12 August, 2016

Memang benar Indonesia sebagai salah satu penghasil perkebunan terbesar di dunia, tapi jika tidak dijaga bukan tidak mungkin antara 5 -10 tahun lagi justru akan menjadi pengimpor terbesar.

Pengamat Perkebunan, Azawar Abubakar mengingatkan sebaikanya pemerintah jangan terlalu terlena dengan apa yang ada saat ini diantaranya yatu sebagai penghasil perkebunan 5 besar didunia seperti, kelapa sawit, kopi, kakao, kopi, lada, karet dan liannya.

Sebab, meskipun saat ini Indonesia sebagai penghasil hasil perkebunan minimal 5 besar didunia jika tidak atau minim perhatiannya, maka kedepan bukan lagi sebagai penghasil tapi lebih kepada sebagai pengimpor.

“Saat ini Indonesia menikmati posisi pentingnya dari perdagangan komoditas sawit, kakao, karet dan rempah. Tapi jika tidak dipelihara maka perlahan-lahan komoditas tersebut akan kehilangan pudarnya,” sindir Azwar kepada Menteri Pertanian yang hanya memikirkan padi, jagung dan kedelai (pajale).

Tidak hanya itu, menurut Azwar, yang namanya tanaman padi tanpa dihimbau ataupun dibina petani tetap akan melakukan penanaman dengan baik. Hal ini mengingat tanaman padi adalah tanaman yang berurusan dengan perut.

“Jadi apapun kondisinya petani tetap akan melakukan tanam. Hal tersebut berbeda konsisinya dengan tanaman perkebunan yang memang sebagai tanaman penghasil devisa. Asing akan menilai dari apa yang dihasilkan. Semakin baik kualitasnya maka semakin baik pula yang yang diberikannya,” jelas Azwar. Sebab tanaman pangan adalah tanaman yang memang dibutuhkan,”

Sebab, menurut catatannya dari semua komoditas perkebunan mungkin hanya kelapa sawit yang produksinya meningkat, sedangkan komoditas lainnya cenderung stagnan bahkan ada beberapa yang justru menurun, seperti karet. Hal ini karena kurangnya perhatian kepada tanaman perkebunan

“Apa yang kita nikmati saat ini adalah apa yang telah dikembangkan para pendahulu kita, dan saat ini banyak tanaman perkebunan telah berumur tua,” kata Azwar.

Memang, Azwar menjabarkan, pemerintahan telah melakukan upaya perbaikan tanaman. Diantaranya yaitu melalui Gerakan Nasional (Gernas) Kakao, kemudian dilanjutkan dengan Kakao Berkelanjutan, tujuannya untuk meningkatkan produktivitas tanaman kakao. Kemudian ada Gerakan Penyelamatan Agribisnis Teh Nasional (GPATN), tujuannya untuk melakukan perbaikan tanaman yang telah lewat umur produktif. Hanya saja kembali lagi masalahnya ada pada keberlanjutan.

“Ada kebun yang kita bangun melalui kegiatan peremajaan namun tahun selanjutnya tidak lagi mendapatkan bantuan pemeliharaan. Sementara petani tidak memiliki dana untuk membeli sarana produksi. Kita perlu adanya perencanaan pengembangan perkebunan dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Lalu untuk apa yang sudah kita rancang sebaiknya dilaksanakan,” tutur Azwar.

Padahal, Azwar menjelaskan berdasarkan Undang-Undang bahwa pendapatan negara dari ekspor komoditas pekerbunan harus dikembalikan untuk pengembangan perkebunan. Lalu pertanyaannya berapa persen pemasukan negara dari ekspor yang kembali ke kebun?

“Maka dari itu, saya berharap Kemenetrian harus lebih jeli dalam menghadapi masalah pertanian (pajale). sebab yang dinamakan pertanian tidak hanya pangan, tapi perkebunan juga bagian dari pertanian,” pungkas Azwar. YIN

(Visited 248 times, 1 visits today)