https://api.whatsapp.com/send?phone=6281361509763
10 December, 2021
Bagikan Berita

Simalungun, Mediaperkebunan.id

Sejak lima abad yang lalu ekspor rempah dan komoditas perkebunan Indonesia sebagian besar dalam bentuk bahan mentah. Kondisi ini memberi peluang negara-negara tujuan ekspor membangun industri pengolahan dan mengimpor produknya kembali ke Indonesia.’

“Berangkat dari hal ini saya minta kita harus keluar dari jebakan ekspor bahan mentah dan ketergantungan pada impor bahan olahan dengan mempercepat revitalisasi industri industri pengolahan rempah dan produk perkebunan,” kata Wakil Presiden Ma’ruf Amin dalam peringatan Hari Perkebunan ke 64, Hari Rempah Nasional dan pembukaan Indonesia Spices and Business Forum, di Parapat, Simalungun, Sumatera Utara yang merupakan kawasan Danau Toba.

Ekspor dan daya saing rempah-rempah dan perkebunan harus terus didorong. Indonesia harus jadi penentu rempah-rempah dunia. Kalau berjalan Wapres yakin hilirisasi ini akan memberi nilai tambah pada perekonomian nasional.

Dari Sumatera Utara Wapres menggaungkan kembali Kejayaaan Rempah Indonesia untuk mewujudkan kesejahteraan petani dan keunggulan agribisnis Indonesia. Indonesia dianugerahi Tuhan dengan kekayaan rempah luar biasa seperti jahe, kunyit, pala, cengkeh, kayu manis dan lain-lain.

Hari Rempah Nasional diperingati tanggal 11 Desember karena pada tanggal ini 1521 Kesultanan Tidore yang sekarang berada di Provinsi Maluku Utara mengapalkan cengkeh besar-besaran ke Spanyol. Hal ini menunjukkan pada dunia bahwa sumber rempah ada di Timur.

Setelah itu berbagai bangsa datang ke bumi Nusantara untuk mencari rempah dan masuklah dalam proses kolonialisme. Rempah dan perkebunan Indonesia menjadi peyangga ekonomi negara penjajah, Belanda misalnya 15% PDB pada saat itu berasal dari VOC.

Kemerdekaan Indonesia yang mengakhiri kolonialisme juga dilakukan pada sektor perkebunan. Tanggal 10 Desember 1957 terjadi nasionalisasi perusahaan perkebunan asing dan diperingati sebagai Hari Perkebunan.

Baca Juga  Presiden Jokowi : Peremajaan Butuh Biaya Besar Tetapi Harus Dilakukan

Wapres minta Kemeterian Pertanian dan Kementerian Perdagangan mengupayakan sistem perdagangan yang semakin terbuka, adil, tertib dan bebas hambatan. Bangun dan lengkapi sarana penunjang produksi, logistik. Tingkatkan produktivitas dan bentuk tata niaga yang saling menguntungkan produsen dan konsumen termasuk untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

“Pemanfaatan rempah erat dengan perkembangan kuliner, harus dipromosikan dengan gencar dengan kampanye Spice the World. Bangun citra kulier Indonesia berbasis rempah dan bumbu yang lebih mendunia. Tetap tonjolkan kualitas produk yang mencerminkan kualitas karya pikir, kerja dan hidup bangsa Indonesia. Bangkit dan kelola kekayaan bumi Indonesia sebagai keunggulan komparatif yang diakui dunia,” kata Wapres menutup sambutannya.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan dengan peringatan Hari Perkebunan dan Hari Rempah Nasional ini maka saatnya membangkitkan kejayaan Rempah Indonesia dan meningkatkan serta mengoptimalkan komoditi perkebunan supaya Indonesia makin maju, mandiri dan modern.

“Kehadiran Wapres pada acara ini bermakma besar. Rempah Indonesia saat ini masuk 10 besar dunia, diatasnya ada Etiopia, Turki dan negara-negara lainnya. Saya sudah bertemu dengan gubernur dan bupati daerah penghasil rempah. Kami berjanji meningkatkan produksi sehingga Indonesia bisa menjadi nomor 2 atau 3,” kata Mentan.

Hari Rempah merupakan bagian dari deklarasi bahwa Indonesia punya kekuatan luar biasa dalam bidang pertanian. Setiap kabupaten tidak boleh tidak ada ekspor pertanian sehingga ekspornya meningkat luar biasa. Tahun 2020 meningkat 15,4% sedang tahun ini sudah 51%. Helatan Indonesia Coffee and Fruit yang baru selesai hasilkan kontrak Rp3,1 triliun.

Hari Perkebunan juga ditandai dengan penanaman bersama tanaman perkebunan oleh gubernur dan bupati. Targetnya peningkatan produksi sampai 2 kali lipat. Produksi, panen dan pasca panen harus diperbaiki kemudian masuk ke industri olahan.

Baca Juga  IPOP Rugikan Petani Sawit

Sesuai instruksi Presiden bantuan sekarang tidak boleh asal bantuan tetapi harus berskala ekonomi. Meskipun anggaran Kementan turun karena Covid-19 pembiayaan pertanian bisa berjalan dengan KUR (Kredit Usaha Rakyat). Tahun 2020 KUR pertanian mencapai Rp55 triliun dengan kredit macet hanya 0,7%. Tahun 2021 ditargetkan Rp70 triliun tetapi sekarang sudah mencapai Rp78 triliun sehingga target dinaikkan jadi Rp90 triliun.

“KUR juga digunakan untuk hilirisasi. Lada jangan terus ekspor bahan mentah. Lada kita harus diolah sebab nilai tambahnya disitu. Lada harus jadi produk jadi yang siap digunakan di meja makan. Indonesia punya rempah dari Sabang sampai Merauke. Kita bangun gudang-gudang untuk ekspor di sentra utama,” kata Mentan.

Gubernut Sumatera Utara Edy Rahmayadi menyatakan sebelum Indonesia merdeka Sumut sudah menjadi produsen dan eksportir rempah-rempah dengan komoditas kemiri, lada, andaliman, kapulaga, jahe, kunyit dan lain-lain. Akhir-akhir ini ekspor banyak ke negara tetangga.

Pemprov Sumut sudah melaksanakan berbagai program peningkatan produksi disekor hulu dengan memberi bantuan benih unggul dan pembinaan petani. Sedang dihilir mendorong UMKM melakukan hilirasi produksi. Permodalan difasilitasi lewat kredit Bank Sumut dan bank lainnya. UMKM rempah difasilitasi masuk ke pasar ekspor dan pemasaran digital dengan dukungan Kementerian Pertanian.

(Visited 341 times, 1 visits today)