Jakarta, mediaperkebunan.id - PT BM TERA menawarkan solusi integrasi pembangkit listrik tenaga surya dan Battery Energy Storage System (BESS) untuk memenuhi kebutuhan energi pada area perkebunan dan pabrik kelapa sawit. Solusi ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap generator diesel (genset) yang selama ini banyak digunakan, terutama di area perkebunan terpencil. Harga sistem baterai yang kini semakin kompetitif dibandingkan 2018, ketika harganya masih mencapai sekitar US$1.000 per kWh, turut membuka peluang penerapan teknologi tersebut. Di sisi lain, penggunaan diesel dengan harga solar yang berkisar Rp20.000–Rp26.000 per liter menjadi beban biaya operasional yang besar dan rentan terhadap perubahan harga global akibat kondisi geopolitik.
Dalam presentasinya pada acara TERA X BoilerMech Energy Outlook, Selasa (3/11/2026), Managing Director PT BM Tera, Michael Leong, menjelaskan bahwa panel surya memiliki karakteristik intermiten karena produksinya dipengaruhi kondisi cuaca dan tutupan awan. Panel surya dapat menghasilkan energi dalam satuan kilowatt-hour (kWh), tetapi tanpa sistem penyimpanan belum dapat sepenuhnya menjamin ketersediaan daya sesaat (kW) secara konsisten. Karena itu, TERA menawarkan kombinasi panel surya dan BESS yang dilengkapi Power Conversion System (PCS) serta Energy Management System (EMS). Sistem baterainya menggunakan teknologi pendingin cair (liquid cooling) untuk menjaga suhu sel baterai pada kisaran 25–30°C, sehingga tetap berada pada kondisi ideal untuk iklim tropis seperti Indonesia dan Sabah serta mendukung masa pakai baterai.
Solusi tersebut dirancang untuk dua kebutuhan utama. Di area perkebunan (estate), kombinasi panel surya dan baterai dapat menggantikan genset yang membutuhkan pasokan diesel secara rutin ke lokasi terpencil, sekaligus menyediakan listrik bagi pekerja selama 24 jam. Sementara di pabrik kelapa sawit (mill), sistem dapat diintegrasikan dengan pemanfaatan uap dan turbin. Kelebihan energi atau waktu jeda operasional dapat dimanfaatkan untuk mengisi baterai, yang selanjutnya digunakan untuk mendukung kegiatan di luar jam operasi pabrik (off-mill operation) maupun persiapan penyalaan awal pada hari berikutnya.
Salah satu contoh penerapannya berada di Keningau, Sabah, dengan kapasitas panel surya 300 kWp dan baterai 723 kWh. Proyek tersebut dilaporkan telah beroperasi selama empat bulan tanpa menggunakan bahan bakar diesel. Biaya diesel yang sebelumnya mencapai sekitar Rp230 juta per bulan menjadi nol, sekaligus menghilangkan polusi suara dan bau dari genset. Dengan memperhitungkan penghematan biaya operasional dan perawatan genset, periode pengembalian investasi (return on investment/ROI) diperkirakan sekitar 2,6 tahun.
Michael mengatakan bahwa BESS merupakan komponen penting dalam mendukung pengembangan energi terbarukan di Indonesia, khususnya pembangkit listrik tenaga surya. Hal ini karena energi surya memiliki karakteristik intermittent atau tidak selalu tersedia secara konsisten.
Menurutnya, produksi listrik dari panel surya dapat mengalami penurunan ketika sinar matahari terhalang awan. Kondisi tersebut menyebabkan pasokan listrik mengalami fluktuasi, sementara konsumen membutuhkan energi yang stabil sesuai permintaan.
“Battery system merupakan komponen yang sangat penting dalam mendukung industri energi terbarukan di Indonesia. Ketika sinar matahari terhalang awan, produksi listrik dari panel surya dapat menurun. Dengan mengintegrasikan baterai ke dalam sistem, pasokan listrik dapat menjadi lebih konsisten bagi konsumen,” ungkap Michael saat diwawancarai di sela-sela acara TERA X BoilerMech Energy Outlook, Selasa (3/11/2026).
Ia menjelaskan, integrasi sistem tenaga surya dan baterai dapat menjadi solusi bagi perusahaan perkebunan kelapa sawit yang masih banyak menggunakan diesel sebagai sumber energi untuk operasional perkebunan maupun pabrik kelapa sawit (PKS).
Menurut Michael, penggunaan diesel untuk mengoperasikan perkebunan dan PKS di Indonesia masih cukup besar. Oleh karena itu, penerapan sistem tenaga surya yang dipadukan dengan BESS berpotensi menggantikan sebagian penggunaan diesel, bahkan mengurangi ketergantungan terhadap genset berbahan bakar diesel.
“Dengan penerapan sistem tenaga surya bersama baterai, konsumsi diesel dapat dikurangi. Ketergantungan terhadap genset dan penggunaan diesel juga dapat ditekan, sehingga emisi CO₂ yang dilepaskan ke lingkungan bisa dikurangi. Ini merupakan langkah hijau yang baik bagi industri kelapa sawit,” jelasnya.
Solusi Energi Disesuaikan dengan Kebutuhan Lokasi

Lebih lanjut, Michael melihat adanya peluang kolaborasi yang terbuka antara PT BM TERA dan perusahaan kelapa sawit di Indonesia. Menurutnya, solusi energi yang ditawarkan tidak dapat diseragamkan untuk seluruh perusahaan karena setiap PKS maupun perkebunan memiliki karakteristik dan kebutuhan operasional yang berbeda.
PT BM TERA, jelasnya, mengedepankan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing lokasi. Solusi dirancang berdasarkan kebutuhan spesifik, baik untuk PKS maupun area perkebunan, dengan mempertimbangkan aspek kelayakan praktis dan pengembalian investasi (return on investment/ROI).
“Permasalahan yang kami coba selesaikan di industri kelapa sawit bersifat praktis dan memiliki potensi pengembalian investasi. Karena itu, kami tidak menerapkan satu sistem standar untuk semua PKS atau perkebunan. Solusinya dibuat secara khusus sesuai kebutuhan masing-masing lokasi,” ungkap Michael.
Dengan pendekatan tersebut, PT BM TERA optimistis dapat menjalin lebih banyak interaksi dan kerja sama dengan perusahaan kelapa sawit di Indonesia. Solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna serta penawaran yang kompetitif diharapkan dapat membuka peluang implementasi energi terbarukan di sektor tersebut.
Selain industri kelapa sawit, PT BM TERA juga membuka peluang untuk menjajaki sektor industri lainnya. Michael menyampaikan bahwa perusahaan dapat melayani industri yang masih menghasilkan emisi CO₂ akibat penggunaan diesel maupun sumber energi berbasis bahan bakar fosil lainnya.
“Di mana terdapat emisi CO₂ yang disebabkan oleh penggunaan diesel atau bentuk energi fosil lainnya, di situlah TERA hadir untuk melayani pelanggan, dengan membantu mengubah energi yang masih berbasis bahan bakar fosil menjadi energi hijau,” pungkasnya.
Michael menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan. Potensi tersebut didukung oleh ketersediaan lahan yang luas serta sumber daya manusia yang memiliki peluang untuk terlibat dalam berbagai tahapan pengembangan proyek energi terbarukan.
“Indonesia merupakan negara yang sangat potensial dalam pengembangan energi terbarukan. Pertama, Indonesia memiliki lahan yang luas. Kedua, sektor ini dapat menciptakan banyak lapangan kerja. Ada banyak talenta di Indonesia yang dapat terlibat dalam konstruksi, desain, engineering, hingga manajemen proyek energi terbarukan,” jelas Michael.
Menurutnya, peluang tersebut dapat mendorong pertumbuhan perusahaan sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. Dengan dukungan potensi sumber daya dan tenaga kerja yang tersedia, Indonesia memiliki kesempatan untuk mengembangkan ekosistem energi terbarukan yang semakin kuat.