Pelatihan AKPY Dorong SDM Sawit Luwu Utara Naik Kelas Hadapi Tantangan Global

Pelatihan AKPY Dorong SDM Sawit Luwu Utara Naik Kelas Hadapi Tantangan Global

Makassar, mediaperkebunan.id - Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) telah melakukan Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan Kelapa Sawit bagi 92 petani Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan selama 7 hari yaitu tangal 24 - 30 Juli 2026 di Makassar. Program yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi petani sehingga mampu menghasilkan kelapa sawit yang lebih produktif, berkelanjutan, dan berdaya saing.

Direktur AKPY, Dr. Sri Gunawan, S.P., M.P., IPU, mengatakan pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen BPDP dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia perkebunan Indonesia. Menurutnya, BPDP terus meningkatkan investasi di sektor pengembangan SDM, baik melalui pelatihan maupun program beasiswa.

"Tahun ini BPDP melakukan pelatihan untuk 15.900 petani di seluruh Indonesia, dan jumlahnya akan terus meningkat setiap tahun. Selain pelatihan, BPDP juga menyediakan program beasiswa bagi generasi muda perkebunan. Tahun ini ada sekitar 5.000 penerima beasiswa, dengan nilai pembiayaan pendidikan hingga sekitar Rp75 juta per mahasiswa sampai lulus," ujarnya.

Ia berharap semakin banyak putra-putri petani dari Luwu Utara yang memanfaatkan program tersebut pada tahun mendatang. Menurut Sri Gunawan, dana yang dikelola BPDP sejatinya berasal dari industri kelapa sawit dan dikembalikan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan pekebun melalui berbagai program pengembangan.

Ia menegaskan bahwa kelapa sawit merupakan komoditas strategis Indonesia yang hingga kini masih mampu menjadi pemimpin di pasar global. Namun, industri sawit nasional juga menghadapi berbagai tantangan yang harus diantisipasi oleh petani. "Tahun lalu beras di Indonesia swasembada nomor satu, gula, jagung, kakao, sekarang tidak ada komoditas pertanian yang menang dari luar negeri kecuali kelapa sawit. Maka kelapa sawit jangan sampai kalah dengan luar negeri," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Sri Gunawan memaparkan lima tantangan utama yang saat ini dihadapi perkebunan sawit rakyat. Tantangan pertama adalah rendahnya produktivitas kebun rakyat. Menurutnya, kebutuhan minyak sawit nasional akan terus meningkat seiring implementasi program biodiesel B50 sehingga produktivitas harus terus didorong.

"Semoga dari 3 ton per hektar setelah pelatihan ini jadi 5 ton per hektar. Karena kualitasnya sudah tinggi dan harganya otomatis harga jadi lebih tinggi," ujarnya.

Tantangan kedua adalah ketertelusuran (traceability) hasil panen. Sri Gunawan menjelaskan bahwa seluruh TBS yang dikirim ke pabrik kelapa sawit harus memiliki asal-usul yang jelas melalui Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB).

Selanjutnya, tantangan ketiga adalah aspek keberlanjutan (sustainability). Ia mengingatkan petani agar tidak membuka atau mengelola kebun di kawasan hutan karena hasil panennya tidak dapat diterima oleh pabrik.

Tantangan berikutnya berkaitan dengan European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang mewajibkan minyak sawit yang diekspor ke pasar Eropa berasal dari lahan yang tidak terkait dengan deforestasi.

Adapun tantangan kelima adalah implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sebagai standar keberlanjutan perkebunan sawit Indonesia. "Implementasi ISPO yang masuk dalam materi pelatihan ini merupakan salah satu pintu untuk menyelesaikan tantangan-tantangan di atas," tegasnya.

Ia berharap seluruh materi yang diterima peserta dapat diterapkan di kebun masing-masing sehingga kualitas dan produktivitas sawit rakyat Luwu Utara meningkat.

"Pelatihan-pelatihan ini kami sangat berharap petani sawit Lutra naik kelas sehingga kualitas sawit bagus, produktivitas tinggi, harga jual jadi lebih baik. Semua itu bisa berhasil dengan adanya dukungan dari Dinas Pertanian dan Pemerintah Luwu Utara," katanya.

Pemda Dorong Pelatihan Berlanjut

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Luwu Utara, Pasalongan, mengapresiasi pelaksanaan pelatihan tersebut dan berharap lebih banyak petani dapat memperoleh kesempatan serupa.

"Banyak petani lain di Lutra untuk mendapatkan pelatihan, agar sawitnya bisa bersaing dengan petani sawit di Indonesia. Saya selaku Kepala Dinas Pertanian Luwu Utara sangat bangga dan senang sekali dengan kegiatan ini," ujarnya.

Senada dengan itu, Wakil Bupati Luwu Utara, Jumail Mappile, menilai sektor sawit merupakan salah satu penopang utama perekonomian daerah. Saat ini Luwu Utara memiliki sekitar 32.000 hektare perkebunan sawit dan 28.000 hektare lahan sawah yang menjadi komoditas unggulan.

Menurutnya, kesempatan mengikuti pelatihan seperti ini merupakan peluang berharga bagi petani karena sulit diperoleh secara mandiri.

"Pada kesempatan ini untuk teman-teman yang menjadi peserta banyak keuntungan yang didapat, tidak mudah untuk ikut ini secara mandiri. Ketika ada lembaga yang menyiapkan ruang mendapatkan ilmu ini harus diapresiasi dan berterima kasih," katanya.

Ia berharap ilmu yang diperoleh mampu meningkatkan produktivitas sawit rakyat.

"Kita berharap ketika sekarang misalnya sawit rakyat masih menghasilkan 2–3 ton per hektar per tahun mudah-mudahan bisa lebih lagi. Karena kalau perkebunan biasanya 5–6 ton per hektar per tahun," ujarnya.

Petani Akui Wawasan Bertambah

Pelatihan selama enam hari tersebut juga meninggalkan kesan positif bagi para peserta. Salah satunya disampaikan oleh Jumhari, peserta pelatihan ISPO.

Menurutnya, materi yang diberikan instruktur AKPY membuat proses sertifikasi ISPO yang semula dianggap rumit menjadi lebih mudah dipahami.

"Terkait dengan ISPO, pertama kali mengikuti ISPO ternyata ISPO rumit penuh dengan data, ternyata setelah diajari ternyata di internet juga lengkap setelah dipandu instruktur AKPY. Berkat para instruktur, semakin meningkat pengetahuan teknologi untuk kita," ungkapnya.

Ia berharap pelatihan serupa dapat terus dilaksanakan karena masih banyak pengetahuan yang perlu dipelajari dalam industri kelapa sawit.

"Harapan ke depan mudah-mudahan ini berkelanjutan. Setelah beberapa hari kami jujur masih merasa kurang karena banyak yang perlu dilakukan dan dipelajari di industri kelapa sawit. Banyak tantangan juga yang dihadapi di sana. Semoga ini semua dapat berkelanjutan," katanya.

Sementara itu, peserta kelas Budidaya, Ismail SP, mengaku awalnya menganggap pelatihan tersebut tidak terlalu penting. Namun setelah mengikuti seluruh rangkaian materi, ia menyadari masih banyak praktik budidaya yang perlu diperbaiki.

"Awalnya berpikir ini tidak penting ternyata setelah dipelajari banyak yang salah dari yang sudah kita lakukan, dari persiapan lahan, pemupukan, sampai pasca panen," ujarnya.

Ia juga mengapresiasi fasilitas pelatihan yang disediakan BPDP serta berharap materi ke depan semakin lengkap.

"Harapannya ke depan materinya lebih lengkap sampai pasca panen. Nilai positif yang didapat nilai keakraban, kekompakan, sampai bagaimana meningkatkan persentase nilai angka harga sawit di Luwu Utara, itu perjuangan kami setelah dari sini. Harapannya setelah dari sini harga TBS Luwu Utara bisa langsung meningkat," pungkasnya.