2022, 2 Maret
Share berita:

Bekasi, Mediaperkebunan.id

Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan yang memiliki propek paling cerah dan memiliki nilai keberlanjutan yang tinggi. Komoditas ini juga menghadapi banyak tantangan seperti tuduhan penyebab deforestasi, diskriminasi perdagangan secara global dan lain-lain. Edwin Syahputra Lubis, Direktur PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit) menyatakam hal ini pada webinar “Peran Generasi Muda Menghadapi Black Campaign Kelapa Sawit” yang diselenggarakan Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi.

Ketika BPDPKS dan Kementerian Komunikas dan Informasi tanggal 16 September 2019 meresmikan kampanye positif kelapa sawit dengan #SawitBaik di medsos, sampai pukul 17 September 2019 pukul 00:00 dihasilkan 14.848 cuitan Twitter. PPKS melakukan sentiment analysis di Twitter yang menunjukkan sentimen negatif sangat dominan. Penyebabnya adalah timing peluncuran yang bersamaan dengan berita karhutla di Riau dan influencer yang mempengaruhi hastag ini.

Karena itu perlu generasi muda sebagai duta kelapa sawit Indonesia yang mengkampanyekan sawit baik. Generasi muda ini adalah Millenial yang lahir tahun 1981-1996, perkiraan usia sekarang 25-40 tahun dan Generasi Z yang lahir tahun 1997-2012, perkiraan usia sekarang 9-24 tahun. Jumlah Millenial dan Gen Z mencapai 54% dari 270,2 juta jiwa penduduk Indonesia atau 144,31 juta jiwa.

“Kelapa sawit saat ini menyerap 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 12 juta tidak langsung jadi ada 16,2 juta jiwa. Bila diasumsikan 54% merupakan Millenial dan Gen Z maka ada 8,7 juta jiwa yang bekerja pada kelapa sawit. Maka seharusnya ada 8,7 juta generasi muda yang menjadi duta sawit Indonesia,” kata Edwin.

PPKS telah hadir selama hampir 105 tahun dalam mengawal eksistensi komoditas kelapa sawit hingga saat ini. PPKS telah berkontribusi nyata mendukung keberlanjutan perkebunan kelapa sawit Indonesia melalui produksi varietas-varietas unggul, hilirisasi produk sawit, riset lahan, edukasi kultur teknis, riset sosial ekonomi dan lain-lain.

“PPKS akan terus mengembangkan riset kelapa sawit untuk menghasilkan paket-paket teknologi melaui peningkatan produktivitas dalam kerangka intensifikasi dan efisiensi, pengembangan mekanisasi dan otomatisasi, pengembangan produk hilir dan mengkounter kampanye negatif terhadap kelapa sawit. Semuanya merupakan upaya untuk mewujudkan kelapa sawit Indonesia yang berkelanjutan,” kata Edwin lagi.

PPKS sudah melakukan penelitian 4.0 for Sustainable Palm Oil . Beberapa peneltian tersebut adalah penggunaan UAV dan kamera multispektral untuk memonitoring penyakit busuk batang di perkebunan kelapa sawit. Dengan model pengaplikasian random forest (RF) berpotensi memprediksi dan mengklasifikasi penyakit ini sehingga bisa menghitung potensi penurunan produksi, waktu yang tepat untuk replanting dan perawatan tanaman untuk menghindari infeksi penyakit.

Integrasi data pengindraan jauh, WebGIS dan Early Warning System Digital hama dan penyakit kelapa sawit sehingga bisa dihasilkan rekomendasi pengendalian dan waktunya. Pengembangan sistim data dini kerusakan gambut untuk perkebunan kelapa sawit berkelanjutan yang sudah berhasil merakit alat untuk mendeteksi titik air kritis, suhu dan konsentrasi CO2 di lahan gambut, juga informasi lebih cepat untuk meminimalisasi kerusakan tanaman, tanah gambut dan dampak yang lebih besar seperti kebakaran lahan.

Rekomendasi pemupukan berbasis aplikasi smartphone dengan aplikasi sistim pakar – OPA (Oil Palm Assistant) . Outputnya adalah app identifikasi kehijauan daun, app trossen telling, app rekomendasi pemupukan, app database iklim.