Makassar, mediaperkebunan.id - Sebanyak 149 petani kelapa sawit asal Kabupaten Wajo mengikuti Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan Kelapa Sawit yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) bekerjasama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun). Melalui pelatihan ini, petani dibekali berbagai materi mulai dari teknik budidaya, penggunaan bibit unggul, hingga antisipasi perubahan iklim untuk meningkatkan produktivitas kebun rakyat.
Direktur AKPY, Dr. Sri Gunawan, S.P., M.P., IPU, mengatakan pelatihan di Wajo merupakan bagian dari amanah BPDP kepada AKPY untuk melaksanakan pengembangan SDM perkebunan di berbagai daerah sentra sawit Indonesia. "149 peserta pelatihan perkebunan dari Kabupaten Wajo. Tahun ini kami dipercaya melakukan pelatihan 87 kelas yang betul-betul dilakukan dengan baik sesuai amanat dari BPDP," ujarnya.
Menurutnya, BPDP tidak hanya mengelola dana pungutan ekspor minyak sawit mentah (CPO), tetapi juga mengembalikannya untuk mendukung pengembangan industri sawit nasional, salah satunya melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia. "BPDP memiliki tugas menghimpun dana pungutan ekspor CPO yang digunakan untuk B50 dan salah satunya adalah program pengembangan SDM perkebunan. Tahun ini program pelatihan tenaga mencapai 15.900 petani yang dilatih di seluruh Indonesia," jelasnya.
Ia juga mengingatkan peserta untuk memanfaatkan berbagai program BPDP lainnya, termasuk bantuan sarana dan prasarana (sarpras) bagi pekebun. "Melalui program sarpras bapak ibu bisa melakukan intensifikasi, mendapatkan dana pemupukan selama dua tahun dan pestisida. Namun banyak petani yang terkendala mendapatkan program tersebut karena tidak semua petani bisa membuat proposal," ujarnya.
Sri Gunawan menilai produktivitas perkebunan sawit rakyat masih jauh tertinggal dibandingkan perusahaan besar. Padahal, kebutuhan minyak sawit nasional diperkirakan terus meningkat seiring implementasi program biodiesel B50 yang mendukung target swasembada energi.
"Kebutuhan CPO makin lama makin naik untuk B50 dengan target swasembada energi, berarti harga sawit juga semakin naik. Perkebunan rakyat seluas hampir 7 juta hektare produktivitasnya masih rendah, hanya sekitar 2–3 ton CPO, sedangkan perusahaan besar bisa sampai 7 ton CPO atau 24–28 ton TBS. Pemerintah melalui BPDP melakukan pelatihan ini harapannya perkebunan rakyat bisa mendekati perusahaan-perusahaan besar. Sehingga nanti kualitas naik, penghasilan naik, dan petani sejahtera," jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sri Gunawan juga mengingatkan petani untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi El Nino yang diperkirakan mulai terjadi pada Agustus 2026. "Perhatikan informasi BMKG, Agustus sudah mulai El Nino dan waspada terhadap kebakaran lahan karena sudah ada informasi titik-titik api. Karena nanti akan banyak sekali berpengaruh," katanya.
Selain perubahan iklim, persoalan penggunaan bibit palsu masih menjadi perhatian serius. Berdasarkan hasil survei terhadap peserta pelatihan, masih banyak petani memperoleh bibit dari sumber yang tidak jelas, mulai dari mencabut anakan sawit di kebun hingga membeli melalui marketplace.
"Terkait bibit kelapa sawit, banyak petani ingin menanam dengan cepat, tapi permasalahannya untuk mendapatkan bibit bersertifikat harus cari ke mana dan siapa yang jual. Akhirnya berdasarkan survei yang bapak ibu isi banyak yang beli ke tetangga, berondolan di kebun kelapa sawit yang produksinya bagus dicabutin, itu namanya mariles. Nanti produksinya akan jelek, ruginya selama 25 tahun, banyak dura sehingga harga buahnya rendah," ungkapnya.
Ia menambahkan, sekitar 40 persen peserta pelatihan mengaku belum menanam kelapa sawit. Karena itu, ia mengingatkan agar sejak awal menggunakan bibit unggul bersertifikat. "Petani yang beli bibit dari marketplace, Tokopedia ternyata paling mudah ke Tokopedia, tapi itu bibit palsu, karena PPKS, Dami Mas, Sriwijaya itu tidak ada yang menjual bibit di marketplace. Dan berdasarkan survei juga, yang beli bibit di marketplace rata-rata pendidikannya tinggi, yaitu sarjana. Sangat berharap dapat meniru ilmu yang diberikan instruktur dan menularkan ke tetangganya," tegasnya.
Petani Akui Banyak Mendapat Pengetahuan Baru
Salah seorang peserta pelatihan, Abdul Saman mengaku memperoleh banyak wawasan baru selama mengikuti kegiatan tersebut. Ia menyadari masih banyak aspek budidaya sawit yang sebelumnya belum dipahami.
"Semakin mengikuti acara ini semakin merasa banyak belum tahu. Selama ini cuma tahu buah busuk karena dimakan kumbang tanduk atau tikus. Mudah-mudahan dengan hasil pendidikan di sini yang pernah mendapatkan satu ton per hektar bisa jadi 2–3 ton," ujarnya.
Melalui pelatihan ini, AKPY berharap para petani di Kabupaten Wajo mampu menerapkan praktik budidaya kelapa sawit yang baik, menggunakan bibit unggul bersertifikat, serta meningkatkan produktivitas kebun sehingga kesejahteraan pekebun sawit rakyat dapat terus meningkat.