Yogyakarta, mediaperkebunan.id - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy sudah lama diminta Presiden Prabowo Subianto untuk mengurus hilirisasi sawit. Rahmat selama ini mencari jawabannya dan belum ketemu.
Akhirnya ketemu ketika berkunjung ke Teaching Factory Steamless Palm Oil Technology, hasil kerjasama Petrus Tjandra dengan Instiper di Yogyakarta. “Hilirisasi sawit bisa terjadi kalau hulunya beres, harus ada tarikan. Saya deklarasikan minyak sawit rendah emisi karbon, energi dan air,” katanya.
Menurut Petrus Tjandra SPOT (Steamless Palm Oil Technology) ini berusaha mengintegrasikan semua hasil riset. Seperti padi yang diambil hanya bulir gabahnya saja sedang jerami ditinggal di sawah, demikian juga proses pada pabrik SPOT.
Buah dibrondol di kebun dan dibawa ke pabrik sedang tandan kosong dibiarkan dikebun. Ada alat pembrodolan yang disebut detacher. Selama ini di PKS tandan kosong merupakan limbah dan jadi masalah karena menumpuk. Dengan cara ini maka unsur hara tandan kosong tetap ada di kebun. Dengan demikian yang masuk ke pabrik SPOT buah brondolan.
Data Kemenperin CAPEX SPOT Rp2,6 miliar/ton TBS/jam sedang PKS konvensional Rp 3,4 miliar dan IVO/ILO (Industrial Vegetable Oil/Industrial Linoleic Oil) Rp3,6 miliar. Biaya produksi SPOT Rp112/kg TBS, PKS konvensional Rp185, IVO/ILO Rp200/kg. Basis rendemen PKS konvensional 100%, SPOT 102%, IVO/ILO 99%. BEP/PBP SPOT 3 tahun, PKS konvensional 5 tahun, IVO/ILO 4,5 tahun.
SPOT ini tanpa uap tetapi buahnya dipanggang dengan udara panas dari syngas. Pemanggangan ini membunuh enzim lipase pemicu kerusakan minyak, sedang zat yang bermanfaat tetap ada. Saat ini sedang diteliti pemanggang mengunakan microwave. Pada PKS konvensional, proses pemerasan minyak menggunakan screw press, kalau terlalu kuat maka nut pecah dengan konsesus ≥15%, kalau kurang maka minyak pada mesocarp tidak optimal terkutip.
Petrus juga membuat alat pemisah mesocarp dan nut bernama demesocarper. Jadi pada SPOT hanya mesocarp yang masuk ke screw press dengan hasil Palm Mesocarp Oil (PMO). Nut yang brokenya dibawah 5% diolah jadi PKO. PKO harganya mahal jadi produksi PKOnya juga lebih tinggi.
PMO dengan banyaknya zat bermanfaat di dalamnya menurut penelitian UI bisa jadi fitronutient. Penelitian Unila bisa jadi produk water on oil emulsion sebagai bahan bakar baik biogasoline maupun biodiesel. Sedang PKO jadi bioavtur.
PMO yang sudah diolah jadi refinery PMO olein menurut hasil penelitian UI kadar beta karoten (vitamin A) 633,356 ppm, jauh lebih tinggi daripada kapsul vitamin A yang beredar dengan kandungan 300 ppm. Tokoferol (vitamin E) 913,71 ppm. Sedang pada olein (minyak goreng) dari CPO semuanya nol.
PKS saat ini rata-rata dalam 4 bulan ketika produksi sedang bagus beroperasi 60% dari kapasitasnya. Sisanya 8 bulan 40% dari kapasitas, bulan-bulan trek lebih sedikit lagi. Pada SPOT bisa beroperasi optimal setiap bulan karena buah ketika sedang banyak bisa disimpan dan diolah ketika sedang produksi sedang sedikit. Dengan dry (proses kering) TBS disimpan dengan pengeringan suhu rendah <800. Air berkurang aktivitas enzim berhenti. FFA tetap rendah, kualitas terjaga.
Penelitian DR Hisyam Musthafa Al Hakim dari UGM menunjukkan emisi PKS adalah 1.261,4 kg CO2 eq/ ton minyak. Kontribusi terbesar dari POME sebesar 1.026,4 ton. Sedang SPOT karena tidak menghasilkan POME emisinya hanya 269.7 kg/ton. Menteri LH sudah melarang penggunaan POME sebagai pupuk di kebun (land application). Solusi yang paling tepat adalah pabrik tanpa POME.
Pabrik SPOT yang sudah berdiri ada di Muaro Jambi, pabriknya bersih karena untuk pangan. Sedang pabrik kedua sebagai teaching industry di Instiper Jogya. Sebagai institusi Pendidikan khusus sawit Instiper bisa mengkaji pabrik ini dari segala sisi. Pabrik ini juga akan jadi tempat bagi siapa saja yang ingin tahu SPOT. “Pabrik SPOT ini cocok dikembangkan oleh petani. Sudah saatnya petani punya pabrik sendiri dan SPOT jawabannya,” kata Petrus.