Jakarta, mediaperkebunan.id – Hengky Novarianto, Pakar Kelapa, Profesor Riset BRIN , menyatakan kondisi kelapa saat ini sedang tidak baik-baik saja. Posisi Indonesia saat ini sudah turun jadi produsen nomor 2 dunia dari nomor 1. El nino tahun 2023 membuat produksi turun 50-60 %.Hal ini disampaikan pada Forum dan Workshop “Revitalising the Indonesia Coconut Sector” yang diselenggarakan oleh CKC, HIPKI, Plataforma Asia dan Jicara.
Penyebab turunnya produksi kelapa tanaman kelapa yang semakin tua diatas 60 tahun, rusak dan terkena hama. Peremajaan kelapa lambat karena terbatasnya investasi dihulu; terbatasnya ketersediaan benih unggul; distribusi benih juga jadi masalah.
Bila peremajaan masih berjalan seperti sekarang maka perlu 20 tahun untuk meremajakan semua kelapa yang tua dan rusak. Tanpa aksi nyata segera, maka kelapa Indonesia akan mengalami penurunan pendapatan, ekspor dan kesejahteraan petani. Terbatasnya investasi di hulu membuat sedikitnya peremajaan besar-besaran yang terkoordinasi dengan baik; minat perusahaan swasta untuk terjun dalam perbenihan kelapa juga sedikit sekali bila dibandingkan dengan sawit; kurangnya investasi skala besar membangun kebun benih; insentif terbatas untuk pekebun dan investor membangun kebun benih.
Kondisi ini membuat produksi benih unggul dibawah permintaan; perbanyan benih masih konvensional sehingga jumlahnya terbatas dan waktu lama; kebun benih juga sangat terbatas; investasi perusahaan juga pada benih kelapa minim. Ketersediaam benih unggul varietas nasional 3 juta, varietas lokal 3 juta, total 6 juta.
Masalah distribusi benih adalah regulasi menentukan hanya varietas nasional yang bisa didistribusikan ke seluruh Indonesia, sedang varietas lokal hanya di dalam provinsi saja; pasokan benih dari pohon induk yang ada tidak cukup; sumber benih tersebar di beberapa provinsi dan kebun membuat logistik rumit; mengirim benih antar pulau mahal karena sifat bersifat bulky dan jadi tantangan tersendiri; regulasi mewajibkan setiap varietas yang lolos sebagai varietas unggul membangun kebun induk tetapi kenyataannya tidak dilakukan.
Varietas unggul yang sudah dilepas ada 58, tediri dari 34 varietas kelapa dalam, 14 varietas kelapa genjah, 10 varietas kelapa hibrida. Varietas sudah ada tinggal bagaimana meningkatkan ketersediaanya. Kelapa genjah cocok untuk industri minuman, es krim, kue, gula merah dan kelapa muda di wilayah wisata. Sedang kelapa dalam cocok untuk industri minyak kelapa, VCO, DC, santan, coco fiber dan coco peat, briket arang dan karbon aktif, air kelapa, nata de coco dan lain-lain.
Harus ada aksi nyata untuk membangun kebun induk dalam skala luas dan modernisasi teknologi perbanyakan; memperbaiki sistim distribusi benih dengan hub regional dan insenfif logistik yang layak; menarik investasi swasta, tidak ada investasi sekarang maka tidak akan ada kelapa kedepan; mempercepat program peremajaan. Tanpa cara ini maka industri kelapa nasional akan menyusut.
Jalan yang harus ditempuh adalah membangun kebun induk daerah, meningkatkan distribusi benih bersertifikat; meningkatkan kemitran masyarakat dan perusahaan, beri insentif pada pekebun yang meremajakan kebun kelapanya.
Membangun perkebunan dan sumber benih dengan pola inti plasma dengan luas 50.000 ha, inti 60-80% sedang plasma 20-40%. Inti punya kebun benih dan produksi, juga membina plasmanya. Kelapa plasma dijual pada inti yang memiliki pabrik pengolahan juga.
Kebun benih yang dibangun inti terbagi menjadi kelapa dalam 5 varietas masing-masing 50 ha total ada 250 ha, 3 varietas kelapa genjah masing-masing 50 ha total 150 ha, 2 varietas kelapa hibrida masing-masing 50 ha total 100 ha. Dengan kebun benih seluas ini dapat dihasilkan 3 juta benih kelapa dalam/tahun, 4 juta benih kelapa genjah, dan 1 juta benih kelapa hibrida. Total 8 juta benih yang dihasilkan mampu memenuhi kebutuhan peremajaan, rehabilitasi dan penanaman baru seluas 46.000 ha/tahun.
Contoh yang bagus adalah PT Dewa Coco di Halmahera Barat yang menanam berbagai varietas di sekitar pabrinya yaitu hibrida Hengniu, genjah kopyor, dalam bido, dalam upat-upat SA, dalam lokal, genjah kuning Bali sebanyak 5.000 pohon.
Kebijakan yang diharapkan dari pemerintah adalah percepatan peremajaan dengan menggunakan varietas unggul, termasuk unggul lokal untuk kebun inti plasma; bekerjasama dengan Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian Palma untuk memasok tanaman induk ke perusahaan inti; bekerjasaa dengan BRIN dan BPRM Palma untuk observasi sumber benih unggul lokal di sekitar perkebunan. Pemerintah juga membiayai infrastruktur di sekitar kebun benih. Memfasilitasi supaya perusahaan swasta mau ikut serta.