10 May, 2016

Ingin menikmati suasana asri di tengah kebun kakao sebari, silahkan mengunjungi Agrowisata Lalombaa Cocoa Village di Kolaka sebari berkenalan dengan tanaman penghasil cokelat.

Memasuki kawasan ini pengunjungi sudah akan disuguhi pengalaman menaiki jembagan gantung. Selanjutnya memasuki kawasan wisata yang menghibur. Pada satu sisi terdapat ruang singgah yang berbentuk rumah adat.

Lalu tidak jauh dari situ terdapat gedung theater tempat menampilkan pertujukan seni masyarakat khususnya petani kakao. Tampilan theter ini seperti bangunan tua ala Yunani.

“Sementara di tempat lain terdapat unit pengolahan, dimana biji kakao difermentasi. Para pengunjung mendapatkan pengetahuan bahwa untuk menghasilkan aroma cokelat maka biji kakao harus difermentasi,” jelas Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara Bachrun Hanise.

Selain itu, lanjut Bachrun, pengunjung juga dapat menyaksikan bagaimana biji kakao diolah menjadi cokelat. Pada sisi lain terdapat gudang tempat penyimpan biji kakao sebelum dikirim ke pabrik.

Hal paling menarik yaitu terdapat wahana yang terintegrasi dengan kebun kakao yang tertata rapi dan cukup terawat seluas 300 ha. “Pada saat musim panen, para pengunjungi akan dimanjakan dengan pohon yang penuh dengan buah berwarna merah dan hijau,” kata Bachrun.

Sementara itu, Bupati Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara Ahmad Safei menambahkan, agar masyarakat lebih mengenal terhadap tanaman kakao hingga menjadi cokelat yang bisa dikonsumsi areal agrowisata tersebut juga akan dilengkapi dengan galeri cokelat. Semacam ruang display yang menampilkan produk olahan cokelat yang menggunakan biji kakao dari Kolaka, juga wahana permainan, air mancur dan pusat kuliner makan.

“Sehingga tempat ini cocok dikunjungi bersama keluarga,” ucap Safei.

Melihat hal ini, Safei cukup bangga dengan adanya agrowisata kampung kakao. Sebab dengan adanya kampung kakao ini bisa dijadikan education center (pusat pembelajaran) pertama di Sulawesi yang berbasis kakao dengan target pengujungi turis domestic maupun luar negeri.

Artinya, melalui kampung kakao ini maka pengujung mancanegara akan lebih mngenal bahwa kakao di Indonesia adalah kakao terbaik. Sehingga dalam hal ini di kampung kakao juga akan dibangun dibangun resort, dengan fasilitas adalah pengalaman menikmati back to nature bersama petani kakao. Bahkan juga akan dibangun penginapan bagi parang pengunjung yang ingin bermalam di kampung kakao tersebut.

“Selain reserot rencananya akan dibangun homestay dengan memanfaatkan rumah warga yang nantinya akan direnovasi” ucap Safei.

Lebih lanjut, petani kakao asal Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara Baso menambahkan adapun dengan adanya kebun yang menjadi bagian dari Agrowisata Kampung Kakao, maka petani akan sangat diuntungkan dengan agrowisata ini. Sebab dengan luas kebun kurang lebih 2 hektar yang produktivitas mencapai 2 ton per hektar per tahun bisa menjadi contoh bagi masyarakat lain.

“Jika tepat musim panen maka pengunjung dapat melihat bagaimana pohon-pohon kakao penuh dengan buah. Tentu ini akan menjadi pengalaman yang menarik,” pungkas Baso. HS

(Visited 432 times, 1 visits today)