2nd T-POMI
2022, 30 Maret
Share berita:

Bandung, mediaperkebunan.id – Ety Sumiati, biasa disapa Nenek Ety adalah Ketua Kelompok Tani Kopi Wanoja, Desa Laksana Maju Bandung, dimana salah satu dari bagian korporasi JPLM yang ada di Bandung, mengapresiasi bantuan program Kementerian Pertanian khususnya Korporasi Petani.

“Dengan adanya korporasi ini, memberikan fasilitasi kepada kami untuk semakin maju dan berkembang, fasilitas yang kami terima antara lain pelatihan milenial, pelatihan ekspor, alat pasca panen atau sarana prasarana lainnya. Dengan bergabungnya kelompok tani ke koperasi ini juga menambah semangat kelompok tani kami dan tentunya memberikan banyak manfaat, petani tidak akan bimbang karena kepastian akses pasar kita aman jelas baik harga ceri, gabah maupun greenbean, harga pasar terbangun dan terkendali sesuai standar atau diatas harga pasar aman. Selain itu juga produk semakin banyak dan berkembang serta membuka lapangan kerja atau memberdayakan masyarakat setempat,” papar Nenek Ety.

Lebih lanjut, Nenek Ety menuturkan, Kelompok Tani Kopi Wanoja telah berdiri sejak tahun 2012, dan mulai bergabung korporasi JPLM khususnya Koperasi Walama Wanoja Kaksana Maju di tahun 2020.

“Saat ini kelompok tani kami sebanyak 65 orang, semula 55 orang, semakin bertambah dengan berjalannya waktu, mereka melihat kegiatan kami jadi semakin tertarik sehingga anggota kami kian bertambah. Sedangkan untuk luas kebun keseluruhan Kelompok Tani Wanoja seluas 96 ha, produksi yang kita olah tahun lalu sebanyak 20 ton greenbean,” papar Nenek Ety.

Di Kelompok Kelompok Tani Kopi Wanoja, Nenek Ety mengakui, “tentunya kami bina, mulai dari budidaya hingga panen, kita kasih benih tanaman, dan lainnya. Untuk jenis kopi kami yaitu kopi arabika, dan telah mengirim kopi ke beberapa negara, seperti Dubai, Inggris, Eropa, Timur Tengah, dan lainnya.”

Baca Juga:  11 Varietas Baru Tanaman Perkebunan Dilepas

Nenek Ety pun menerangkan, jika dilihat dari ciri khas tertentu dibandingkan dari koperasi lain, sementara ini Kelompok Tani Kopi Wanoja proses kopi specialty. “Akan tetapi tidak menutup kemungkinan dengan bergabungnya kelompok tani yang lain dengan korporasi, kedepan bisa juga proses kopi reguler, karena didukung alat sarana prasarana percepatan produksi yang menunjang dari koperasi tersebut,” jelas Nenek Ety.

Adapaun kenapa kopi dipilih sebagai komoditas yang dibudidayakannya, Nenek Ety mengungkapkan, karena tanaman lain musiman dan ada yang bisa merusak lahan hutan, kalau dengan tanaman kopi ini justru erosi tanah atau banjir bisa dikendalikan.

Tanaman kopi merupakan tanaman tahunan, banyak diminati pasar global, peluang bisnis yang cukup tinggi dan menguntungkan karena termasuk tren gaya hidup, bisa meningkatkan ekonomi keluarga, menghidupi atau memenuhi kebutuhan.

“Pandemi Covid-19 tentunya memberikan dampak, namun kami bersyukur masih bisa bertahan dan tidak sampai memberhentikan pegawai. Selain penjualan offline, kami juga terbantu dengan penjualan melalui online seperti tokopedia, shopee. Harga bervariasi tergantung proses kopinya, ada natural ada honey. Harga honey kopi, black honey, golden honey dan lainnya berbeda-beda, sebagai salah satu contoh untuk harga honey Rp. 135.000,” ungkap Nenek Ety.

Lebih lanjut, Nenek Ety merasa bangga dengan adanya petani milenial yang terjun ke kopi,termasuk gabung di dalam Kelompok Tani Kopi Wanoja. Sehingga dalam hal ini memudahkan penjualan, processing atau pemasaran juga.

Satrea, petani milenial dari Kelompok Tani Kopi Wanoja dan Koperasi Walama Wanoja Laksana Maju, bagian dari korporasi JPLM mengatakan bahwa, pihaknya merasa bersyukur dengan program Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian (Kementan) ini.

Sebab dengan adanya bantuan seperti pendampingan, sarana dan prasarana untuk mengolah kopi menjadi lebih baik atau sesuai keinginan pasar serta membantu membukakan pasar hingga didorong untuk mendapatkan kredit usaha rakyat (KUR) maka koporasi tani ini bisa lebih maju lagi.

Baca Juga:  Pemerintah Komitmen Terus Dorong PSR

“Kita berterimakasih atas bantuan berupa mesin pulper huler serta pengeringan sehingga produksi kami menjadi lebih baik dari sebelumnya,” ucap Satrea.

Sementara itu, Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar, Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian (Kementan), Hendratmojo Bagus Hudoro mengaku siap untuk terus mendorong produktivitas kopi. Hal ini karena permintaan kopi baik didalam ataupun di luar negeri terus meningkat, terlebih ditenga pandemi seperti saat ini.

“kita lihat saja, dengan bermunculan kafe-kafe dan warung kopi yang ada saat ini dengan menu aneka kopi nusantara membuktikan bahwa kebuuhan kopi terus meningkat, belum lagi pasar ekspor kopi yang semakin luas,” pungkas Bagus.