Medan, mediaperkebunan.id - Industri kelapa sawit di Indonesia tidak hanya berfokus pada produksi minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO), melainkan juga menyimpan potensi limbah biomassa yang amat melimpah untuk dikembangkan menjadi biomaterial masa depan.
Hal tersebut disampaikan oleh Akademisi sekaligus Dosen Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Dr. Ir. Rosdaneli Hasibuan, M.T., dalam konferensi Technology & Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026 yang berlangsung di Medan, Sumatera Utara, Rabu (9/7/2026).
Dalam pemaparannya yang bertajuk "Potensi Limbah Biomassa Kelapa Sawit Sebagai Biomaterial Masa Depan", Prof. Rosdaneli membeberkan bahwa Indonesia menghasilkan jutaan ton limbah biomassa sawit setiap tahunnya. Potensi ini mencakup:
- Pelepah kelapa sawit: ~128,9 juta ton/tahun
- Batang kelapa sawit: ~59,7 juta ton/tahun
- Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS): ~59 juta ton/tahun
- Serat (fiber): ~33 juta ton/tahun
- Cangkang (shell): ~17 juta ton/tahun
"Potensi melimpah ini membuka peluang sangat besar untuk menghasilkan berbagai produk bernilai tambah tinggi melalui sentuhan inovasi teknologi," ujar Prof. Rosdaneli di hadapan para peserta konferensi.
Inovasi Pengeringan TKKS Hingga Biofoam Ramah Lingkungan
Salah satu terobosan yang dikembangkan riset USU adalah pengeringan serat TKKS menggunakan teknologi superheated steam pada suhu 170°C. Metode ini hadir sebagai solusi atas kelemahan sistem rotary dryer konvensional yang kerap menyebabkan serat menggumpal dan memiliki kadar air tidak merata.
Teknologi uap panas ini terbukti efektif menurunkan kadar air serat secara signifikan dari 54% menjadi hanya 2,53%. Hasilnya, serat memiliki warna lebih cerah dan kekuatan tarik (tensile strength) lebih tinggi, sangat ideal sebagai bahan baku papan serat, furniture, hingga isian matras.
Tak hanya itu, tim peneliti USU juga berhasil menciptakan BIOFLAEIS, sebuah produk biofoam ramah lingkungan berbasis limbah pelepah kelapa sawit dan daun pepaya.
"BIOFLAEIS dirancang sebagai alternatif kemasan makanan yang tahan air, antiseptik, antibakteri, dan antijamur. Inovasi ini telah mengantongi paten sederhana dan siap menjadi pengganti kemasan plastik," jelasnya.
Penerapan Ekonomi Sirkular Melalui Pirolisis Terintegrasi
Di sektor energi dan pertanian, pemanfaatan limbah dilakukan melalui teknologi pirolisis, proses pengolahan limbah tanpa oksigen yang menghasilkan biochar (26%), bio-oil (22,16%), dan syngas (51,66%) dari setiap 250-400 kg bahan baku.
- Biochar: Dimanfaatkan sebagai pembenah kualitas tanah.
- Bio-oil: Digunakan sebagai pupuk organik cair sekaligus pestisida alami.
- Syngas: Dimanfaatkan sebagai bahan bakar genset dan ruang bakar.
Pengembangan teknologi pirolisis bermuatan paten ini kini diintegrasikan dengan alat pengering pertanian. Panas buang proses pirolisis dimanfaatkan untuk mengeringkan daun gambir, jahe merah, kopi, hingga beras dalam waktu singkat dengan kadar air akhir yang memenuhi standar penyimpanan.
Material Konstruksi dan Perkerasan Jalan Tahan Beban 24 Ton
Di bidang infrastruktur, riset USU mengolah abu pembakaran cangkang, serat, dan tandan kosong (Palm Oil Fuel Ash/POFA) menjadi mortar geopolimer.
Selain itu, dikembangkan pula teknologi perkerasan jalan berbasis komposit abu cangkang sawit dan crumb rubber (daur ulang ban bekas). Material ini menunjukkan performa luar biasa:
1. Daya Tahan Beban: Mampu menahan beban kendaraan hingga 24,5 ton hanya dalam kurun waktu tiga hari pascapengecoran.
2. Ketahanan Panas: Mampu bertahan dari paparan api hingga suhu 558,7°C.
Rangkaian inovasi ini membuktikan komitmen akademisi dalam mengubah persepsi masyarakat terhadap limbah industri kelapa sawit. Limbah yang dulunya dianggap masalah lingkungan kini bertransformasi menjadi sumber biomaterial bernilai ekonomi tinggi.
Inovasi dari Universitas Sumatera Utara ini diharapkan dapat terus didorong ke skala industri guna memperkuat penerapan ekonomi sirkular serta mendukung terwujudnya industri kelapa sawit Indonesia yang lebih berkelanjutan.