2022, 2 Agustus
Share berita:

Jakarta, Mediaperkebunan.id

Kenari (Canarium amboniense Hoch merupakan salah satu komoditas binaan Ditjen Perkebun. Buah kenari yang berukuran kecil memiliki peran sangat besar dalam kehidupan masyarakat Maluku. Tak hanya dimanfaatkan sebagai bahan pangan untuk konsumsi sendiri, masyarakat juga menjual kacang kenari untuk tambahan pendapatan.

“Pohon-pohon kenari yang mudah ditemukan di wilayah Maluku dan Maluku Utara sudah ada sejak zaman kolonialisme dan usianya bisa mencapai ratusan tahun. Mereka tumbuh berdampingan dengan pohon pala dan tanaman rempah lain, menjadi salah satu sumber ekonomi yang penting bagi masyarakat Maluku dan Maluku Utara. Selain itu, pohon kenari juga punya peran ekologi sebagai penjaga lingkungan hutan. Seperti yang kita ketahui, hutan yang terjaga baik dapat memitigasi perubahan iklim,” kata Bustar Maitar, CEO Yayasan EcoNusa.

Selain dijual dalam bentuk kacang siap santap, masyarakat Banda mengolahnya menjadi halua kenari, yaitu kudapan manis dengan citarasa gula karamel bercampur gurihnya kacang kenari Maluku. Karena tahan lama dan rasanya yang bikin ketagihan, halua kenari jadi oleh-oleh favorit buruan wisatawan. Hanya saja, menurut Bustar, saat ini potensi kenari belum dimaksimalkan. Variasi jenis makanan dari kenari Maluku masih terbatas.

“Inovasi produk dari kenari memang masih perlu didorong, karena sebenarnya kenari Maluku merupakan potensi komoditi yang unik. EcoNusa sedang mengembangkan kakao, dan kami pikir kenari bisa menjadi campuran permen cokelat. Biasanya kan cokelat menggunakan campuran kacang mete. Nah, kita bisa variasikan campurannya dengan kacang kenari,” kata Bustar.

Kenari telah lama memegang peran penting sebagai salah satu sumber pendapatan masyarakat Maluku. Pohonnya menghasilkan buah kenari yang bisa dipanen dalam jangka waktu lama. Hanya saja, kenari memang mengenal musim. Masyarakat Maluku rata-rata melakukan panen besar dua hingga tiga kali dalam setahun.

“Karena panen besar tidak setiap saat, masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan kenari sebagai satu-satunya sumber penghasilan. Dalam satu lahan yang dimiliki oleh masyarakat terdapat banyak tanaman rempah, termasuk cengkih, kayu manis, dan pala. Dengan begitu, mereka juga bisa menjual rempah. Di sela-sela pohon tersebut ditanami sayuran sebagai sumber pangan lain,” Bustar menjelaskan.

Hanatin Mudjid, Kepala Pemerintahan Negeri Lonthoir menyatakan pohon kenari menjadi salah satu sumber pendapatan, terutama bagi warga Kecamatan Banda. Kenari yang dipanen oleh masyarakat rata-rata dipasarkan ke Surabaya, Jakarta, dan Makassar.

Masyarakat Maluku kerap memanfaatkan kenari sebagai campuran acar sayuran dan sambal kacang untuk ulang-ulang (semacam gado-gado). Sebagian masyarakat juga memanfaatkan kenari sebagai campuran kue atau topping. Atau, sebagai taburan untuk minuman khas Maluku air guraka (semacam wedang jahe). Menurut Hanatin, dahulu mereka membuat minyak untuk memasak dan menggoreng dari biji kenari. Tapi, sekarang tidak lagi, karena sudah banyak alternatif minyak dari kelapa dan proses pembuatannya hanya menghasilkan minyak dalam jumlah sedikit
.
Hanatin menyebutkan, pohon kenari Maluku merupakan pohon yang produktif, yang bisa memberi banyak manfaat bagi masyarakat. Daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami bagi tanah, bijinya bisa dikonsumsi atau dijual, cangkang kenarinya bisa digunakan sebagai bahan pembuatan arang, sementara kayunya bisa dijadikan papan, balok, atau kayu bakar. “Tapi, batang kayunya hanya boleh digunakan, kalau pohonnya sudah tumbang secara alami. Entah karena usia sangat tua, atau roboh karena angin besar,” katanya.

Sejauh ini belum pernah ada upaya penanaman kembali pohon kenari. Pembibitan kenari terjadi secara alami. Sebab, tak semua buah kenari yang jatuh ke tanah diambil oleh masyarakat. Sebagian dibiarkan hingga menjadi bibit pohon baru.

Yang tak kalah penting, pohon kenari yang sangat tinggi dengan batang yang besar berperan melindungi pohon-pohon pala di sekitarnya. Karena Kepulauan Maluku dikelilingi lautan, buah pala rentan berguguran sebelum panen, saat terkena uap air laut. Padahal, pohon pala menjadi sumber pendapatan yang juga penting bagi masyarakat Maluku. Pohon kenari yang kokoh mampu menangkal uap air laut sehingga uap tersebut tidak mengenai pohon pala.

Namun, produksi kacang kenari Maluku belum terlalu besar dan masih terbatas, karena untuk mendapatkan bijinya perlu kerja keras. Warga tidak memetik kenari secara langsung, melainkan menunggu buahnya jatuh, yang menandakan buah berwarna hitam itu sudah tua.

“Mereka kemudian mengupas kulit luar dan membuang daging buahnya, hingga tersisa biji yang terbungkus tempurung. Biji tersebut dijemur atau diasap selama tiga sampai empat hari hingga kering, baru kemudian dipecah dengan parang dan biji bagian dalamnya itulah yang dijual. Warga menjual biji kenari Maluku ke pedagang lokal seharga Rp50.000 per kilogram,” kata Hanatin.

Area pemasarannya belum terlalu luas. Karena itu, Hanatin sangat berharap, pemasaran bisa diperluas lagi, hingga seluruh Indonesia mengenal dan menggunakan bahan pangan lokal tersebut. Dengan begitu, masyarakat yang mendapatkan penghidupan dari kenari bisa hidup lebih sejahtera.