Medan, mediaperkebunan.id - Permasalahan teknis pada sistem operasional pabrik kelapa sawit (PKS) kerap tidak terlihat secara kasat mata, namun berdampak fatal jika tidak ditangani dengan prinsip rekayasa yang tepat. Salah satu persoalan krusial yang kerap luput dari perhatian adalah ancaman kavitasi pada boiler feed pump akibat penurunan tekanan (pressure drop) uap.
Hal tersebut ditegaskan oleh Raja Kadri dari Bahruny Group saat menjadi pembicara dalam konferensi Technology & Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026 yang berlangsung di Medan, Sumatera Utara, Kamis (9/7/2026).
Dalam pemaparannya, Raja Kadri menjelaskan bahwa penurunan tekanan boiler sering terjadi saat kebutuhan uap meningkat drastis, seperti ketika stasiun sterilizer mulai merebus buah kelapa sawit, atau ketika pasokan bahan bakar ke boiler terganggu akibat kendala di stasiun press.
"Ketika tekanan boiler turun dan level air berada di bawah batas normal, kapasitas boiler feed pump dapat melonjak hingga dua kali lipat dari kondisi standar. Perubahan mendadak ini berdampak langsung pada performa sistem secara keseluruhan," ujar Raja Kadri.
Peningkatan kapasitas pompa tersebut secara otomatis menaikkan nilai Net Positive Suction Head Required (NPSHr) serta memperbesar kehilangan tekanan akibat gesekan dalam pipa (head losses). Jika tidak diantisipasi, nilai Net Positive Suction Head Available (NPSHa) menjadi lebih kecil dari kebutuhan pompa.
Kondisi inilah yang memicu kavitasi, pembentukan gelembung uap pada sisi hisap pompa yang berisiko menimbulkan getaran hebat, merusak impeller, menurunkan kapasitas pompa, hingga memperpendek umur pakai peralatan.
Berdasarkan analisis perhitungan NPSH pada thermal deaerator dengan temperatur air sekitar 95°C, nilai NPSHa yang tersedia hanya sekitar 3,29 meter. Padahal, pompa membutuhkan NPSH minimal 4 meter.
Data ini menunjukkan bahwa desain menara deaerator standar dengan tinggi sekitar 7 meter masih sangat rentan mengalami kavitasi saat terjadi lonjakan beban.
Untuk mengatasi kelemahan desain tersebut, BAHRUNY GROUP merekomendasikan dua langkah modifikasi teknis:
- Peninggian Menara Deaerator: Tinggi menara deaerator perlu ditingkatkan menjadi sekitar 9-10 meter. Peninggian ini bertujuan menyediakan tekanan statis (static head) yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hisap pompa, terutama saat terjadi lonjakan kapasitas akibat penurunan tekanan boiler.
- Pemasangan Pipa Ekspansi berbentuk U (U-Loop): Banyak unit deaerator di lapangan menggunakan pipa overflow yang terlalu pendek, sehingga tekanan internal drum tidak dapat dipertahankan di atas tekanan atmosfer dan suhu air terbatas di bawah 100°C. Dengan memasangkan U-loop pada sistem overflow, tekanan internal dapat dipertahankan sekitar 0,3 bar di atas atmosfer, sehingga temperatur air operasional dapat dinaikkan hingga 105°C untuk deaerasi yang lebih efektif tanpa memicu kavitasi.
Solusi Peningkatan Efisiensi dan Keandalan Pabrik Sawit
Raja Kadri menyimpulkan bahwa kavitasi pada boiler feed pump umumnya terjadi akibat kombinasi temperatur deaerator di atas 90°C, penurunan tekanan boiler, dan level air boiler yang berada di bawah normal.
"Melalui penyediaan head statis yang memadai dan penerapan sistem U-loop, thermal deaerator dapat bekerja optimal pada suhu 105°C secara aman. Langkah rekayasa ini tidak hanya mencegah kavitasi, tetapi juga meningkatkan keandalan sistem boiler serta efisiensi operasional pabrik kelapa sawit secara keseluruhan," pungkasnya.