20 December, 2019

Jakarta, perkebunannews.com – Produk minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) sering mendapat hambatan perdagangan terutama dari negara-negara Uni Eropa (UE). Pasalnya, produktifitasnya yang tinggi sulit disainggi oleh produk minyak nabati sejenis yang dihasilkan oleh UE.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Wisnu Wardhana mengatakan produk CPO Indonesia sejauh ini telah mengalami hambatan ekspor di Amerika Serikat, Rusia, Prancis, dan Uni Eropa.

Artinya hal itu cukup mengherankan lantaran hambatan untuk produk minyak nabati lain tidak sebanyak yang dialami CPO.

“Kita sering mendapatkan gangguan dari isu lingkungan, kesehatan, keberlanjutan, hingga ketenagakerjaan. Ini menjadi tantangan bagi kami, meskipun kita sudah punya sertifikat ISPO, penundaan perluasan lahan sawit hingga peremajaan perkebunan,” kata Wisnu dalam acara diskusi Bisnis Lounge dengan tema “Memperjuangkan Kepentingan Sawit di Pasar Global” di Jakarta.

Melihat hal tersebut, Wisnu menghimbau, pemerintah Indonesia tidak bisa tinggal diam menghadapi hambatan dagang yang dilakukan negara lain. Pasalnya, perkebunan CPO terbukti menaungi 2,6 juta petani swadaya dan 4,3 juta pekerja sektor lain.

Sementara itu, industri pengolahan CPO menyerap 4,2 juta pekerja langsung dan 12 juta pekerja tidak langsung. Industri CPO pun menyumbang 3,5% dari total produk domestik bruto (PDB) nasional.

Adapun berdasarkan data yang dimiliki oleh Kemendag, hambatan dagang salah satunya dilakukan oleh AS dengan memberlakukan bea masuk antidumping (BMAD) untuk biodiesel. Sementara itu, di Prancis terdapat hambatan berupa penghapusan insentif pajak untuk biofuel dari minyak kelapa sawit. Kebijakan hampir serupa juga dilakukan oleh Rusia.

Selanjutnya di Uni Eropa, gangguan yang dialami CPO dan produk turunannya cukup beragam, a.l. tudingan subsidi terhadap biodiesel, Renewable Energy Directive (RED) II, batasan kandungan 3-monochloropropanediol (MCPD) dan glycidyl ester (GE) pada produk minyak sawit.

Ditempat yang sama, Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus mengatakan peranan industri sawit sangat krusial bagi perekonomian nasional. Bahkan, nilai ekspor hasil perkebunan kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) mengalahkan ekspor produksi Migas.
Heri mengakui, jika ekspor produk CPO bisa dioptimalkan dapat memperbaiki defisit transaksi neraca perdagangan (CAD).

“Tahun lalu saja CAD kita defisit US$8 milyar. Dengan genjot ekspor hasil perkebunan sawit bisa memperbaiki CAD kita,” kata Heri.

Selain itu, lanjut Heri, produk turunan CPO juga dapat memperkuat struktur industri dalam negeri. Untuk itu, pemerintah dan industri kelapa sawit harus fokus memperbaiki hilirisasi produk CPO.
“Semakin ke hilir ekspornya semakin sedikit. CPO bisa jadi produk makanan, mosmetik, energi dan kimia. Ini hilir sawit, kita mau fokus kemana,” ujarnya.

Heri menambahkan, peluang paling besar untuk hilirisasi CPO ada disektor energi. Misalnya, fokus mengembangkan industri Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Apalagi ekspor FAME Indonesia baru mencapai 1,6 persen dari total ekspor dunia yang mencapai $45 milyar.

“Ini kan bahan campuran Bahan Bakar Nabati (BBN). Potensi ekspor ini cukup luas, mengingat tren penggunaan BBN di dunia semakin meningkat. Saat ini Cina, Jepang, AS dan UE pengguna FAME terbesar,” kata Heri. YIN

(Visited 18 times, 1 visits today)