Merombak Tradisi Pabrik Sawit: SIPEF Group Tekankan Keamanan Pangan dan Teknologi Modern di TPOMI 2026

Merombak Tradisi Pabrik Sawit: SIPEF Group Tekankan Keamanan Pangan dan Teknologi Modern di TPOMI 2026

Medan, mediaperkebunan.id - Industri kelapa sawit Indonesia kini memasuki era baru yang menuntut standar tinggi pada keberlanjutan, keamanan pangan, dan adaptasi teknologi modern. Dalam konferensi Technology & Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026 yang berlangsung di Medan, Sumatera Utara, Kamis (9/7/2026), SIPEF Group/PT Tolan Tiga Indonesia membagikan pengalamannya merombak tradisi operasional lama demi menjawab tantangan pasar global.

Melalui pemaparan bertema “Penerapan Manajemen Modern di Perkebunan dan Pabrik Sawit (Pengalaman Merombak Tradisi yang Tidak Relevan)”, Mohammad Irwansyah, Regional Control Mill North Sumatera SIPEF Group/PT Tolan Tiga Indonesia, menegaskan pentingnya transformasi menyeluruh pada pabrik kelapa sawit.

"Indonesia memegang tanggung jawab besar sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia dengan kontribusi sekitar 58% dari total produksi global. Untuk mempertahankan daya saing internasional, pengolahan sawit tidak bisa lagi hanya mengejar volume produksi, tetapi harus menjamin mutu, keberlanjutan, dan keamanan pangan," tegas Mohammad Irwansyah.

Menurut Irwansyah, penilaian mutu pabrik sawit tradisional dulu hanya berpatokan pada indikator standar seperti Oil Extraction Rate (OER), Free Fatty Acid (FFA), kadar air, kadar kotoran, dan DOBI. Namun saat ini, parameter berkembang pesat mencakup kepatuhan standar internasional, jejak karbon, digital traceability, prinsip ESG, hingga ekonomi sirkular.

Ia mengingatkan bahaya kerugian akibat mutu yang buruk (Cost of Poor Quality). Kerugian tersebut tidak sekadar biaya pengerjaan ulang (rework) atau pengujian tambahan, melainkan potensi kehilangan akses pasar dan kerusakan reputasi bisnis secara permanen.

Fokus utama pemaparan Irwansyah menyoroti pengendalian kontaminan pangan seperti MOSH (Mineral Oil Saturated Hydrocarbon), MOAH (Mineral Oil Aromatic Hydrocarbon), dan Chloride yang menjadi perhatian ketat negara-negara tujuan ekspor.

MOSH dapat terakumulasi dalam jaringan tubuh manusia, sementara MOAH berpotensi bersifat karsinogenik. Untuk memitigasi risiko kontaminasi oli mesin atau pelumas, PT Tolan Tiga Indonesia menerapkan serangkaian langkah konkrit:

  • Penerapan Good Milling Practice (GMP) dan penggunaan pelumas food grade.
  • Penerapan engineering control melalui pemasangan spill tray di area rawan bocor (hydraulic loading ramp, digester, screw press, hingga sterilizer).
  • Program preventive maintenance serta audit pelumasan berkala.

Selain itu, pengendalian kadar chloride juga menjadi prioritas untuk mencegah terbentuknya senyawa berbahaya 3-MCPD saat pemurnian CPO. SIPEF menetapkan ambang batas ketat kadar chloride di bawah 2 ppm.

"Kami mengimplementasikan teknologi CPO Washing Plant menggunakan separator dan decanter untuk memicu perpindahan ion klorida ke fase air. Hasilnya, kadar chloride dapat diturunkan secara signifikan," jelasnya.

Penerapan Budaya 5R/5S dan Inovasi Energi Hijau Bio-CNG

Di sisi operasional dan lingkungan, PT Tolan Tiga Indonesia menekankan pentingnya budaya 5R/5S (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) di area kerja pabrik. Pabrik yang bersih dan terawat tidak hanya menjamin keamanan produk, tetapi juga memperpanjang umur peralatan dan meningkatkan keselamatan kerja.

Untuk mendukung keberlanjutan lingkungan dan target net-zero emission, perusahaan juga mengembangkan pemanfaatan Bio-CNG berkapasitas 290 MMBtu per hari dari pemurnian biogas hingga kadar metana melebihi 95 persen.

Perusahaan juga mengganti sistem pembakaran gas (flare) dari open flare menjadi enclosed flare. Inovasi ini mendongkrak efisiensi penghancuran metana dari 50 persen menjadi 90 persen, sehingga menekan emisi gas rumah kaca secara drastis.

Melalui integrasi antara manajemen mutu modern, standar keberlanjutan (RSPO, ISPO, ISCC, Halal, HACCP), serta digitalisasi proses, SIPEF Group membuktikan bahwa modernisasi pabrik sawit adalah investasi strategis. Transformasi ini menjadi kunci utama bagi industri kelapa sawit nasional untuk terus memimpin pasar global secara berkelanjutan.