Donald Siahaan: Revitalisasi Industri Kelapa Indonesia Harus Belajar dari Keberhasilan Komoditas Lain

Donald Siahaan: Revitalisasi Industri Kelapa Indonesia Harus Belajar dari Keberhasilan Komoditas Lain

Medan, mediaperkebunan.id – Industri kelapa Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk kembali menjadi salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Namun, untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan langkah revitalisasi yang terencana dengan belajar dari keberhasilan pengembangan industri kelapa sawit di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Dr. Ir. Donald Siahaan, Ph.D., Peneliti Pusat Riset Perkebunan Nusantara (PT Riset Perkebunan Nusantara/IOPRI) dalam pemaparannya "Revitalizing the Coconut Industry: Lessons from Palm Oil Industry in Indonesia" pada 1st Indonesian International Coconut Conference and Exposition (IICCE) 2026, yang diselenggarakan pada 10 Juli 2026 di Medan.

Dalam paparannya, Donald menjelaskan bahwa kelapa bukan sekadar komoditas perkebunan, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan dan budaya masyarakat di banyak negara, khususnya kawasan Asia Pasifik. Meski demikian, industri kelapa saat ini menghadapi berbagai tantangan yang menyebabkan perlunya upaya revitalisasi secara menyeluruh.

Donald memaparkan sedikitnya terdapat empat persoalan utama yang menjadi alasan perlunya revitalisasi industri kelapa.

Pertama, banyak tanaman kelapa yang sudah berumur tua sehingga produktivitasnya terus menurun. Kedua, sebagian besar kebun kelapa dikelola oleh petani kecil yang memiliki keterbatasan akses terhadap pembiayaan sehingga sulit melakukan pemupukan, peremajaan, maupun investasi teknologi.

Selain itu, perkebunan kelapa juga menghadapi ancaman serangan hama dan penyakit, sementara sebagian besar petani masih menjual produk bernilai tambah rendah seperti kopra.

"Sekitar 20% pohon kelapa di wilayah penghasil utama seperti Filipina dianggap tua. Pohon-pohon yang berumur puluhan tahun menghasilkan kelapa jauh lebih sedikit, sehingga menyebabkan kekurangan pasokan yang parah," ungkap Donald.

Lebih lanjut, Doland mengatakan bahwa sebagian besar petani kecil hanya memproduksi komoditas bernilai rendah seperti kopra (daging kelapa kering). "Revitalisasi mendorong pengolahan limbah menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mendatangkan pendapatan besar, seperti serat kelapa, karbon aktif, dan bahan bakar hayati ramah lingkungan," tambah Donald.

Menurut Donald, perjalanan panjang industri sawit Indonesia memberikan banyak pelajaran yang dapat diterapkan dalam pengembangan industri kelapa nasional.

Pelajaran pertama adalah pentingnya keberadaan lembaga riset dan inovasi yang kuat dan didukung penuh oleh industri. Indonesia telah membangun sistem penelitian kelapa sawit sejak awal abad ke-20, mulai dari pengembangan plasma nutfah, introduksi material genetik baru, hingga pembentukan lembaga penelitian yang secara konsisten menghasilkan inovasi bagi industri.

Pelajaran kedua adalah pentingnya kolaborasi antara perusahaan besar dan petani melalui berbagai pola kemitraan. Model Perkebunan Inti Rakyat (PIR), kemitraan perusahaan dengan petani, hingga program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dinilai menjadi fondasi penting dalam meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat.

Selain produktivitas, Donald menekankan bahwa keberlanjutan menjadi aspek yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan industri perkebunan modern.

Indonesia telah memiliki standar keberlanjutan melalui Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang menjadi acuan nasional bagi industri sawit. Menurutnya, pendekatan serupa juga penting diterapkan dalam pengembangan industri kelapa ke depan.

Donald juga menyoroti keberhasilan Indonesia dalam mendorong hilirisasi industri sawit melalui berbagai insentif investasi. Berbagai kebijakan pemerintah berhasil mendorong investasi besar pada sektor hilir sehingga jumlah produk turunan sawit meningkat pesat, dari hanya 48 jenis produk pada tahun 2011 menjadi sekitar 195 produk pada tahun 2024.

Menurutnya, strategi hilirisasi serupa dapat diterapkan pada industri kelapa agar tidak lagi bergantung pada produk primer, tetapi berkembang menuju berbagai produk bernilai tambah tinggi.

Pelajaran lain yang dianggap sangat penting adalah keberadaan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Donald menjelaskan bahwa dana perkebunan telah menjadi instrumen strategis dalam mendukung berbagai program pengembangan sawit, mulai dari peremajaan sawit rakyat, penelitian dan pengembangan, pembangunan infrastruktur, promosi, peningkatan sumber daya manusia, hingga insentif biodiesel. Sejak tahun 2025, pengelolaan dana tersebut juga diperluas untuk mendukung komoditas kelapa dan kakao.

Ia juga menjelaskan bahwa BPDP memiliki peran penting dalam mendukung implementasi program biodiesel nasional yang saat ini berkembang dari B40 menuju B50.

Menutup paparannya, Donald mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk melihat industri kelapa sebagai sektor yang masih memiliki prospek cerah apabila mampu melakukan transformasi melalui inovasi, kemitraan, hilirisasi, keberlanjutan, serta dukungan pembiayaan yang memadai.

"COCONUT Industry: Sunset Industry? or Sunrise Industry?," tutup Donald sebagai ajakan untuk bersama-sama menjadikan industri kelapa Indonesia memasuki era kebangkitan baru.