Medan, mediaperkebunan.id - Pemahaman mengenai prinsip dan kriteria Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) perlu dibarengi dengan pengalaman penerapan di lapangan. Pendekatan tersebut diterapkan dalam Pelatihan Implementasi ISPO bagi Pekebun yang digelar PT Koompasia Enviro Institute melalui Program SDM PKS dengan dukungan BPDP dan Ditjenbun.
Pelatihan yang berlangsung pada 10–15 Agustus 2026 di Hotel AIHO Medan tersebut diikuti oleh 87 pekebun swadaya asal Aceh Singkil yang terbagi dalam tiga angkatan. Tidak hanya mendapatkan materi di dalam kelas, peserta juga mengikuti diskusi interaktif, praktik, serta kunjungan lapang ke salah satu lembaga pekebun yang telah menerapkan prinsip dan kriteria ISPO.
Kegiatan tersebut menjadi sarana bagi pekebun untuk memahami secara lebih konkret berbagai hal yang perlu dipersiapkan dalam penerapan ISPO, sekaligus melihat langsung bagaimana prinsip dan kriteria tersebut diterapkan oleh lembaga pekebun di lapangan.
Kepala Bidang PPSDMPP Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Mukhlis, S.P., M.A., mengatakan pemenuhan prinsip dan kriteria ISPO masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pekebun swadaya di Aceh.
“Pelatihan ini menjadi salah satu jawaban untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan pekebun dalam menghadapi tuntutan ISPO,” ujarnya.
Direktur PT Koompasia Enviro Institute, Henry Marpaung, menjelaskan bahwa pelatihan tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan peserta mengenai ISPO. Lebih jauh, kegiatan dirancang untuk melahirkan petani champion yang dapat menjadi penggerak penerapan ISPO di wilayahnya masing-masing.
“Peserta diharapkan mampu membawa pengetahuan yang diperoleh kembali ke lembaga pekebun masing-masing dan menjadi penggerak menuju sertifikasi ISPO,” katanya.
Menurutnya, keberhasilan implementasi ISPO di tingkat pekebun membutuhkan peran aktif dari individu yang memiliki pemahaman dan mampu meneruskan pengetahuan tersebut kepada anggota lembaga pekebun lainnya.
Hal serupa disampaikan Plt. Kepala Dinas Perkebunan Aceh Singkil, Nirwana Angkat. Ia menilai pelatihan tersebut menjadi “penyejuk dahaga” bagi para pekebun yang selama ini membutuhkan pemahaman yang lebih praktis mengenai berbagai tuntutan dalam penerapan ISPO.
Metode pembelajaran interaktif menjadi salah satu pendekatan yang digunakan dalam pelatihan. Peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga diberikan ruang untuk berdiskusi, berbagi pengalaman serta mengamati penerapan ISPO secara langsung.
Master Trainer ISPO Koompasia, Anggiat Marpaung, mengatakan praktik lapangan diperlukan agar peserta dapat menghubungkan materi yang diperoleh selama pembelajaran dengan kondisi nyata di lapangan.
“Peserta diajak berdiskusi, menyampaikan pengalaman dan melihat langsung penerapan prinsip dan kriteria ISPO di lapangan. Dengan praktik lapang, teori yang dipelajari menjadi lebih konkret dan mudah diterapkan,” jelas Anggiat.
Pendekatan tersebut mendapat respons positif dari peserta. Salah seorang pekebun, Sahdi, mengatakan pengalaman melihat langsung implementasi ISPO membuatnya lebih memahami berbagai persiapan yang diperlukan untuk menuju sertifikasi.
“Setelah melihat langsung penerapan ISPO, kami menjadi lebih paham apa yang harus dipersiapkan. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk membawa pengalaman tersebut ke Aceh Singkil,” ujarnya.
Pelatihan implementasi ISPO ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas pekebun swadaya, khususnya dalam memahami dan menerapkan prinsip serta kriteria ISPO di tingkat kelembagaan.
Pembelajaran yang menggabungkan teori, diskusi dan praktik lapangan diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh kepada peserta mengenai proses menuju sertifikasi. Pengetahuan tersebut selanjutnya dapat dibawa kembali ke Aceh Singkil untuk diterapkan dan dibagikan kepada anggota lembaga pekebun masing-masing.
Melalui program tersebut, BPDP, Ditjenbun dan Koompasia Enviro Institute mendorong penguatan kapasitas pekebun sekaligus menyiapkan pekebun champion yang mampu menjadi motor penggerak di tingkat lembaga. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat kesiapan pekebun menuju sertifikasi ISPO sekaligus memperkuat penerapan tata kelola kelapa sawit yang berkelanjutan.