Jakarta, mediaperkebunan.id - Salah satu tugas Pertamina adalah mengurangi impor bensin dan elpiji. Sawit menjadi salah satu sumber bahan baku utama untuk menggantikan bbm impor. Oki Muraza, Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) menyatakan hal ini pada Pekan Riset Sawit 2026 yang diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Untuk memastikan ketahanan energi salah satu strategi Pertamina adalah scaling up biofuel ecosystem, membangun ekosistem mulai dari bahan baku sampai jadi BBM. Minyak sawit dengan potensi produksi 4.500 liter/ha dan tankos dengan produksi 26,1 juta ton basis kering per tahun.
Sesuai dengan road map yang dibuat oleh Menteri ESDM maka tahun 2026 bioetanol 5% untuk Jawa, 2027 5% Jawa dan Bali, 2028 10% Jawa Bali, 2029 10% Jawa Bali, 2030 10% Jawa Bali Lampung. Biodiesel sampai tahun 2030 50%. Diesel Bio Hidrokarbon 2026-2027 5%, 2028-2030 10%. Bioavtur (SAF) 2027 – 2028 1%, 2029-2030 5%, pesawat yang terbang dari Soekarno Hatta, Tangerang dan Ngurah Rai , Badung.
Produk biofuel Pertamina yang sudah berjalan adalah Pertamina biosolar yaitu pencampuran FAME dengan diesel. Pertamax green 95 pencampuran 5% etanol sedang dalam proses. Pertamina Renewable Diesel yaitu Hydrotreated Vegetable OIL atau Green Diesel punya potensi dan Sustainable Aviation Fuel sedang bekerjasama dengan beberapa pihak. HVO dan SAF akan diproduksi bersamaan.
Dengan B50, Indonesia merupakan negara dengan implementasi blending biodiesel tertinggi di dunia. Malaysia sudah 20%, Brazil 15% dan Kolombia 15%. Penghematan devisa mencapai Rp170 triliun/tahun dan penurunan emisi 44,6 juta ton setara karbon/tahun.
Saat ini 86 dari 121 terminal BBM sudah menyalurkan B50 mencakup seluruh fasilitas depot, terminal transit dan ship to ship di seluruh Indonesia. Terminal titik serah salur B50 ada 40 merupakan fasilitas utama yang telah siap dan dikhususkan untuk distribusi pencampuran B50. Sedang 35 terminal lagi dalam transisi B40 ke B50 , dalam proses penyesuaian dari standar B40 ke B50.
Bioetanol merupakan solusi untuk mengurangi ketergantungan impor bensin sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Pertamax 95 Green yang merupakan pencampuran etanol 5% (E5) dengan ron 95 dan pencampuran sulfur <50 ppm (memenuhi Euro IV). Saat ini sudah dijual di 181 SPBU di Pulau Jawa.
Sudah dilakukan groundbreaking pabrik bioetanol di Glenmore, Banyuwangi, kerjasama PT Sinergi Gula Nusantara, PTPN III Holding dengan PT Pertamina. Mengolah molase dan pabrik gula PT SGN dengan kapasitas 120.000 kilo ton/tahun dan kapasitas produksi 30.000 kiloliter/tahun.
Molase merupakan generasi pertama bioetanol dengan bahan baku berbasis gula dan pati. Molase merupakan produksi samping pabrik gula dengan kadar gula tinggi. Sebagai hasil samping tidak berkompetisi dengan gula. Tantangannya adalah mengamankan bahan baku dari segi jumlah dan harga yang ekonomis.
Pertamina juga menjajaki produksi etanol dari sorgum. Bulirnya mengandung pati sedang batangnya mengandung nira. Mampu menghasilkan pangan dan energi secara bersamaan. Masalahnya adalah penetrasi pasar bulir gandum karena batangnya yang digunakan untuk bioetanol.
Aren juga dijajaki sebab bunganya kalau disadap ada nira dengan produktivitasnya tinggi. Tantangannya adalah mekanisasi, penyediaan untuk food dan ketersediaan.
Sedang generasi ke 2 bahan baku etanol adalah dari tandan kosong sawit. Bahan baku melimpah tetapi masalahnya adalah rantai pasok bahan baku dan biaya proses yang tinggi, mengolah lignoselulosa tandan kosong sawit jadi selulosa kemudian dipecah jadi glukosa. Oki menantang peneliti menghasilkan proses produksi yang ekonomis. Dari 26,13 juta ton tankos kering potensi produksi etanolnya adalah 4,3 juta kiloliter /tahun.
Sedang SAF dengan penggunaan katalis domestik yang diproduksi PT Katalis Sinergi Indonesia dari semula ketika menggunakan katalis impor hanya bisa mengolah minyak bumi mentah jadi avtur dan diesel jadi mampu memasukan (co processing), UCO (Used Cooking Oil) atau minyak jelantah jadi SAF maksimal 3% UCO dan HVO dari RBDPO.
Pasar SAF adalah industri penerbangan luar negeri. Tantangannya adalah bagaimana mendapatkan minyak jelantah dalam jumlah banyak dan ekonomis.