COMODITIES

TP2V Meloloskan Sepuluh Varietas Baru Tanaman Perkebunan

Tim Penilai Pelepasan Varietas Tanaman Perkebunan (TP2V) meloloskan sepuluh varietas tanaman perkebunan. Kesepuluh varietas itu masing-masing dua tanaman tebu, tembakau (2), kelapa dalam (2), kelapa sawit, kapas, sagu, dan teh. Sidang yang berlangsung hingga di Depok, Jawa Barat, Kamis (2/11) itu dipimpin Direktur Perbenihan, Direktorat Jenderal Perkebunan, Muhammad Anas, dihadiri anggota TP2V antara lain Direktur

Ironis Jika Masih Ada yang Anggap Perkebunan Belum Penting

Ironis jika masih ada yang menganggap peran sub sektor perkebunan belum penting. Padahal secara nasional, saat ini dari 15 komoditas perkebunan yang penting telah memberikan kontribusi sebesar Rp 429 triliun terhadap PDB nasional. Nilai itu lebih besar dari kontribusi sektor minyak dan gas (migas). Hal tersebut dinyatakan Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Bambang, dalam Rapat

WPLACE 2017: Memprediksi dan Strategi Penguatan Perkebunan

Benar, bahwa dunia masih mengakui Indonesia sebagai penghasil atau pemasok hasil-hasil perkebunan. Melihat hal ini maka PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) menggelar World Plantation Conferences and Exhibition 2017 (WPLACE-2017) yang akan diselenggarakan pada tanggal 18 – 20 Oktober 2017 di Jakarta. “Jadi dengan dalam WPLACE-2017 ini akan dibahas bagamaiana komoditas perkebunan di Indonesia kedepan dan

Teknologi Petanian Itu Menguntungkan

Lembang – Teknologi pertanian tidak hanya medapat meningkatkan produktivitas lahan pertanian tapi juga menguntungkan. Melihat hal ini maka sudah saatnya mengedukasi seluruh petani untuk berbudidaya menggunakan teknologi. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, Bandel Hartopo dalam Lokakarya yang dilaksanakan dari tanggal 12 – 14 Oktober 2017 ini, menggandeng Forum Wartawan

Petani Atsiri Perlu Dirangkul Agar Bisa Bergairah

Malang – Jangan biarkan petani atsiri dibiarkan berjalan sendiri, mereka perlu dirangkul agar bisa bergairah. Hal tersebut diungkapkan oleh Agus Wahyudi, Direktur Tanaman Semusim dan Rempah, Kementerian Pertanian (Kementan) dalam Konferensi Nasional Minyak Atsiri 2017, di Malang, Jawa Timur (10/11). Seperti diketahui harga untuk minyak nilam saat ini menembus angka antara Rp 450 – 500

Bisnis Klaster Tingkatkan Kesejahteraan Petani Kopi

Harus diakui bahwa melalui skema bisnis kluster bisa meningkatkan kesejahteraan petani. mengapa demikian? Direktur Legal and Corporate Affairs PT Nestlé Indonesia Debora Tjandrakusuma mengatakan bahwa melalui skema bisnis klaster maka para petani akan mendapatkan pelatihan dan pendampingan yang dilakukan secara komprehensif. “Diantaranya mulai dari peremajaan kebun dalam bentuk pemberian bibit kopi kepada para petani, akses

Lombok Siap Menjadi Daerah Benih Tembakau

Lombok – Tidak ada yang tidak mungkin jika mau berusaha termasuk meningkatkan produksi tembakau di Nusa Tenggara Barat (NTB), sebab saat ini sudah ada PT Benih Mas Indonesia mampu menghasilkan benih tembakau virginia sejak tahun 2014. Artinya melalu perusahaan tersebut maka petani atau perusahaan rokok sudah tidak lagi bergantung impor biji tembakau khususnya dari Brazil.

Pengelolaan Tanaman Rempah Belum Optimal

Meskipun tanaman rempah sebagai salah satu komoditas utama perdagangan nasional tapi baru dimanfaatkan 4 persen jenis tanaman rempah dari 7000-an jenis rempah. “Atas dasar itulah maka dibentuk relawan rempah yang terdiri dari latar belakang seperti pelaku bisnis, petani, aktivis, peneliti, pengajar atau dosen dan lainnya yang memang mendukung keberlanjutan rempah,” kata Ketua Dewan Rempah Indonesia,

Kementan Membenarkan Neraca Perdagangan Ditopang Perkebunan

Harus diakui, bahwa ekspor hasil perkebunan turut andil yang cukup besar dalam mendongkrak neraca perdagangan, hal tersebut terlihat dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor komoditas pertanian bulan Januari hingga Agustus 2017 mencapai USD 22,18 miliar, sedangkan nilai impor hanya USD 11,20 miliar, sehingga surplus USD 10,98 miliar.

Jokowi Menghimbau Waktunya Mengarah Agribisnis

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengkritisi cara peningkatan kesejahteraan petani atau nilai tukar petani yang dalam beberapa tahun terakhir selalu berkutat pada on farm-nya, selalu berkutat pada sektor budidaya, dan cenderung melupakan proses bisnisnya. Padahal, nilai tambah yang tinggi, nilai tambah yang besar itu berada pada proses agrobisnisnya. “Inilah paradigma yang harus kita ubah. Jangan sampai

SALAH BENIH MENYESAL KEMUDIAN

Penggunaan benih unggul yang benar terutama di perkebunan sangat penting. “Kalau salah menggunakan benih maka setelah 6-7 tahun baru menyesal karena tidak berbuah.Kelapa sawit setelah 4 tahun baru menyesal,” kata Menteri Pertanian, Amran Sulaiman pada pengukuhan DPP Masyarakat Perbenihan dan Pembibitan Indonesia. Karena itu tahun depan merupakan tahun perbenihan yang salah satu tujuannya untuk mengembalikan

MPPI: Tidak Ada Benih Berarti Tidak Ada Pangan

Benih dibutuhkan tapi tidak diprioritaskan yang terdengar hanya benih jagung dan padi. Padahaal kita juga membutuhkan benih kelapa dalam, tebu dan lainnya yang berpotensi untuk mendukung kedaulatan pangan. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia (MPPI), Herman Khaeron, di Jakarta. Lebih lanjut, Herman menyayangkan bahwa Indonesia memiliki banyak sekali plasma nutfah yang