SIPEF: Koperasi Karyawan Tingkatkan Produktivitas Pekerja dan Perusahaan

SIPEF: Koperasi Karyawan Tingkatkan Produktivitas Pekerja dan Perusahaan

Jakarta, mediaperkebunan.id - SIPEF Group/PT Tolan Tigas , perusahaan perkebunan asal Belgia  yang sudah beroperasi awal perusahaan perkebunan berdiri di Indonesia, saat ini memiliki karyawan 20.000 orang yang tersebar di Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Bengkulu dengan koperasi karyawan ada 10.

“Secara umum kinerja koperasi karyawan SIPEF bagus. Contohnya koperasi karyawan di Bengkulu pendapatannya mencapai Rp35 miliar/pertahun. Dari sisi bisnis ini bagus . Cuma pertanyaannya apakah sudah dikelola dengan baik, apakah sumberdayanya sudah tepat, tranparansinya sudah oke, sistimnya sudah digitalisasi atau belum, masih ada yang bisa dioptimalisasi atau tidak. Hal-hal seperti ini yang seharusnya dibenahi,” kata Khairul Abdi Nasution, Direktur SIPEF pada Dialog Nasional dan Gerakan Koperasi Karyawan (KOPKAR) “Koperasi Karyawan Sumber Baru Kesejahteraan

Pekerja Indonesia” yang diselenggarakan WISPO (Worker Inisiatif for Sustainable Palm Oil). 

Keberadaan Kopkar juga membuka mata manajemen perusahaan karena secara tidak langsung meningkatkan produktivitas manajemen juga. Perusahaan perkebunan kelapa sawit rata-rata berada di daerah terpencil yang jauh dari pusat  kota/kabupaten. Membeli bahan kebutuhan pokok saja sangat jauh perlu biaya tinggi dan waktu yang relatif lama.

“Kalau manajemen perusahaan memanage pembelian sembako dengan koperasi karyawan maka kan banyak menghemat biaya sehingga akan berdampak pada produktivitas karyawan dan perusahaan, juga terhadap profit perusahaan," katanya.

Manajemen SIPEF sangat mendukung keberadaan koperas karyawan. Sebagaian besar perusahaan perkebunan sawit punya koperasi karyawan dan Khairul yakin bahwa semuanya juga sangat mendukung. Pendanaan awal ketika koperasi didirikan diberi perusahaan jadi bukan mengandalkan iuran anggota. Managemennya dibantu, diadakan pelatihan-pelatihan dan perusahaan juga mengawasi.

“Kita bekerjasama dengan serikat pekerja membesarkan kopkar. Juga dengan Kementerian Koperasi dan dinas yang membidangi koperasi di daerah untuk melatih pengurus koperasi. SIPEF merupakan perusahaan ke delapan tempat saya bekerja. Saya akui tidak semua perusahaan punya koperasi karyawan tetapi perusahaan perkebunan hampir semua punya. Tinggal kita kembangkan saja,” katanya.

Masalah yang dihadapi sebagian besar perusahaan perkebunan, juga banyak perusahaan lain adalah judol dan pinjol yang akhirnya mempengaruhi produktivitas karyawan. Pekerja yang sudah lelah bekerja di lapangan tergiur dengan dana segar pinjol Rp10 juta tanpa sadar harus mengembalikan Rp20-30 juta.

“Tugas manajemen perusahaan dan koperasi karyawan untuk memitigasi pinjol dan judo ini. Koperasi bisa menyalurkan pinjaman dengan bunga yang wajar sehingga akan mengurangi beban karyawan, mereka tidak tertarik pada pinjol lagi. Hal ini juga akan berdampak pada positif pada perusahaan,” katanya.

Sumarjono Saragih, Founder and Chairman WISPO menyatakan praktek baik dari kopkar SIPEF ini bisa direplikasi ke perusahaan-perusahaan perkebuna kelapa sawit lain. Memang banyak perusahaan perkebunan sawit punya kopkar tetapi hanya sekedar ada. Bantuan pertama perusahaan adalah koperasi karyawan berbadan hukum. Pada perusahaan kelapa sawit bersertifikat RSPO/ISPO, koperasi karyawan pasti sudah berkembang baik.

Sumarjono yang juga aAnggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan  menilai, penguatan peran koperasi merupakan langkah strategis dalam membangun ekosistem perlindungan pekerja yang lebih inklusif. Peningkatan kesejahteraan pekerja tidak cukup hanya melalui kenaikan pendapatan dan jaminan sosial, tetapi juga memerlukan kelembagaan ekonomi yang mampu memperkuat ketahanan pekerja beserta keluarganya.

"Koperasi memiliki posisi strategis karena menggabungkan prinsip kebersamaan, kepemilikan anggota, pelayanan ekonomi, serta manfaat jangka panjang bagi anggotanya," ujar Sumarjono.