musuh alami. Penggunaan varietas tebu tahan hama juga perlu diintegrasikan dengan pendekatan pemanfaatan musuh alami. Varietas tahan memiliki karakteristik morfologi seperti lapisan lilin tebal, densitas trichoma tinggi. Di samping itu, ada biokimia yang terdiri dari kadar fenol dan lignin tinggi; dan fisiologis atau kemampuan regenerasi cepat.”Ini semua yang mendukung ketahanan terhadap serangan hama sekaligus dapat sinergis dengan kerja musuh alami,” kata Nurindah membeberkan.

Pengendalian penggerek pucuk tebu dengan memanfaatkan musuh alami bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi merupakan strategi berkelanjutan dalam konsep pengendalian hama terpadu (PHT). “Upaya ini perlu didukung penelitian lebih lanjut mengenai interaksi bitrofik dan tritrofik untuk pengembangan varietas tahan dan metode pengendalian hayati yang lebih efektif,” ujar Nurindah. “Dengan memahami dan memberdayakan potensi musuh alami yang telah ada di alam, kita dapat menciptakan sistem pengendalian hama yang efektif, ekonomis, dan ramah lingkungan untuk mendukung keberlanjutan industri gula nasional,” tegas Nurindah.

BRIN juga mendorong pengembangan varietas tebu yang tahan terhadap serangan hama sebagai langkah strategis dalam mitigasi kerusakan. Menurut Nurindah, integrasi antara pengelolaan habitat, pelepasan agen hayati, dan penerapan varietas tahan merupakan solusi yang saling melengkapi untuk menjaga produktivitas perkebunan. Optimalisasi pengendalian hayati membutuhkan pemahaman mendalam mengenai interaksi antara serangga hama, parasitoid, dan predator di ekosistem tebu. “Dengan memahami dinamika populasi ini, kita dapat merancang strategi pengendalian yang lebih efektif dan ramah lingkungan,” pungkas Nurindah.