Kapuas Hulu, mediaperkebunan.id – Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) menegaskan pentingnya penerapan praktik budidaya sawit yang baik oleh petani di wilayah 3T khususnya di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Keberhasilan pengelolaan perkebunan rakyat sangat bergantung pada ketelitian petani dalam menerapkan prinsip budidaya yang benar sejak dari pembibitan hingga pemeliharaan di lapangan.
Peneliti PPKS, Andy Putra Damanik, S.P. menjelaskan bahwa kelapa sawit merupakan komoditas yang kompleks namun tetap bisa dikelola dengan baik apabila petani memahami dasar-dasar teknisnya. Ia menilai banyak petani di daerah baru sawit seperti Kapuas Hulu yang masih membutuhkan pembekalan teknis agar pengelolaan kebun mereka lebih produktif dan berkelanjutan.
“Sawit bukan hal yang sulit, tapi juga bukan hal yang mudah. Dibutuhkan pemahaman teknis yang baik sejak tahap nursery sampai ke proses pemeliharaan di kebun,” ujar Andy pada acara Pelatihan Teknis Petani Sawit bertema “Pengembangan Sawit untuk Kesejahteraan Masyarakat di Daerah 3T” yang diselenggarakan oleh POPSI pada Jumat, (31/10).
Lebih lanjut, Andy menyoroti pentingnya program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) sebagai langkah menjaga produktivitas kebun rakyat di masa depan. Meskipun di Kapuas Hulu program ini belum berjalan optimal, pengalaman di daerah lain seperti Sadau dan Sanggau menunjukkan bahwa peremajaan menjadi kebutuhan mendesak ketika tanaman sawit sudah melewati usia produktif.
Ia menegaskan bahwa peremajaan harus dilakukan dengan teknik yang tepat dan tidak menggunakan metode “tumbang tumbuh” yang bisa merusak struktur tanah. Mekanisasi, menurutnya, bisa menjadi solusi agar proses replanting lebih efisien dan ramah lingkungan.
“Underplanting tidak disarankan. Penebangan harus dilakukan total menggunakan metode mekanisasi yang aman dan ramah lingkungan,” ujarnya.
Dalam sesi teknisnya, Andy mengingatkan pentingnya ketelitian petani dalam menentukan jarak tanam dan sistem pancang. Kesalahan sederhana dalam tata tanam bisa berdampak besar terhadap hasil panen karena mempengaruhi sirkulasi cahaya dan kerapatan tanaman. Ia menekankan bahwa pola tanam harus dihitung menggunakan rumus teknis bukan dilakukan secara asal-asalan.
“Jangan sampai salah pancang. Di lapangan, banyak yang menanam asal kiri-kanan tanpa perhitungan, akibatnya nanti harus dibongkar ulang. Hal sederhana seperti ini bisa dihindari jika petani mengikuti norma kerja yang benar,” jelas Andy.
Ia menambahkan bahwa kondisi tanah di Kapuas Hulu memiliki lapisan organik yang sangat baik dan menjadi modal besar untuk pengembangan sawit berkelanjutan. Namun tanpa pengelolaan tanah yang benar, potensi tersebut tidak akan optimal. Petani disarankan menanam tanaman penutup tanah (LCC) untuk menjaga kesuburan tanah sekaligus mengurangi erosi.
“Tanah di Kapuas Hulu bagus sekali, apalagi kalau didukung dengan tanaman LCC. Idealnya penanaman LCC sekitar 70 persen karena tidak semua area bisa tertutup sempurna,” tambahnya.
Menurut Andy, keberhasilan kebun sawit juga ditentukan oleh manajemen pemupukan yang baik. Ia menjelaskan bahwa pupuk NPK yang banyak digunakan petani merupakan bahan mentah sehingga tidak bisa langsung diserap tanaman tanpa proses yang benar. Oleh karena itu, pemahaman terhadap pengaplikasian menjadi hal penting agar pupuk bekerja efektif.
“Pupuk itu harus dicek dulu kadarnya karena itu penting. Tanaman menyerap unsur yang tersedia dan NPK itu bahan mentah jadi harus diproses dulu untuk dapat diserap,” ujarnya.
Andy juga menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit Ganoderma boninense yang dikenal sebagai penyakit akar paling berbahaya di perkebunan sawit. Meski hingga kini Kapuas Hulu relatif masih aman, kewaspadaan tetap harus dijaga agar penyakit tersebut tidak menyebar seperti di wilayah lain.
“Mungkin di Kapuas Hulu belum ada Ganoderma karena masih baru, tapi di daerah lain penyakit ini sudah menjadi momok besar. Sampai sekarang belum ada obat pastinya, jadi lebih baik mencegah daripada mengobati,” tegas Andy.
PPKS mendorong petani untuk intensifikasi, yaitu dengan meningkatkan produktivitas lahan yang sudah ada melalui perbaikan teknik budidaya. Menurut Andy, dengan penerapan prinsip agronomi yang baik potensi hasil kebun rakyat bisa mencapai 28 ton TBS per hektar per tahun.
“Kita bisa mencapai produktivitas tinggi dengan intensifikasi. Itu inti dari sawit berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam penutupnya, Andy menekankan bahwa sawit berkelanjutan tidak hanya soal peningkatan produktivitas tetapi juga mencakup keseimbangan antara ekonomi, sosial, dan lingkungan. Tiga pilar penting sawit modern adalah profit (keuntungan ekonomi), people (kesejahteraan masyarakat), dan planet (kelestarian lingkungan).
“Profit pasti akan datang kalau dikelola dengan benar. Tapi sawit juga harus berpihak pada people dan menjaga planet. Tidak boleh ada perusakan lingkungan, tidak boleh ada konflik sosial, dan produktivitas harus terus ditingkatkan,” tegasnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan kapasitas petani, PPKS membuka kesempatan bagi kelompok tani dan pemerintah daerah untuk melakukan pelatihan dan penyuluhan gratis. Andy berharap petani Kapuas Hulu dapat terus belajar dan memperbaiki praktik budidaya agar sawit rakyat semakin produktif dan berdaya saing.
“Kami siap diundang kapan saja. Sawit rakyat harus maju dengan ilmu, bukan sekadar menanam,” pungkas Andy.