Medan, mediaperkebunan.id – Pengelolaan energi yang efektif kini menjadi kunci utama dalam meningkatkan daya saing industri kelapa sawit di Indonesia. Praktisi Perhimpunan Praktisi Kelapa Sawit Indonesia (P3PI), Ir. Edward Silalahi, M.M., mengungkapkan bahwa penerapan langkah efisiensi energi yang tepat berpotensi menghemat konsumsi energi hingga 30 persen pada pabrik kelapa sawit berkategori teknologi konvensional.
Pernyataan tersebut disampaikan Edward saat menjadi pembicara dalam konferensi Technology & Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026 yang berlangsung di Medan, Sumatera Utara, Kamis (9/7/2026).
"Efisiensi energi merupakan salah satu faktor utama dalam meningkatkan daya saing pabrik kelapa sawit. Sekitar 60 sampai 70 persen biaya operasional pabrik berkaitan dengan penggunaan energi. Pengelolaan yang baik tidak hanya menurunkan biaya produksi, tetapi juga meningkatkan Oil Extraction Rate (OER) sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca," ujar Edward di hadapan para peserta konferensi.
Dalam pemaparannya, Edward menjelaskan bahwa kebutuhan energi terbesar berada pada stasiun sterilizer yang mengonsumsi sekitar 40 persen dari total energi pabrik, disusul oleh proses pengepresan, klarifikasi, pengolahan kernel, dan utilitas lainnya.
Mengingat sebagian besar energi pabrik berasal dari biomassa (serat mesokarp dan cangkang) yang dibakar di boiler, peningkatan efisiensi boiler dan jaringan distribusi uap menjadi prioritas mendesak.
Beberapa langkah teknis yang dapat diterapkan untuk mengoptimalkan kinerja boiler antara lain:
- Pencegahan Kehilangan Panas: Pengaturan rasio udara pembakaran, pengendalian kadar air bahan bakar, dan pemasangan economizer untuk memanfaatkan panas gas buang sebagai pemanas awal air umpan.
- Perbaikan Jaringan Pipa: Penanganan kebocoran uap, optimalisasi sistem kondensat, dan penambahan isolasi pada pipa.
- Manajemen Steam Trap: Meningkatkan pengembalian kondensat hingga di atas 80 persen serta melakukan perbaikan rutin pada steam trap untuk menghemat bahan bakar dengan investasi minimal.
Selain pada sistem uap, efisiensi di lini produksi dapat ditingkatkan dengan menjaga suhu digester pada rentang 90–95°C, optimasi waktu sterilisasi, serta penggunaan Variable Frequency Drive (VFD) pada motor utama seperti screw press, pompa, dan blower.
Lebih lanjut, Edward menyoroti pentingnya penerapan Combined Heat and Power (CHP) atau sistem kogenerasi. Pemanfaatan uap boiler untuk menghasilkan listrik sekaligus memenuhi kebutuhan panas proses dinilai memiliki efisiensi jauh lebih tinggi dibanding pembangkit listrik konvensional.
Tak hanya itu, potensi waste-to-energy dari limbah kelapa sawit juga sangat besar:
- Biogas POME: Limbah cair pabrik kelapa sawit (Palm oil Mill Effluent/POME) yang diolah secara anaerobik mampu menghasilkan biogas untuk pembangkit listrik dan memangkas emisi gas rumah kaca sebesar 70–80 persen dibandingkan sistem kolam terbuka.
- Pemanfaatan Biomassa: Tandan kosong sawit (EFB) dapat dikeringkan, dipelletisasi, atau diolah via teknologi gasifikasi dan torefaksi untuk meningkatkan nilai kalor sebagai bahan bakar alternatif.
Untuk menjaga keberlanjutan program efisiensi, Edward merekomendasikan penerapan Energy Management System (EMS) berbasis ISO 50001 yang didukung teknologi digital seperti SCADA, sensor Internet of Things (IoT), power analyzer, dan audit energi berkala.
Ia menyarankan pendekatan bertahap bagi pengelola pabrik:
- Langkah Awal (Investasi Rendah): Perawatan steam trap, perbaikan isolasi pipa, dan peningkatan pengembalian kondensat.
- Langkah Lanjutan: Pemasangan VFD, optimasi boiler, dan penerapan EMS.
- Langkah Strategis: Pembangunan instalasi biogas POME hingga sertifikasi ISO 50001.
"Investasi pada program efisiensi energi ini terbukti mampu memberikan penghematan biaya energi sebesar 20-35 persen, menurunkan emisi gas rumah kaca 25-40 persen, dan mencapai payback period (pengembalian investasi) kurang dari tiga tahun," jelas Edward.
Ia memungkasi pemaparannya dengan menekankan bahwa efisiensi energi bukan sekadar persoalan adopsi teknologi, melainkan pembentukan budaya kerja yang melibatkan komitmen manajemen dan peningkatan kompetensi operator.