Caruban, mediaperkebunan.id – Lahan perkebunan kakao Anda memiliki problem kesuburan? Perkenalkan, ini ada agen pembenah tanah secara alami yang mampu menyehatkan dan menyuburkan lahan perkebunan kakao Anda tersebut.
Agen pembenah tanah secara alami tersebut, seperti dikutip Mediaperkebunan.id dari laman resmi BRIN, Senin (19/5/2025), bernama Arthrospira maxima dan Jaaginema sp. yang merupakan hasil riset pemanfaatan mikroalga sianobakteria.
Proses riset itu dilakukan oleh Dwi Susilaningsih selaku peneliti ahli utama (PAU) pada Pusat Riset Mikrobiologi Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan dipaparkan di Desa Bodag, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur (Jatim), belum lama ini.
Saat itu berlangsung sebuah pelatihan guna mencari solusi untuk menyikapi problem yang dihadapi oleh para petani kakao di Desa Bodag yang diadakan oleh Direktorat Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Kementerian/Lembaga, Masyarakat, dan Usaha Mikro Kecil Menengah BRIN.
Saking seriusnya problem yang dialami para petani kakao di Desa Bodag itu, BRIN menghadirkan sejumlah pembicara berkompeten, baik dari BRIN sendiri maupun dari luar negeri, untuk tampil dalam pelatihan tersebut.
Mereka di antaranya adalah Analis Kebijakan Ahli Madya BRIN Wihatmoko Waskitoaji, lalu ada pula PAU PRMT BRIN Dwi Susilaningsih, serta satu pembicara dari luar negeri yang bernama ChungKuang Jow.
Nah, diketahui kalau ChuangKuang Jow menjadi narasumber dari The Green Division, Faculty of Engineering, Feng Chia University, Taichung, Republik Taiwan.
Menurut Dwi Susilaningsih, teknologi riset pemanfaatan mikroalga sianobakteria itu telah diuji pada berbagai jenis lahan marginal dan karst yang memiliki kandungan kapur tinggi dan porositas besar, termasuk pada lahan kakao di Kabupaten Blora.
“Formulasi konsorsium mikroalga cair yang kami kembangkan mampu meningkatkan kandungan nitrogen, fosfat total, dan karbon organik dalam tanah,” ungkap Dwi lagi.
Hal ini, bebernya, berdampak langsung pada peningkatan pertumbuhan dan produktivitas tanaman, termasuk kakao. Dwi bilang, paparannya tersebut berdasarkan hasil uji lapangan tahun 2018–2020.
Metode ini, kata dia lagi, tidak hanya terbukti efektif dalam meningkatkan kesuburan tanah, tetapi juga ramah lingkungan dan tidak meninggalkan residu kimia.
“Petani kakao dilatih secara praktis dalam proses pencampuran, aplikasi, dan pengamatan hasil formulasi di lapangan,” saran Dwi Susilaningsih lebih lanjut.
Dirinya menekankan bahwa pendekatan kimiawi yang selama ini digunakan oleh petani tidak berkelanjutan.
“Pestisida kimia memang cepat, tetapi berdampak buruk pada tanah, mikroorganisme baik, dan bahkan menyebabkan resistensi hama,” Dwi Susilaningsih mengingatkan.
“Dengan pendekatan hayati seperti penggunaan feromon atau mikroba antagonis, maka sesungguhnya kita bisa menjaga keberlanjutan ekosistem kebun, dalam hal ini kebun kakao milik petani di Desa Bodag ini,” ungkapnya.
Hal ini, tambah Dwi Susilaningsih, merujuk pada data dan teknologi pengendalian hama dari studi BRIN dan aksi kolaborasi yang dilakukan berskala internasional.
Selain perbaikan tanah, pelatihan juga membahas strategi pengendalian hama dan penyakit tanaman kakao menggunakan pendekatan hayati.
Petani dikenalkan metode identifikasi gejala hama utama serta cara pengendaliannya menggunakan agen biologi dan teknologi feromon.
“Dengan memonitor populasi ngengat, dapat digunakan untuk menentukan pemanfaatan pestisida yang lebih efektif. Pendekatan ini bertujuan mengelola hama dan meminimalkan dampak buruk penggunaan pastisida,” jelas ChungKuang Jow.
Menurutnya, pemanfaatan karakteristik feromon hama memiliki keunggulan, yaitu tidak beracun, memiliki target spesifik, efektivitas tinggi, biaya murah, serta dapat diaplikasikan kapan saja.
Wah, tampaknya penggunaan Arthrospira maxima dan Jaaginema sp. yang merupakan hasil riset pemanfaatan mikroalga sianobakteria sebagai agen pembenah tanah secara alami sangat bagus kalau diterapkan para pekebun kakao di mana pun yang mengalami problem kesuburan lahan.