Jakarta, mediaperkebunan.id — Sekjen GAPKI, Hadi Sugeng, optimistis pada tahun 2026 produksi minyak sawit dapat mencapai 58,8 juta ton, naik dibandingkan dengan tahun 2025 yang mencapai 56,55 juta ton. Total konsumsi dalam negeri diperkirakan mencapai 26 juta ton, sedangkan ekspor sebesar 31 juta ton.
El Nino kuat yang terjadi pada tahun 2026 diperkirakan mempengaruhi produksi tahun 2027, dengan proyeksi mencapai 56,66 juta ton. Padahal, potensi produksi jika tidak ada El Nino diperkirakan mampu menyentuh angka 60 juta ton. Konsumsi dalam negeri diperkirakan naik menjadi 30 juta ton, yang disebabkan oleh peningkatan alokasi biodiesel dari 14,7 juta ton menjadi 17,4 juta ton. Sementara itu, volume ekspor diperkirakan turun menjadi 26,5 juta ton.
“Kalau ekspor semakin menurun, pungutan ekspor oleh BPDP akan bermasalah. Pungutan ekspor yang digunakan untuk insentif biodiesel, PSR, beasiswa, dan riset akan terganggu. Tahun ini tidak ada masalah, tetapi tahun depan akan menjadi masalah, terutama untuk biodiesel. Sejak April sampai sekarang, tingginya harga minyak bumi membuat insentif biodiesel tidak ada,” kata Hadi.
Mulai tahun 2025 sampai sekarang, harga minyak sawit hampir sama dengan harga minyak nabati lainnya. Kondisi ini dinilai tidak ideal, sebab untuk tetap kompetitif, harga minyak sawit seharusnya lebih rendah USD100/ton. Di sisi lain, minyak kedelai yang memanfaatkan mekanisasi berhasil menekan biaya produksi. Sementara itu, kelapa sawit masih bergantung pada tenaga kerja yang upahnya selalu naik setiap tahun. Oleh karena itu, industri sawit memerlukan mekanisasi untuk menekan biaya produksi.
Produktivitas kelapa sawit perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan ekspor dan dalam negeri. Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menjadi kuncinya, termasuk dengan menghilangkan berbagai hambatan seperti kebun rakyat yang terindikasi masuk kawasan hutan. Kondisi ideal yang diharapkan adalah produksi tetap tinggi dan ekspor juga tinggi.
Produksi CPO pada bulan Agustus 2026 mencapai 4.880.000 ton, turun 0,5% dari bulan Juli 2026 yang sebesar 4.904.000 ton. Produksi PKO juga mengalami penyesuaian dari periode sebelumnya. Secara keseluruhan, total produksi CPO + PKO turun 0,5%. Secara kumulatif pada periode Januari–Agustus 2026, total produksi CPO + PKO mencapai 40.997.000 ton, atau lebih tinggi 5,02% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025 sebesar 39.307.000 ton.
Total konsumsi dalam negeri tercatat 2.304.000 ton, naik 1,28% dibandingkan dengan bulan Juli sebesar 2.275.000 ton. Konsumsi biodiesel naik 5,03% dari 1.285.000 ton menjadi 1.350.000 ton. Sektor pangan turun 3,79% dari 805.000 ton menjadi 775.000 ton, dan oleokimia turun 2,7% dari 185.000 ton menjadi 180.000 ton. Secara kumulatif, konsumsi dalam negeri periode Januari–Agustus 2026 mencapai 17.523.000 ton, naik 6,18% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 16.406.000 ton.
Total ekspor produk sawit pada Agustus 2026 mencapai 3.588.000 ton, naik 12,56% dibandingkan dengan bulan Juli sebesar 3.188.000 ton. Ekspor olahan sawit meningkat 15,2% dari 2.275.000 ton menjadi 2.643.000 ton. Ekspor CPO meningkat 31,83% dari 249.000 ton menjadi 329.000 ton. Ekspor olahan inti sawit meningkat 14,58% dari 99.000 ton menjadi 113.000 ton. Ekspor CPKO turun 62,54% dari 7.000 ton menjadi 3.000 ton. Secara kumulatif, ekspor periode Januari–Agustus 2026 mencapai 23.370.000 ton, lebih tinggi 2,79% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 22.696.000 ton.
Nilai ekspor produk sawit pada Agustus 2026 mencapai USD4,29 miliar, naik 12,62% dari bulan Juli sebesar USD3,81 miliar. Harga rata-rata CPO tercatat USD1.164/ton, lebih rendah 0,34% dibandingkan dengan bulan Juli sebesar USD1.168/ton. Secara kumulatif, nilai ekspor periode Januari–Agustus 2026 mencapai USD27,55 miliar, lebih tinggi 11,41% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar USD24,78 miliar. Hal ini disebabkan oleh harga pada tahun 2026 yang relatif lebih baik, dengan harga rata-rata CPO periode Januari–Agustus 2026 sebesar USD1.140/ton, sedangkan pada periode yang sama tahun lalu sebesar USD1.075/ton.
Berdasarkan negara tujuan, peningkatan ekspor pada Agustus 2026 terjadi ke Pakistan sebesar 113% (265.000 ton), India 27% (89.000 ton), Rusia 250% (77.000 ton), Bangladesh 48% (66.000 ton), dan Malaysia 26% (38.000 ton). Penurunan ekspor terjadi ke Uni Eropa (EU-27) sebesar 44% (160.000 ton), Amerika Serikat (USA) 14% (36.000 ton), Tiongkok 3% (9.000 ton), dan Afrika 3% (13.000 ton). Secara akumulatif pada periode Januari–Agustus 2026, ekspor ke Tiongkok tercatat 24,7% lebih tinggi, Rusia 11,5%, Malaysia 7,8%, Bangladesh 6,2%, dan Afrika 3,8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, ekspor ke India 20,2% lebih rendah, AS 3,9%, Pakistan 1,7%, dan EU-27 0,4%.
Dengan stok awal tahun sebesar 2.068.000 ton, total produksi Januari–Agustus 2026 sebesar 40.997.000 ton, total konsumsi dalam negeri sebesar 17.523.000 ton, total ekspor sebesar 23.370.000 ton, dan impor sebesar 43.000 ton, maka stok akhir pada bulan Agustus tercatat sebesar 2.214.000 ton, yang tergolong dalam kategori rendah.