Ditopang CPO, Nilai Ekspor Pertanian Indonesia Tembus US$2,59 Miliar di Semester I 2026

Ditopang CPO, Nilai Ekspor Pertanian Indonesia Tembus US$2,59 Miliar di Semester I 2026

Jakarta, mediaperkebunan.id - Sektor pertanian Indonesia terus mencatatkan tren positif pada paruh pertama tahun ini. Penguatan harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di pasar global menjadi motor utama yang mendongkrak performa ekspor nasional sepanjang Januari hingga Juni 2026.

Dilansir dari laman resmi KEMENTAN, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor akumulatif dari gabungan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencapai US$2,59 miliar pada semester I 2026. Angka tersebut tumbuh 1,84 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Secara khusus untuk bulan Juni 2026, kontribusi pengiriman komoditas pertanian dan sejenisnya ke luar negeri tercatat menyumbang nilai sebesar US$485,8 juta.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa pergerakan positif ini tidak lepas dari melambungnya harga CPO di pasar internasional.

"Kenaikan harga minyak sawit mentah di pasar global menjadi salah satu faktor kunci yang mendorong peningkatan nilai ekspor Indonesia. Sepanjang Januari–Juni 2026, nilai ekspor CPO beserta produk turunannya tumbuh 7,32 persen year-on-year," ujar Ateng dalam pemaparannya pada Berita Resmi Statistik (BRS) BPS di Jakarta.

Minyak sawit dan produk turunannya yang tergolong dalam kelompok lemak serta minyak hewani/nabati (kode HS15) terbukti menjadi penopang utama perdagangan luar negeri Indonesia.

BPS mencatat total nilai ekspor nasional pada semester I 2026 menyentuh US$140,81 miliar (naik 4,13 persen), di mana ekspor nonmigas berkontribusi sebesar US$134,58 miliar (naik 4,90 persen).

Di antara komoditas andalan nonmigas:

- CPO & Turunannya: Merekam pertumbuhan tertinggi mencapai 7,32 persen.

- Batu Bara: Hanya mampu tumbuh tipis sebesar 0,63 persen.

- Besi & Baja: Mengalami penurunan tipis sebesar 0,16 persen.

Kombinasi dari ketiga komoditas unggulan ini menopang hingga 28,30 persen dari keseluruhan total ekspor nonmigas Indonesia selama enam bulan pertama tahun 2026. Secara bulanan pada Juni 2026 saja, ekspor sektor HS15 melonjak pesat hingga 10,45 persen, seirama dengan penguatan harga sawit dunia.

Menanggapi capaian positif ini, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya konsistensi dalam menggenjot strategi hilirisasi produk pertanian. Menurutnya, status Indonesia sebagai penguasa pangsa pasar sawit dunia harus dimaksimalkan untuk memberi nilai tambah (added value), bukan sekadar mengirim bahan mentah.

"Indonesia adalah produsen sawit nomor satu di dunia. Bersama Malaysia, kita menguasai sekitar 80 persen pasokan CPO global. Oleh karena itu, hilirisasi CPO merupakan senjata strategis kita," tegas Mentan Amran.

Kementerian Pertanian berkomitmen untuk terus memperkuat rantai industri hilir domestik. Langkah ini diharapkan tidak hanya melipatgandakan perolehan devisa negara, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan para petani di tanah air.